Rekam Jejak Dua Calon Ketua OJK Bikin Pelaku Pasar Tenang
Kamis, 30 Maret 2017 - 06:08 WIB
Rekam Jejak Dua Calon Ketua OJK Bikin Pelaku Pasar Tenang
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memilih 14 calon Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan diserahkan ke DPR untuk nantinya ditentukan tujuh orang terpilih yang akan memimpin OJK periode 2017-2022. Terdapat dua nama yakni Sigit Pramono dan Wimboh Santoso yang bersaing sebagai calon Ketua DK OJK.
Pengamat menilai rekam jejak dan pengalaman kedua calon membuat pelaku pasar cukup yakin peran regulator sektor keuangan akan baik-baik saja. Namun isu konglomerasi perbankan membuat pimpinan OJK juga harus menguasai isu keuangan non bank. Terlebih saat ini anak usaha perbankan untuk fintech kian marak dalam bentuk modal ventura.
Chief Economist di SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC) Eric Sugandi menilai kedua calon Ketua DK OJK yang diajukan pansel ke presiden sudah memiliki rekam jejak yang kuat di perbankan. Rekam jejak tersebut menjadi bukti pengalaman dan penguasaan para calon di sektor industri keuangan. Di satu sisi Sigit Pramono pernah menjabat Ketua Perbanas.
Sementara Wimboh Santoso memiliki pengalaman di Bank Indonesia. “Keduanya saya pikir sudah punya track record yang kuat di dunia perbankan,” ujar Eric saat dihubungi di Jakarta.
Lebih lanjut dia mengakui sulit untuk menentukan bagaimana ekspektasi pelaku pasar terhadap calon Ketua DK OJK. Tapi meskipun demikian dirinya melihat pelaku pasar dapat menerima siapapun yang menjadi Ketua DK OJK.
“Saya pikir para pelaku pasar bisa menerima siapapun di antara keduanya sebagai Ketua DK OJK karena memiliki pengalaman dan track record yang baik. Kalau saya netral saja tidak menjagokan salah satunya,” ujarnya.
Sementara pengamat perbankan Paul Sutaryono juga memiliki analisisnya sendiri. Menurutnya kedua calon memang memiliki kompetensi tinggi di bidang perbankan nasional dan internasional. Namun perbedaannya, Wimboh lebih banyak berkarya di bank sentral. Artinya ini lebih ke bidang pengawasan dan moneter.
Sedangkan Sigit hampir seluruh pengalamannya di operasional perbankan meski pernah di Perbanas. “OJK lebih fokus di pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan, baik bank maupun non bank. Keduanya memadai untuk menjadi nahkoda OJK,” ujar Paul kemarin.
Namun dia juga mengingatkan tantangan OJK kedepannya wajib meningkatkan manajemen risiko konglomerasi keuangan. Bukan hanya isu perbankan semata saja. Hal ini dikarenakan banyak bank memiliki perusahaan anak mulai dari perusahaan asuransi, sekuritas, hingga modal ventura.
Pengamat menilai rekam jejak dan pengalaman kedua calon membuat pelaku pasar cukup yakin peran regulator sektor keuangan akan baik-baik saja. Namun isu konglomerasi perbankan membuat pimpinan OJK juga harus menguasai isu keuangan non bank. Terlebih saat ini anak usaha perbankan untuk fintech kian marak dalam bentuk modal ventura.
Chief Economist di SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC) Eric Sugandi menilai kedua calon Ketua DK OJK yang diajukan pansel ke presiden sudah memiliki rekam jejak yang kuat di perbankan. Rekam jejak tersebut menjadi bukti pengalaman dan penguasaan para calon di sektor industri keuangan. Di satu sisi Sigit Pramono pernah menjabat Ketua Perbanas.
Sementara Wimboh Santoso memiliki pengalaman di Bank Indonesia. “Keduanya saya pikir sudah punya track record yang kuat di dunia perbankan,” ujar Eric saat dihubungi di Jakarta.
Lebih lanjut dia mengakui sulit untuk menentukan bagaimana ekspektasi pelaku pasar terhadap calon Ketua DK OJK. Tapi meskipun demikian dirinya melihat pelaku pasar dapat menerima siapapun yang menjadi Ketua DK OJK.
“Saya pikir para pelaku pasar bisa menerima siapapun di antara keduanya sebagai Ketua DK OJK karena memiliki pengalaman dan track record yang baik. Kalau saya netral saja tidak menjagokan salah satunya,” ujarnya.
Sementara pengamat perbankan Paul Sutaryono juga memiliki analisisnya sendiri. Menurutnya kedua calon memang memiliki kompetensi tinggi di bidang perbankan nasional dan internasional. Namun perbedaannya, Wimboh lebih banyak berkarya di bank sentral. Artinya ini lebih ke bidang pengawasan dan moneter.
Sedangkan Sigit hampir seluruh pengalamannya di operasional perbankan meski pernah di Perbanas. “OJK lebih fokus di pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan, baik bank maupun non bank. Keduanya memadai untuk menjadi nahkoda OJK,” ujar Paul kemarin.
Namun dia juga mengingatkan tantangan OJK kedepannya wajib meningkatkan manajemen risiko konglomerasi keuangan. Bukan hanya isu perbankan semata saja. Hal ini dikarenakan banyak bank memiliki perusahaan anak mulai dari perusahaan asuransi, sekuritas, hingga modal ventura.
(akr)