Ini Akibatnya Jika Defisit APBN Dipaksakan untuk Melebar

Rabu, 12 Juli 2017 - 00:36 WIB
Ini Akibatnya Jika Defisit...
Ini Akibatnya Jika Defisit APBN Dipaksakan untuk Melebar
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, memang tak bisa serta merta mengubah kelonggaran defisit APBN menjadi lebih dari 3%. Dia menjelaskan bahwa jika dilihat dari kinerja APBN selama 2014-2016 dan masih ada belanja-belanja yang belum terserap, maka sebetulnya lebih ditekankan bagaimana pemerintah merancang belanja dengan perencanaan yang baik.

Sehingga eksekusinya bisa berjalan sesuai dengan kapasitas untuk membelanjakannya, dan mengatur defisit APBN agar tidak mengalami pembengkakan dan tetap pada batasan yang telah diatur, sehingga tidak perlu dilonggarkan.

"Maka, jika dinaikkan (batasan defisit), secara cepat tapi tidak terdapat perencanaan yang matang, yang terjadi adalah APBNnya besar namun penyerapannya enggak tinggi. Ini menyebabkan defisit besar tapi enggak tereksekusi," kata dia di Jakarta, Selasa (11/7/2017).

Terlebih lagi, ini akan menimbulkan beban baru, yakni jumlah utang meningkat dan biaya meningkat yang tidak baik dan diupayakan untuk diturunkan. Kemudian yang kedua, kementerian/lembaga dan pemda tidak melakukan tugasnya untuk melakukan perencanaan yang baik.

"Contohnya belanja di Kemenkeu memang belanjanya Rp40 triliun tapi yang bener-bener Kemenkeu hanya Rp22 triliun. Kalau disisir, dalam beberapa tahun terakhir ada belanja yang melonjak. Sesudah saya lihat enggak bisa dieksekusi, katakanlah pada 2015 ada Rp2,5 triliun yang enggak terbelanjakan" imbuhnya

Artinya, lanjut Sri Mulyani, pemerintah secara umum harus menyediakan uang Rp2,5 triliun, namun kemudian uang tersebut tidak terserap. Itu kemudian menjadikan terjadinya silpa. Namun untuk membiayai Rp2,5 triliun itu, pemerintah harus meng-issue utang.

"Itu yang menyebabkan biaya untuk yang besar namun tak terserap itu memberikan beban yang tidak baik bagi ekonomi maupun sisi kredibiltas APBN," tukasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
APBN 2022 Defisit 2,35%,...
APBN 2022 Defisit 2,35%, Sri Mulyani: Bukti Keuangan Negara Sehat dan Kuat
Efisiensi Ketat tapi...
Efisiensi Ketat tapi Defisit APBN Justru Membengkak, Ini Jawaban Sri Mulyani
Hingga 12 Desember 2023,...
Hingga 12 Desember 2023, Defisit APBN Hanya Rp35 Triliun
Sri Mulyani Umumkan...
Sri Mulyani Umumkan APBN Alami Defisit Rp35 Triliun
Jurus Hati-hati Sri...
Jurus Hati-hati Sri Mulyani Biayai Defisit Tahun Depan
APBN November 2024 Tekor...
APBN November 2024 Tekor Rp401,8 Triliun, Ini Penjelasan Sri Mulyani
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
5 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
5 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
6 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
6 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
7 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
7 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved