Momen Lebaran Tak Dongkrak Penjualan Industri Ritel
Selasa, 11 Juli 2017 - 21:09 WIB
Momen Lebaran Tak Dongkrak Penjualan Industri Ritel
A
A
A
SURABAYA - Industri ritel dalam semester pertama berjalan lesu. Maraknya bisnis online serta kondisi ekonomi yang masih belum stabil, menjadikan daya beli masyarakat kian melemah.
Kondisi ini membuat konsumen lebih selektif dalam berbelanja. Mereka memilih barang yang hanya diperlukan saja. Seretnya industri ritel menjadikan pelambatan ekonomi di berbagai sektor.
Data total sales hingga pertengahan Juni 2017 kalau dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, khusus minimarket mencatat pertumbuhan sebesar 7,8%. Sedangkan hypermarket justru terjun bebas sampai 2,5%.
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jatim April Wahyu Widati menuturkan, pertumbuhan yang terjadi di minimarket lebih disebabkan oleh ekspansi gerai, bukan karena kenaikan penjualan di setiap gerai yang sudah ada. Kondisi itu menjadi bukti melambatnya industri ritel.
Sampai semester pertama ada penambahan sekitar 30 gerai minimarket. "Nah itu yang menyumbang terhadap volume sales, jadi bukan murni pertumbuhan sales,'' ujar April ketika ditemui di Surabaya, Selasa (11/7/2017)
Ia menambahkan, momen puasa dan Lebaran yang harusnya bisa mendongkrak penjualan ternyata tak berjalan mulus. Sampai akhir Lebaran saja penjualan masih jauh dari ekspektasi para pelaku industri kreatif.
Padahal katanya, tahun-tahun sebelumnya kontribusi sales selama Lebaran mencapai 15% terhadap total satu tahun. Tapi itu tidak berlaku pada Lebaran tahun ini. Padahal para pelaku industri kreatif berharap besar pada puncak penjualan selama dua bulan terakhir ini. "Biasanya H-7 Lebaran penjualan bisa naik 30%, tahun ini tidak sama sekali. Dan itu terjadi di semua channel ritel modern,'' ucapnya.
Perkembangan produk yang dijual secara online terang dia sedikit banyak memang memberikan banyak pengaruh, ditambah dengan perubahan pola pembelian konsumen. Serta penurunan daya beli masyarakat yang disebabkan Lebaran yang bersamaan dengan tahun ajaran baru. Sehingga, konsumen lebih memprioritaskan biaya untuk kebutuhan pendidikan.
Selain itu, pola belanja konsumen sejak awal tahun sudah berubah. ''Dulu, konsumen belanja apa sesuai yang diinginkan. Bahkan kalau belanja tidak cukup satu buah, tapi sekarang mereka membeli sesuai yang diperlukan. Customer sangat selektif terhadap pembelian,'' katanya.
Kondisi tersebut juga diperparah dengan persaingan antar format ritel modern juga makin ketat. Tidak lagi dalam satu kategori usaha saja, tapi sudah lintas format. Ia mencontohkan, persaingan antara hypermarket dengan minimarket.Pada 2-3 tahun lalu katanya, hypermarket bisa menawarkan harga paling kompetitif karena ditunjang besarnya volume barang yang diambil dari pemasok.
Kini, sejalan dengan minimarket yang kian ekspansif dengan kebutuhan volume barang meningkat, harganya juga makin kompetitif. Dan karena target sales Lebaran tidak tercapai, maka untuk mencapai target tahun ini peritel mengejar pada momen Natal dan Tahun Baru.
''Minimal pada tahun ini bisa tumbuh 13%, sama seperti 2016 lalu. Tapi memang, penjualan pada akhir tahun tidak sebesar Lebaran. Yang jelas, saya yakin semua channel akan mati-matian untuk mengejar sales minimal sama dengan tahun lalu,'' jelasnya.
