Rupiah Awal Pekan Ditutup Variatif Saat USD Jatuh Lawan Yen
Senin, 04 September 2017 - 16:47 WIB
Rupiah Awal Pekan Ditutup Variatif Saat USD Jatuh Lawan Yen
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan sore hari ini ditutup variatif, yang cenderung mencoba merangkak naik. Pergerakan mixed mata uang garuda terjadi saat USD melemah melawan Yen Jepang.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.339/USD atau menguat tipis dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.342/USD. Rupiah sendiri berada di kisaran harian Rp13.333-Rp13.346/USD.
Sementara, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada sesi penutupan perdagangan hari ini berada di posisi Rp13.341/USD atau sedikit melemah dari sebelumnya yang berada di level Rp13.340/USD. Rupiah awal pekan bergerak pada kisaran level Rp13.333-Rp13.343/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini bergerak mendatar ke level Rp13.335/USD atau tidak berubah dari posisi penutupan sebelumnya pada level yang sama. Sebelumnya rupiah bergerak positif sejak sesi pembukaan hingga siang hari untuk kemudian kembali tertekan.
Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah sore ini tertahan di level Rp13.345/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah menguat dari posisi tengah kemarin sebelum libur panjang di level Rp13.351/USD.
Seperti dilansir Reuters, Senin (4/9/2017) dolar Amerika Serikat (USD) jatuh terhadap Yen Jepang dan Swiss franc pada awal perdagangan, seiring meningkatnya kekhawatiran tentang risiko geopolitik ketika Korea Utara (Korut) terus melakukan uji coba rudal. Kondisi tersebut menekan pasar mata uang, ketika investor mencari investasi yang dinilai aman.
"Meningkatnya ketegangan geopolitik telah membuat dolar berada di bawah level 110 terhadap yen. Meskipun kami terkejut, pasar tidak mungkin untuk bereaksi lebih jauh kecuali ketegangan ini berubah menjadi konflik," jelas Strategi Pasar Saham Commerzbank Thu Lan Nguyen.
Penghindaran risiko tinggi mengikuti kabar yang menyebutkan Korut telah melakukan uji coba rudal terkuatnya, hingga mendorong Amerika Serikat yang memberikan peringatan bakal mengambil tindakan militer apabila sekutu-sekutunya diancam. USD berada di bawah tekanan baru terhadap Yen hingga perdagangan sore dan menyentuh level di bawah 109.50.
Pelemahan USD terimbas, situasi yang semakin memanas setelah Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengatakan, masih melihat sinyal bahwa Korea Utara masih berencana menggelar tahap uji coba lainnya untuk misil balistik dan kemungkinan termasuk rudal balistik antarbenua.
Tercatat USD jatuh sebesar 0,7% saat melawan yen Jepang untuk berada di level 109.52 dan melemah sebesar 0,5% terhadap Swiss franc. Indeks USD mengalami kejatuhan yang meluas 0,2% menjadi 92.65 atau tidak jauh dari posisi terendah dalam dua setengah tahun.
Meskipun USD mencetak kelemahan, namun euro tetap berjuang merangkak naik. Euro meningkat 0,3% terhadap USD ke posisi 1.1890, meski masih berada di bawah posisi tertinggi dari tengah pekan kemarin.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.339/USD atau menguat tipis dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.342/USD. Rupiah sendiri berada di kisaran harian Rp13.333-Rp13.346/USD.
Sementara, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada sesi penutupan perdagangan hari ini berada di posisi Rp13.341/USD atau sedikit melemah dari sebelumnya yang berada di level Rp13.340/USD. Rupiah awal pekan bergerak pada kisaran level Rp13.333-Rp13.343/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini bergerak mendatar ke level Rp13.335/USD atau tidak berubah dari posisi penutupan sebelumnya pada level yang sama. Sebelumnya rupiah bergerak positif sejak sesi pembukaan hingga siang hari untuk kemudian kembali tertekan.
Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah sore ini tertahan di level Rp13.345/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah menguat dari posisi tengah kemarin sebelum libur panjang di level Rp13.351/USD.
Seperti dilansir Reuters, Senin (4/9/2017) dolar Amerika Serikat (USD) jatuh terhadap Yen Jepang dan Swiss franc pada awal perdagangan, seiring meningkatnya kekhawatiran tentang risiko geopolitik ketika Korea Utara (Korut) terus melakukan uji coba rudal. Kondisi tersebut menekan pasar mata uang, ketika investor mencari investasi yang dinilai aman.
"Meningkatnya ketegangan geopolitik telah membuat dolar berada di bawah level 110 terhadap yen. Meskipun kami terkejut, pasar tidak mungkin untuk bereaksi lebih jauh kecuali ketegangan ini berubah menjadi konflik," jelas Strategi Pasar Saham Commerzbank Thu Lan Nguyen.
Penghindaran risiko tinggi mengikuti kabar yang menyebutkan Korut telah melakukan uji coba rudal terkuatnya, hingga mendorong Amerika Serikat yang memberikan peringatan bakal mengambil tindakan militer apabila sekutu-sekutunya diancam. USD berada di bawah tekanan baru terhadap Yen hingga perdagangan sore dan menyentuh level di bawah 109.50.
Pelemahan USD terimbas, situasi yang semakin memanas setelah Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengatakan, masih melihat sinyal bahwa Korea Utara masih berencana menggelar tahap uji coba lainnya untuk misil balistik dan kemungkinan termasuk rudal balistik antarbenua.
Tercatat USD jatuh sebesar 0,7% saat melawan yen Jepang untuk berada di level 109.52 dan melemah sebesar 0,5% terhadap Swiss franc. Indeks USD mengalami kejatuhan yang meluas 0,2% menjadi 92.65 atau tidak jauh dari posisi terendah dalam dua setengah tahun.
Meskipun USD mencetak kelemahan, namun euro tetap berjuang merangkak naik. Euro meningkat 0,3% terhadap USD ke posisi 1.1890, meski masih berada di bawah posisi tertinggi dari tengah pekan kemarin.
(akr)