BI Diprediksi Belum Akan Turunkan Suku Bunga
Kamis, 18 Mei 2017 - 11:44 WIB
BI Diprediksi Belum Akan Turunkan Suku Bunga
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi tidak akan mengubah suku bunga di level 4,75% menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, meski fundamental makro perekonomian terbesar di Asia Tenggara tampak kuat, tapi BI kemungkinan dalam posisi pasif.
"Tingkat inflasi Indonesia terus meningkat dan data ekonomi mulai stabil sehingga kenaikan suku bunga BI masih mungkin terjadi sebelum akhir tahun apabila pola ini terus bertahan," ungkap dia dalam riset di Jakarta, Kamis (18/5/2017).
Sementara menurutnya kejayaan dolar Amerika Serikat (USD) akan padam pekan ini, karena gejolak politik di Amerika Serikat (AS) mengancam prospek kebijakan fiskal pro-pertumbuhan. "Informasi bahwa Presiden Donald Trump berbagi intelijen rahasia dengan pemerintah Rusia telah merusak selera terhadap USD," jelasnya.
Situasi semakin buruk karena laporan terkini bahwa Trump meminta mantan Direktur FBI yang baru saja dipecat, James Comey, menghentikan investigasi terhadap mantan Penasihat Keamanan Nasional Michael Flynn. Demokrat semakin gencar menyuarakan bahwa Trump mengacaukan peradilan dan bahkan meminta agar Trump dipecat sehingga pemerintahan Trump bukan tidak mungkin berakhir lebih cepat.
Posisi bullish Dolar memang menjadi pilihan populer di antara investor sejak kemenangan Trump November lalu, tapi optimistis yang merosot begitu cepat mengenai implementasi proposal kebijakan fiskal dapat memicu perubahan sentimen. Ketidakpastian yang begitu kental seputar Trump dapat mendorong investor bearish jangka pendek Dolar untuk meninjau lebih dari sekadar ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan USD berpotensi semakin melemah.
Dari sisi teknikal, Indeks USD menghadapi tekanan jual yang signifikan pada grafik harian. Breakdown dan penutupan harian di bawah USD98 dapat menjadi pondasi bagi para penjual untuk membidik USD96.
"Tingkat inflasi Indonesia terus meningkat dan data ekonomi mulai stabil sehingga kenaikan suku bunga BI masih mungkin terjadi sebelum akhir tahun apabila pola ini terus bertahan," ungkap dia dalam riset di Jakarta, Kamis (18/5/2017).
Sementara menurutnya kejayaan dolar Amerika Serikat (USD) akan padam pekan ini, karena gejolak politik di Amerika Serikat (AS) mengancam prospek kebijakan fiskal pro-pertumbuhan. "Informasi bahwa Presiden Donald Trump berbagi intelijen rahasia dengan pemerintah Rusia telah merusak selera terhadap USD," jelasnya.
Situasi semakin buruk karena laporan terkini bahwa Trump meminta mantan Direktur FBI yang baru saja dipecat, James Comey, menghentikan investigasi terhadap mantan Penasihat Keamanan Nasional Michael Flynn. Demokrat semakin gencar menyuarakan bahwa Trump mengacaukan peradilan dan bahkan meminta agar Trump dipecat sehingga pemerintahan Trump bukan tidak mungkin berakhir lebih cepat.
Posisi bullish Dolar memang menjadi pilihan populer di antara investor sejak kemenangan Trump November lalu, tapi optimistis yang merosot begitu cepat mengenai implementasi proposal kebijakan fiskal dapat memicu perubahan sentimen. Ketidakpastian yang begitu kental seputar Trump dapat mendorong investor bearish jangka pendek Dolar untuk meninjau lebih dari sekadar ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan USD berpotensi semakin melemah.
Dari sisi teknikal, Indeks USD menghadapi tekanan jual yang signifikan pada grafik harian. Breakdown dan penutupan harian di bawah USD98 dapat menjadi pondasi bagi para penjual untuk membidik USD96.
(akr)
Lihat Juga :