Indef Sarankan RAPBN 2018 Genjot Kebijakan Jangka Pendek

Jum'at, 18 Agustus 2017 - 19:17 WIB
Indef Sarankan RAPBN...
Indef Sarankan RAPBN 2018 Genjot Kebijakan Jangka Pendek
A A A
JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) tidak hanya menyoroti struktur makro dalam RAPBN 2018. Mereka juga menyoroti sektor belanja yang dianggap kurang berpihak masyarakat menengah ke bawah.

Peneliti Indef, Muhammad Reza mengatakan seharusnya belanja pemerintah fokus kepada hal yang menyentuh rakyat dengan memaksimalkan kebijakan jangka pendek. "Seperti Program Keluarga Harapan (PKH) yang hanya ditambah 10 juta keluarga penerima. Padahal perlu ditambah lagi 2-3 juta," ujarnya, Jumat (18/8/2017).

Menurutnya, dengan menambah sektor bantuan sosial seperti PKH maka bisa berdampak ganda kepada daya beli rakyat. Sebab, komposisinya 40% itu rakyat miskin dan rentan miskin.

"Kalau kami lihat di 2018 itu, PKH mendapat Rp110 ribu, ini juga perlu dievaluasi. Juga bantuan tunai langsung sebesar Rp100 ribu dengan tukar voucher. Apakah model bantuan ini di Indonesia bagian timur sudah ada dampak riilnya, yaitu daya beli masyarakat di sana," kritik Reza.

Bila pemerintah menggenjot sektor belanja jangka pendek, maka Reza optimistis pertumbuhan ekonomi tahun 2018-2019 bisa di atas 5,2%. Sebab, masyarakat kecil ini paling terdampak sekali terhadap pemotongan subsidi listrik.

"Apalagi tahun kemarin tarif listrik naik berturut-turut. Masyarakat perkotaan masih bisa mengikuti, kalau pedesaan seperti apa," tanyanya.

Diakui, bahwa ini semuanya karena postur anggaran naiknya, akibat nilai tukarnya naik. Sehingga perlu dilakukan ulang subsidi listrik. Sebab daya beli 40% dari masyarakat menengah ke bawah itu stagnan. Ini harus dinaikkan agar kontribusinya terangkat.

Atas dasar itulah, Reza menegaskan lagi, di APBN 2018 agar pemerentah lebih baik fokus di belanja jangka pendek. Infrastruktur tetap, hanya saja jangan sampai semakin membebani APBN, karena itu bisa dilakukan dengan kerja sama pihak swasta.

"Juga kerja sama dengan BUMN. Apalagi BUMN yang sudah mendapat PMN yang begitu besar di 2015-2016. Sehingga perlu ditagih komitmennya untuk Indonesia," tegas dia.

Jadi, lanjut Reza, secara keseluruhan dari sisi belanja, RAPBN 2018 ini tumbuh sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Yang mana 2018 hanya sekitar 5,6%. Namun kalau dilihat frame work tetap pada kelas menengah saja.

"Peningkatan terbesar di ekonomi dan itu ada di infrastruktur. Padahal infrastruktur tidak bisa dilihat jangka pendek. Maka jalannya adalah menggenjot belanja jangka pendek," pungkas dia.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Daya Beli Nelayan Jawa...
Daya Beli Nelayan Jawa Timur pada September Turun 2,08 Persen
Aliansi Kebangsaan Ingatkan...
Aliansi Kebangsaan Ingatkan Daya Beli Nasional Harus Dikelola dengan Baik
Deflasi 4 Bulan Beruntun, Berpotensi...
Deflasi 4 Bulan Beruntun, Berpotensi Timbulkan Lingkaran Setan Perlambatan ekonomi
Daya Beli Turun Saat...
Daya Beli Turun Saat Lebaran 2025, Mal Ramai Tapi Minim yang Belanja
Daya Beli Masyarakat...
Daya Beli Masyarakat Berkurang, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Menurun
Daya Beli Masyarakat...
Daya Beli Masyarakat Membaik, Adira Finance Catatkan Kinerja Positif per September 2022
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
1 jam yang lalu
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
1 jam yang lalu
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
2 jam yang lalu
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
2 jam yang lalu
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
2 jam yang lalu
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
4 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved