Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Anjlok
Senin, 06 Maret 2017 - 23:21 WIB
Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Anjlok
A
A
A
LABUHANBATU - Dalam kurun waktu sebulan terakhir ini, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mengalami penurunan cukup drastis, dari sekitar Rp2.000/kg menjadi Rp1.700/kg ditingkat pengumpul.
Perbedaan harga ditingkat petani justru harga jual jauh lebih rendah, antara Rp1.450/kg sampai Rp1.500/kg. Bahkan masih ada di bawah harga terendah itu, jika lokasi panen jauh dari tempat pengumpul.
Seorang pemilik usaha pengumpulan (RAM) TBS buah sawit di Aek Nabara Kecamatan Bilah Hulu Azmain mengatakan, sekitar sebulan lalu harga TBS buah sawit di pabrik masih dapat dijual sedikit di atas Rp2.000/kg. Sedangkan ditingkat pengumpul, dia mengaku masih sanggup membeli buah sawit Rp2.000/kg pada bulan lalu.
"Sekarang sudah jauh kali turunnya. Kami bisa beli kualitas buah yang baik sekitar Rp1.700/kg," kata Azmain, Senin (6/3).
Menurutnya, ketika harga buah sawit sebulan lalu mencapai Rp2.000/kg, alasan pihak pabrik, karena permintaan CPO meningkat akibat panen buah sawit mengalami penurunan produksi (Trak).
Padahal, saat ini juga kondisi hasil panen buah sawit, masih mengalami penurunan produksi hingga 50% dari hasil panen normal. "Sekarang pun, buah sawit trak juga. Tapi harganya bisa anjlok," tuturnya yang juga merupakan anggota DPRD Labuhanbatu itu.
Terpisah, pemilik RAM Benny juga hanya mampu membeli buah sawit dari petani yang langsung datang ke RAM miliknya seharga Rp1.700/kg.
"Turunnya harga buah sawit itu karena pabrik beralasan harga CPO turun di pasar internasional. Dampaknya ke petani juga," tuturnya.
Idealnya, kata Benny, harga sawit Rp2.000/kg ditingkat petani agar perawatan perkebunan sawit bisa maksimal dan pendapatan petani dapat seimbang. Jika harga di bawah Rp2.000/kg, justru petani belum bisa melakukan perawatan yang cukup termasuk pemberian pupuk terhadap tanaman sawit.
Sementara, pemilik kebun Suroso menyatakan, turunnya harga buah sawit di daerah ini mempengaruhi kepada perawatan. Karena, jika harga buah sawit lebih tinggi, mereka juga dapat lebih fokus untuk melaksanakan perawatan, seperti porsi pemupukan lebih ditingkatkan ketimbang harga sawit lebih rendah.
"Termasuk juga perawatan mengimas rumput dikurangi. Itu kan butuh biaya. Sekarang berhenti dulu, sambil menunggu harga buah sawit sampai membaik," tandasnya.
Perbedaan harga ditingkat petani justru harga jual jauh lebih rendah, antara Rp1.450/kg sampai Rp1.500/kg. Bahkan masih ada di bawah harga terendah itu, jika lokasi panen jauh dari tempat pengumpul.
Seorang pemilik usaha pengumpulan (RAM) TBS buah sawit di Aek Nabara Kecamatan Bilah Hulu Azmain mengatakan, sekitar sebulan lalu harga TBS buah sawit di pabrik masih dapat dijual sedikit di atas Rp2.000/kg. Sedangkan ditingkat pengumpul, dia mengaku masih sanggup membeli buah sawit Rp2.000/kg pada bulan lalu.
"Sekarang sudah jauh kali turunnya. Kami bisa beli kualitas buah yang baik sekitar Rp1.700/kg," kata Azmain, Senin (6/3).
Menurutnya, ketika harga buah sawit sebulan lalu mencapai Rp2.000/kg, alasan pihak pabrik, karena permintaan CPO meningkat akibat panen buah sawit mengalami penurunan produksi (Trak).
Padahal, saat ini juga kondisi hasil panen buah sawit, masih mengalami penurunan produksi hingga 50% dari hasil panen normal. "Sekarang pun, buah sawit trak juga. Tapi harganya bisa anjlok," tuturnya yang juga merupakan anggota DPRD Labuhanbatu itu.
Terpisah, pemilik RAM Benny juga hanya mampu membeli buah sawit dari petani yang langsung datang ke RAM miliknya seharga Rp1.700/kg.
"Turunnya harga buah sawit itu karena pabrik beralasan harga CPO turun di pasar internasional. Dampaknya ke petani juga," tuturnya.
Idealnya, kata Benny, harga sawit Rp2.000/kg ditingkat petani agar perawatan perkebunan sawit bisa maksimal dan pendapatan petani dapat seimbang. Jika harga di bawah Rp2.000/kg, justru petani belum bisa melakukan perawatan yang cukup termasuk pemberian pupuk terhadap tanaman sawit.
Sementara, pemilik kebun Suroso menyatakan, turunnya harga buah sawit di daerah ini mempengaruhi kepada perawatan. Karena, jika harga buah sawit lebih tinggi, mereka juga dapat lebih fokus untuk melaksanakan perawatan, seperti porsi pemupukan lebih ditingkatkan ketimbang harga sawit lebih rendah.
"Termasuk juga perawatan mengimas rumput dikurangi. Itu kan butuh biaya. Sekarang berhenti dulu, sambil menunggu harga buah sawit sampai membaik," tandasnya.
(izz)
Lihat Juga :