Salah satu penjual online Ganjar Ahadiyat mengatakan, selama tiga bulan terakhir menjadi puncak penjualan. Dalam kurun waktu itu terjadi peningkatan sampai 30%. "Jumlah pengunjung meningkat drastis, mereka sudah percaya dengan jual beli online di Indonesia," jelas pengusaha garmen ini.
Kondisi ini membuat konsumen lebih selektif dalam berbelanja. Mereka memilih barang yang hanya diperlukan saja. Seretnya industri ritel menjadikan pelambatan ekonomi di berbagai sektor.
Data total sales hingga pertengahan Juni 2017 kalau dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, khusus minimarket mencatat pertumbuhan sebesar 7,8%. Sedangkan hypermarket justru terjun bebas sampai 2,5%.
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jatim April Wahyu Widati menuturkan, pertumbuhan yang terjadi di minimarket lebih disebabkan oleh ekspansi gerai, bukan karena kenaikan penjualan di setiap gerai yang sudah ada. Kondisi itu menjadi bukti melambatnya industri ritel.
Sampai semester pertama ada penambahan sekitar 30 gerai minimarket. "Nah itu yang menyumbang terhadap volume sales, jadi bukan murni pertumbuhan sales,'' ujar April ketika ditemui di Surabaya, Selasa (11/7/2017)
Ia menambahkan, momen puasa dan Lebaran yang harusnya bisa mendongkrak penjualan ternyata tak berjalan mulus. Sampai akhir Lebaran saja penjualan masih jauh dari ekspektasi para pelaku industri kreatif.
Padahal katanya, tahun-tahun sebelumnya kontribusi sales selama Lebaran mencapai 15% terhadap total satu tahun. Tapi itu tidak berlaku pada Lebaran tahun ini. Padahal para pelaku industri kreatif berharap besar pada puncak penjualan selama dua bulan terakhir ini. "Biasanya H-7 Lebaran penjualan bisa naik 30%, tahun ini tidak sama sekali. Dan itu terjadi di semua channel ritel modern,'' ucapnya.
Perkembangan produk yang dijual secara online terang dia sedikit banyak memang memberikan banyak pengaruh, ditambah dengan perubahan pola pembelian konsumen. Serta penurunan daya beli masyarakat yang disebabkan Lebaran yang bersamaan dengan tahun ajaran baru. Sehingga, konsumen lebih memprioritaskan biaya untuk kebutuhan pendidikan.
Selain itu, pola belanja konsumen sejak awal tahun sudah berubah. ''Dulu, konsumen belanja apa sesuai yang diinginkan. Bahkan kalau belanja tidak cukup satu buah, tapi sekarang mereka membeli sesuai yang diperlukan. Customer sangat selektif terhadap pembelian,'' katanya.
Kondisi tersebut juga diperparah dengan persaingan antar format ritel modern juga makin ketat. Tidak lagi dalam satu kategori usaha saja, tapi sudah lintas format. Ia mencontohkan, persaingan antara hypermarket dengan minimarket.Pada 2-3 tahun lalu katanya, hypermarket bisa menawarkan harga paling kompetitif karena ditunjang besarnya volume barang yang diambil dari pemasok.
Kini, sejalan dengan minimarket yang kian ekspansif dengan kebutuhan volume barang meningkat, harganya juga makin kompetitif. Dan karena target sales Lebaran tidak tercapai, maka untuk mencapai target tahun ini peritel mengejar pada momen Natal dan Tahun Baru.
''Minimal pada tahun ini bisa tumbuh 13%, sama seperti 2016 lalu. Tapi memang, penjualan pada akhir tahun tidak sebesar Lebaran. Yang jelas, saya yakin semua channel akan mati-matian untuk mengejar sales minimal sama dengan tahun lalu,'' jelasnya.
Salah satu penjual online Ganjar Ahadiyat mengatakan, selama tiga bulan terakhir menjadi puncak penjualan. Dalam kurun waktu itu terjadi peningkatan sampai 30%. "Jumlah pengunjung meningkat drastis, mereka sudah percaya dengan jual beli online di Indonesia," jelas pengusaha garmen ini.
(akr)
Lihat Juga :