Trump: China Bukan Manipulator Mata Uang

Kamis, 13 April 2017 - 10:48 WIB
Trump: China Bukan Manipulator...
Trump: China Bukan Manipulator Mata Uang
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahannya tidak akan melabeli China sebagai manipulator mata uang, di tengah upaya menjalin kerja sama kedua negara. Selain itu Presiden juga membuka peluang pencalonan kembali Janet Yellen sebagai Gubernur Bank Sentral AS atau The Fed, meski sebelumnya Trump sempat melayangkan kritik keras.

Seperti dilansir BBC, Kamis (13/4/2017) pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. China sendiri telah dituduh AS menekan mata uang mereka yakni Yuan untuk membuat sektor ekspor lebih kompetitif.

Sebelum pemilu AS, Trump sempat mengibaratkan apa dilakukan China seperti 'memperkosa' dan berjanji akan memberikan label ke China sebagai manipulator mata uang pada hari pertama menjadi Presiden AS.

Hal itu memicu pembicaraan antara negara dan berpotensi dikeluarkannya sanksi oleh AS, meski pengamat memperingatkan bahwa hal itu hanya akan mendorong aksi balasan. Namun dalam sebuah wawancara terbaru dengan the Wall Street Journal, Trump mengatakan China tidak pernah memanipulator mata uang serta telah melakukan pencegahan pelemahan lebih lanjut.

"Saya pikir dolar kita sudah terlalu kuat dan sebagian besar adalah salahku karena orang memiliki keyakinan dalam diriku. Sangat sulit untuk bersaing ketika Ada memiliki dolar yang kuat dan negara-negara lain mendevaluasi mata uang mereka," ungkap Trump yang menambahkan bahwa USD yang kuat memiliki manfaat, tetapi pada akhirnya hanya akan menyakiti perekonomian AS.

Selain itu Trump juga seakan merivisi pernyataan sebelumnya terkait sosok Gubernur The Fed Yellen. Pengusaha eksentrik tersebut sempat mengecam Yellen dengan mengatakan kebijakan suku bunga rendah yang diterapkan Fed telah memberikan efek negatif.

Dia juga menegaskan tidak akan mencalonkan dirinya (Yellen) untuk priode kedua empat tahun mendatang yang bakal berakhir Februari 2018. Tetapi dalam wawancara kemarin waktu setempat, Trump mengaku senang dengan kebijakan suku bunga rendah serta menghormati Gubernur Fed.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
China Melemah! Disebut...
China Melemah! Disebut Tak Akan Menyalip Ekonomi AS Sampai 2080
China Kalahkan Amerika...
China Kalahkan Amerika Serikat sebagai Negara Terkaya di Dunia
Perusahaan China Makin...
Perusahaan China Makin Banyak Masuk Daftar Hitam AS
Bangun Ekonomi Konsumen...
Bangun Ekonomi Konsumen Skala Besar, China Buka Pasar Bagi Perusahaan Semua Negara
Berita Terkini
Manjakan Nasabah Premium,...
Manjakan Nasabah Premium, BRI dan Visa Luncurkan Kartu Kredit Infinite dengan Fasilitas Kelas Dunia
1 jam yang lalu
JEC Eye Hospitals &...
JEC Eye Hospitals & Clinics Raih Marketeers OMNI Brands of the Year 2026
1 jam yang lalu
Kolaborasi Strategis...
Kolaborasi Strategis Pegadaian dan Pupuk Kaltim: Langkah Nyata Menuju Indonesia Emas
1 jam yang lalu
Bank Bangkrut di Indonesia...
Bank Bangkrut di Indonesia Tambah Lagi, Izin Dicabut OJK Akibat Penyehatan Modal Gagal
1 jam yang lalu
Perusahaan APAC Berlomba...
Perusahaan APAC Berlomba Adopsi AI, Data Gudang Masih Jadi Hambatan
1 jam yang lalu
Pajak Digital Tembus...
Pajak Digital Tembus Rp52,85 Triliun per Mei 2026, Ini 4 Pilar Penopangnya
1 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved