Wall Street Melemah Imbas Kontraksi Data Laporan Kerja

Sabtu, 07 Oktober 2017 - 07:31 WIB
Wall Street Melemah...
Wall Street Melemah Imbas Kontraksi Data Laporan Kerja
A A A
NEW YORK - Mayoritas bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat, setelah data pasar tenaga kerja mengalami kontraksi pertama selama tujuh tahun. Melansir dari CNBC, Sabtu (7/10/2017), indeks Dow Jones ditutup turun 1,72 poin menjadi 22.773,67, dimana saham Chevron dan Boeing memberi kontribusi kerugian terbesar. Meski demikian, Dow Jones telah membukukan keuntungan selama tujuh hari belakangan.

Indeks S & P 500 melemah tipis 0,1% menjadi 2.549,33, dengan saham konsumer dan telekomunikasi merugi. Namun indeks ini telah membukukan kemenangan beruntun selama delapan hari, merupakan yang terpanjang dalam empat tahun terakhir. Adapun indeks Nasdaq ditutup naik tipis 0,07% menjadi 6.590,18.

Wall Street alias bursa saham Paman Sam melemah setelah AS hanya menyerap 90.000 tenaga kerja, lebih rendah dari bulan Agustus 2017 sebanyak 169.000 pekerjaan. AS kehilangan 33.000 pekerjaan pada September kemarin akibat dua badai besar yaitu Harvey dan Irma yang menyerang negara tersebut. Ini merupakan kontraksi pertama pasar tenaga kerja Amerika Serikat sejak 2010.

Kendati pasar tenaga kerja melemah, namun rata-rata pendapatan per jam naik ke tingkat tahunan, yaitu sebesar 2,9%. Adapun tingkat pengangguran juga turun ke level terendah 16 tahun sebesar 4,2%.

Untuk imbal hasil Treasury melonjak setelah rilis laporan tenaga kerja, dimana hasil benchmark 10 tahun naik menjadi 2,362%, sementara yield dua tahun naik menjadi 1,51%, mencatat tingkat tertingginya sejak 2008.

“Semua orang tahu laporan pekerjaan menurun imbas badai Harvey dan Irma. Namun rata-rata pendapatan per jam naik dan tingkat pengangguran turun. Jadi pasar bereaksi sedikit soal ini,” kata Richard Piccirillo, managing director PGIM Fixed Income.

Dan data upah yang kuat juga meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember, menurut Minh Trang, pedagang FX senior di Silicon Valley Bank. “Selama beberapa bulan terakhir, mereka telah membuka kembali jalur kenaikan suku bunga," katanya. Dari sebelum pertemuan bank sentral sebelumnya sampai hari ini, kata Minh, kemungkinan kenaikan suku bunga telah meningkat dari sekitar 30% menjadi 80%.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Dorong Ekonomi Sirkular melalui Program Pengelolaan Sampah dan Limbah Berkelanjutan
19 menit yang lalu
Ekonom Sarankan PT DSI...
Ekonom Sarankan PT DSI Jadi Pengawas Ekspor SDA, Bukan Eksportir Tunggal
25 menit yang lalu
Rekor Terburuk Lagi,...
Rekor Terburuk Lagi, Rupiah Tembus Rp18.187 per Dolar AS Sore Ini
39 menit yang lalu
PT DSI Jadi Perantara...
PT DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor 3 Komoditas, Dony Oskaria: Hingga 31 Desember 2026
2 jam yang lalu
Dasco Bahas Tata Kelola...
Dasco Bahas Tata Kelola PT DSI Bersama Bahlil dan Kepala BP BUMN: Ada Beberapa Perlu Diperjelas
3 jam yang lalu
Dipakai Bayar Utang...
Dipakai Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Mei 2026 Ambles ke USD144,9 Miliar
5 jam yang lalu
Infografis
11 Bandara Papua Ditutup...
11 Bandara Papua Ditutup Sementara Imbas Penembakan Pesawat Smart Air
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved