Harga Minyak Naik 1,1%, Seiring Bertambahnya Data Pekerja AS
Senin, 07 Agustus 2017 - 10:10 WIB
Harga Minyak Naik 1,1%, Seiring Bertambahnya Data Pekerja AS
A
A
A
HOUSTON - Harga minyak menguat setelah laporan Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, dimana jumlah pekerja AS bulan Juli bertambah 209.000, lebih tinggi dari ekspektasi sebesar 183.000. Menguatnya tenaga kerja AS akan mendukung harapan meningkatnya permintaan energi.
Seperti hukum pasar, supply dan demand, negara-negara OPEC terus melakukan kampanye pemangkasan produksi demi meningkatkan harga si emas hitam.
Mengutip dari Reuters, Senin (7/8/2017), harga minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) naik 55 sen atau 1,1% menjadi ke level USD49,58 per barel. Adapun patokan Brent International meningkat 20 sen menjadi USD52,21 per barel pada pukul 18.02 GMT.
"Harga minyak didukung oleh kabar baik pagi ini dari lapangan kerja AS yang menguat," ujar Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston, Texas, Amerika Serikat.
Sementara itu, harga minyak berjangka menguat setelah Baker Hughes melaporkan jumlah rig pengeboran minyak yang beroperasi di AS turun untuk minggu kedua dalam tiga tahun. Angka tersebut turun 1 rig minyak menjadi 765.
Harga minyak mentah sempat melemah di awal perdagangan, sebelum laporan pekerja AS yang bertambah mendorong pembelian. Pasalnya, beberapa negara OPEC sempat meningkatkan produksinya melanggar dari kesepakatan.
Namun Barclays Bank memperkirakan harga minyak pada akan tetap terkoreksi ke bawah selama kuartal ini. Namun untuk Brent, harga diperkirakan berada pada sekitar USD54 per barel sepanjang kuartal IV 2017.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, dua anggota OPEC: Libya dan Nigeria terus meningkatkan produksi minyaknya demi pembangunan negara. OPEC sendiri telah menyetujui permintaan tersebut. Alhasil, ekspor minyak pada Juli menjadi 26,11 juta barel per hari, dimana sebagian besar dari Nigeria.
Selain kedua negara, produsen minyak terbesar Rusia, Rosneft juga meningkatkan produksi minyaknya 11,1% hingga kuartal II 2017. Karena itu, komite teknis OPEC dan non-OPEC akan bertemu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 7-8 Agustus, untuk membahas cara-cara mengembalikan kepatuhan dalam kesepakatan pengurangan produksi.
Di Amerika Serikat, produksi minyak telah mencapai 9,43 juta barel per hari, tertinggi sejak Agustus 2015 dan naik 12% dari tingkat terendah baru-baru ini di bulan Juni tahun lalu. Dan permintaan bensin AS naik ke rekor 9.842 juta bph pada pekan lalu.
"Permintaan bensin sekarang bertambah 0,1 persen (year-on-year). Hal ini cukup menggembirakan karena flat atau negatif sejak akhir November 2016," kata bank investasi AS Jefferies.
Seperti hukum pasar, supply dan demand, negara-negara OPEC terus melakukan kampanye pemangkasan produksi demi meningkatkan harga si emas hitam.
Mengutip dari Reuters, Senin (7/8/2017), harga minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) naik 55 sen atau 1,1% menjadi ke level USD49,58 per barel. Adapun patokan Brent International meningkat 20 sen menjadi USD52,21 per barel pada pukul 18.02 GMT.
"Harga minyak didukung oleh kabar baik pagi ini dari lapangan kerja AS yang menguat," ujar Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston, Texas, Amerika Serikat.
Sementara itu, harga minyak berjangka menguat setelah Baker Hughes melaporkan jumlah rig pengeboran minyak yang beroperasi di AS turun untuk minggu kedua dalam tiga tahun. Angka tersebut turun 1 rig minyak menjadi 765.
Harga minyak mentah sempat melemah di awal perdagangan, sebelum laporan pekerja AS yang bertambah mendorong pembelian. Pasalnya, beberapa negara OPEC sempat meningkatkan produksinya melanggar dari kesepakatan.
Namun Barclays Bank memperkirakan harga minyak pada akan tetap terkoreksi ke bawah selama kuartal ini. Namun untuk Brent, harga diperkirakan berada pada sekitar USD54 per barel sepanjang kuartal IV 2017.
Seperti telah diberitakan sebelumnya, dua anggota OPEC: Libya dan Nigeria terus meningkatkan produksi minyaknya demi pembangunan negara. OPEC sendiri telah menyetujui permintaan tersebut. Alhasil, ekspor minyak pada Juli menjadi 26,11 juta barel per hari, dimana sebagian besar dari Nigeria.
Selain kedua negara, produsen minyak terbesar Rusia, Rosneft juga meningkatkan produksi minyaknya 11,1% hingga kuartal II 2017. Karena itu, komite teknis OPEC dan non-OPEC akan bertemu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 7-8 Agustus, untuk membahas cara-cara mengembalikan kepatuhan dalam kesepakatan pengurangan produksi.
Di Amerika Serikat, produksi minyak telah mencapai 9,43 juta barel per hari, tertinggi sejak Agustus 2015 dan naik 12% dari tingkat terendah baru-baru ini di bulan Juni tahun lalu. Dan permintaan bensin AS naik ke rekor 9.842 juta bph pada pekan lalu.
"Permintaan bensin sekarang bertambah 0,1 persen (year-on-year). Hal ini cukup menggembirakan karena flat atau negatif sejak akhir November 2016," kata bank investasi AS Jefferies.
(ven)
Lihat Juga :