Indonesia Siap Jelaskan Isu Perkebunan Kelapa Sawit di PBB

Selasa, 05 September 2017 - 06:07 WIB
Indonesia Siap Jelaskan...
Indonesia Siap Jelaskan Isu Perkebunan Kelapa Sawit di PBB
A A A
JAKARTA - Delegasi Indonesia siap menjelaskan kondisi objektif sektor perkebunan kelapa sawit di Tanah Air dalam pertemuan tingkat tinggi di markas badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) New York, Amerika Serikat, Rabu (6/9/2017).

Setelah pertemuan ini, pemerintah dan dunia usaha berharap negara Barat lebih proporsional dalam menilai sektor
pendulang devisa terbesar ini.

“Mereka (Eropa dan Amerika Serikat) sering tidak proporsional. Kami akan menjelaskan semuanya,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/9/2017).

Fadhil menjadi salah satu delegasi Gapki dalam pertemuan di PBB ini. Selain Fadhil, ikut hadir Ketua Umum Gapki Joko Supriyono yang akan menjadi pembicara, Wakil Ketua Umum Gapki Mona Surya, dan Juru Bicara Gapki Tofan Mahdi.

Dalam pertemuan tingkat tinggi yang digagas UNDP (Badan PBB untuk Program Pembangunan) tersebut, Joko Supriyono akan memaparkan aspek ekonomi dan ekologi sektor kelapa sawit di Indonesia.

Fadhil mengatakan, dibandingkan Malaysia, sektor sawit Indonesia lebih banyak disorot. Khususnya terkait isu-isu lingkungan dan keberlanjutan. “Tidak ada pembangunan yang sempurna. Tapi jangan sampai, sorotan tata kelola sawit yang berkelanjutan itu sekadar kedok untuk menekan Indonesia dalam negosiasi perdagangan,” tandas Fadhil.

Selain pertemuan tingkat tinggi di PBB, delegasi RI juga akan menghadiri sejumlah diskusi dan pertemuan informal dengan UNDP, perwakilan pemerintah AS, dan melakukan kunjungan ke pabrik cokelat Mars Inc. yang merupakan buyer minyak sawit dari Indonesia.

Selain Indonesia, dua negara juga diundang dalam pertemuan tingkat tinggi di PBB tersebut. Yaitu Peru (peternakan sapi), Brasil (perkebunan kedelai), dan Liberia (sawit). Selain Indonesia, ketiga negara ini juga banyak disorot terkait tata kelola lingkungan mereka.

Fadhil mengatakan, sikap kritis dari negara maju termasuk badan dunia seperti PBB bisa dimengerti. “Namun jangan mudah melakukan menggeneralisasi. Dampak ekonomi sawit sudah pasti besar. Tetapi dampak lingkungannya bisa kita perdebatkan.”

Fadhil menegaskan, Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk terus mencapai tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Komitmen YIDH Dukung...
Komitmen YIDH Dukung Pelaksanaan Peta Jalan Menuju Sawit Berkelanjutan di Aceh
Sejumlah Masalah yang...
Sejumlah Masalah yang Bikin Pengusaha Sawit dan Masyarakat Tidak Akur
Aspekpir Kolaborasi...
Aspekpir Kolaborasi Buat Film Dokumenter Desa Transmigrasi Sawit
Pengolahan yang Baik...
Pengolahan yang Baik Jadikan Limbah Cair Pabrik Sawit Bernilai Ekonomi Tinggi
Perkebunan Sawit Berkelanjutan...
Perkebunan Sawit Berkelanjutan Tumbuhkan Ekonomi Desa Terpencil
Wujudkan Perkebunan...
Wujudkan Perkebunan Berkelanjutan, SPKS Dorong Kemitraan Usaha dengan Petani
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
41 menit yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
55 menit yang lalu
Kepercayaan Konsumen...
Kepercayaan Konsumen Antarkan KARA Raih Empat Penghargaan IOB Award 2026
55 menit yang lalu
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
1 jam yang lalu
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Risiko Investasi Reksa Dana sebelum Mulai Berinvestasi
1 jam yang lalu
KAI Logistik Kelola...
KAI Logistik Kelola 8,7 Juta Ton Angkutan Barang di Semester I 2026
1 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved