Waspadai Tren Kenaikan Harga Ayam Saat Lebaran
Kamis, 01 Juni 2017 - 00:08 WIB
Waspadai Tren Kenaikan Harga Ayam Saat Lebaran
A
A
A
INDRAMAYU - Pemerintah diminta waspada terhadap tren kenaikan harga ayam saat Idul Fitri tahun ini, pasalnya kenaikan sudah mulai terjadi dari tingkat peternak. dialami Peternak Indramayu, saat lonjakan harga ayam potong dari distributor menjadi penyebab utama kenaikan harga ayam di pasaran sehingga akan sulit dikendalikan.
Para peternak dengan sistem close house di Kabupaten Indramayu, mulai melakukan panen ayam hidup untuk dipasok ke berbagai kota di Pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung, Kuningan hingga Cirebon. Saat memasuki bulan Ramadan seperti sekarang ini, para peternak ayam di daerah ikut membantu pasokan, mengingat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam.
Masing-masing peternak di daerah Indramayu menyiapkan sedikitnya 180 ton ayam pedaging yang siap untuk membantu memenuhi kebutuhan daging ayam selama bulan puasa. Di tengah lompatan permintaan konsumen, harga ayam di tingkat peternak mengalami kenaikan harga cukup signifikan.
Tercatat harga ayam hidup dari kalangan peternak di jual seharga Rp20.000 atau lebih mahal Rp4.000 dari harga sebelumnya sebesar Rp16.000 perkilogram. Para pengusaha ternak ayam mengaku terpaksa menaikan harga jual ayam saat bulan Ramadan, dengan alasan menutup kerugian. Sebabnya saat hari biasa harga jual peternak sangat rendah.
"Ketetapan harga maksimal untuk ayam dipasaran ini akan merugikan para peternak, hingga membuat usaha mereka di daerah gulung tikar. Kondisi ini terjadi akibat besarnya biaya operasional yang harus dikeluarkan para peternak, baik dalam proses penggemukan hingga operasional petugas kandang dipeternakan," terang salah seorang pengelola peternakan ayam, Andong.
Berdasarkan pantauan di pasar tradisional, untuk harga ayam potong memasuki hari kelima Ramadan telah menembus Rp35 ribu perkilogram, padahal dari tingkat peternak hanya Rp20 ribu. Mahalnya harga ayam potong di pasaran ini terjadi akibat banyaknya tangan yang terlibat, selama proses distribusi hingga produksi ayam.
Para peternak dengan sistem close house di Kabupaten Indramayu, mulai melakukan panen ayam hidup untuk dipasok ke berbagai kota di Pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung, Kuningan hingga Cirebon. Saat memasuki bulan Ramadan seperti sekarang ini, para peternak ayam di daerah ikut membantu pasokan, mengingat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam.
Masing-masing peternak di daerah Indramayu menyiapkan sedikitnya 180 ton ayam pedaging yang siap untuk membantu memenuhi kebutuhan daging ayam selama bulan puasa. Di tengah lompatan permintaan konsumen, harga ayam di tingkat peternak mengalami kenaikan harga cukup signifikan.
Tercatat harga ayam hidup dari kalangan peternak di jual seharga Rp20.000 atau lebih mahal Rp4.000 dari harga sebelumnya sebesar Rp16.000 perkilogram. Para pengusaha ternak ayam mengaku terpaksa menaikan harga jual ayam saat bulan Ramadan, dengan alasan menutup kerugian. Sebabnya saat hari biasa harga jual peternak sangat rendah.
"Ketetapan harga maksimal untuk ayam dipasaran ini akan merugikan para peternak, hingga membuat usaha mereka di daerah gulung tikar. Kondisi ini terjadi akibat besarnya biaya operasional yang harus dikeluarkan para peternak, baik dalam proses penggemukan hingga operasional petugas kandang dipeternakan," terang salah seorang pengelola peternakan ayam, Andong.
Berdasarkan pantauan di pasar tradisional, untuk harga ayam potong memasuki hari kelima Ramadan telah menembus Rp35 ribu perkilogram, padahal dari tingkat peternak hanya Rp20 ribu. Mahalnya harga ayam potong di pasaran ini terjadi akibat banyaknya tangan yang terlibat, selama proses distribusi hingga produksi ayam.
(akr)
Lihat Juga :