ADB: Pertumbuhan Ekonomi Asia Melambat, Asia Tenggara Pesat

Kamis, 06 April 2017 - 17:59 WIB
ADB: Pertumbuhan Ekonomi...
ADB: Pertumbuhan Ekonomi Asia Melambat, Asia Tenggara Pesat
A A A
MANILA - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyatakan pertumbuhan ekonomi Asia pada tahun ini tidak secepat yang diperkirakan. Penyebabnya ketidakpastian kebijakan di negara maju dan arus keluar modal (capital outflow).

Melansir dari Nikkei Asian Review, Kamis (6/4/2017), ADB yang bermarkas di Manila, Filipina, merilis outlook terbarunya. Dimana pertumbuhan ekonomi Asia diperkirakan melambat 0,1% menjadi 5,7% pada tahun 2017 dan 2018. Angka ini merupakan yang paling lambat sejak tahun 2001.

ADB yang terdiri dari 67 negara menyatakan pertumbuhan ekonomi China yang berkontribusi 60% bagi perekonomian Asia, akan melambat 0,2 poin menjadi 6,5% pada 2017 dan kemudian semakin lambat menjadi 6,2% pada 2018.

Perlambatan ekonomi China karena Beijing menggeser kebijakan ekonomi. Dari semula mengutamakan konsumsi, kini mendorong ke arah stabilitas keuangan, seperti menurunkan utang perusahaan yang tinggi dan menguatkan perbankan mereka.

Menurut ADB, perlambatan ekonomi China akan membenani pertumbuhan ekonomi Asia Timur. Begitu pula dengan pertumbuhan Korea Selatan yang melambat 0,2 poin menjadi 2,5% pada 2017. Sementara pertumbuhan ekonomi Taiwan diperkirakan meningkat 0,3 poin menjadi 1,8%, berkat belanja pemerintah dalam mengangkat ekonomi lokal.

Sementara 30 negara Asia lainnya diperkirakan akan tumbuh lebih cepat pada tahun ini, karena didukung permintaan luar yang lebih tinggi akibat mulai pulihnya harga komoditas global.

ADB melihat India, negara ekonomi terbesar kedua di Asia, akan mengalami pertumbuhan ekonomi 7,4% tahun ini dan 7,6% pada tahun berikutnya. Hal ini disebabkan meningkatnya prospek bisnis dan investasi di Negeri Anak Benua, setelah pemerintah melakukan deregulasi dan reformasi pajak.

Bagaimana dengan kawasan Asia Tenggara? ADB menerawang bahwa kawasan ini akan tumbuh lebih cepat. “Dengan hasil pertanian, peningkatan ekspor, mulai stabilnya perekonomian dan industri, membuat ekonomi Asia Tenggara akan tumbuh lebih baik tahun ini,” tulis mereka.

Pertumbuhan ekonomi Vietnam akan meningkat dari 6,2% pada 2016 menjadi 6,5% pada tahun ini. Dan negara yang akan menerima manfaat dari mulai naiknya harga komoditas adalah Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

Namun Filipina yang sempat “mengaum” di tahun lalu, bahkan disebut-sebut macan ekonomi Asia baru, akan mengalami perlambatan ekonomi. Negerinya Rodrigo Duterte itu akan melambat dari 6,8% pada 2016 menjadi 6,4% di tahun ini. Sedangkan Thailand akan bangkit dari 3,2% pada 2016 menjadi 3,5% pada 2017.

ADB

Sementara itu, pemulihan harga minyak dunia memberi berkah bagi negara-negara Asia Tengah. Mereka akan mengalami pertumbuhan ekonomi 3,1% pada tahun ini dan meningkat 3,5% untuk 2018. Sebelumnya kawasan Asia Tengah yang terdiri dari negara-negara pecahan Uni Soviet, pertumbuhan ekonominya hanya 2,1% di 2016.

Adapun ekonomi wilayah Pasifik juga akan rebound di 2017, dengan Papua New Guinea yang pulih dari konstraksi. Negara tetangga ini akan mengambil untung dari sektor minyak dan gas.

Meski demikian, ADB tetap mewanti-wanti tentang kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat oleh Federal Reserve, yang akan mengganggu prospek ekonomi Asia. Tahun lalu, bank sentral AS menaikkan suku bunga overnight untuk ketiga kalinya sejak krisis keuangan global.

ADB memperingatkan bahwa lonjakan inflasi di AS baru-baru ini, bisa mendorong The Fed mempercepat laju pengetatan moneter, dan ekonomi Asia dengan utang perusahaan dan belanja rumah tangga yang tinggi rentan terhadap setiap guncangan keuangan tersebut.

“Adanya pergeseran kebijakan, terutama perdagangan di AS bisa menciptakan ketidakpastian bagi investasi bisnis dan pertumbuhan ekspor di negara-negara berkembang di Asia,” kata ADB.

Pengetatan moneter AS bisa mengirim mata uang Asia jatuh terhadap dolar dan perbaikan lebih lanjut di perekonomian AS akan memicu arus keluar modal dari Asia alias capital outflow. Mengantisipasi itu, ADB mendesak pemerintah negara-negara di Asia meningkatkan upaya dalam rangka mengurangi risiko sistemik.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Proyeksi ADB: Perdana...
Proyeksi ADB: Perdana dalam 3 Dekade, Pertumbuhan Asia Bakal Melewati China
Asia Tenggara Berpotensi...
Asia Tenggara Berpotensi Besar Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Dapat Angin Segar dari...
Dapat Angin Segar dari China, ADB Ramal Negara Berkembang Asia Mengakhiri 2023 Lebih Cerah
Perlindungan Alam di...
Perlindungan Alam di Asia Tenggara Berpotensi Tumbuhkan Ekonomi
5 Strategi Pemulihan...
5 Strategi Pemulihan Ekonomi ASEAN dari Dampak Covid-19
Pandemi Pacu Ekonomi...
Pandemi Pacu Ekonomi Digital Asia Tenggara Tembus Rp1.470 Triliun
Berita Terkini
Kelas Menengah Paling...
Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax, Ekonomi Bakal Kehilangan Penopangnya
11 menit yang lalu
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
10 jam yang lalu
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
10 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
10 jam yang lalu
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
10 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
11 jam yang lalu
Infografis
8 PTS Terbaik Indonesia...
8 PTS Terbaik Indonesia Masuk THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved