Migrasi Bikin Uang Puluhan Miliar Dolar Bertebaran di ASEAN
Senin, 09 Oktober 2017 - 11:31 WIB
Migrasi Bikin Uang Puluhan Miliar Dolar Bertebaran di ASEAN
A
A
A
JAKARTA - Sebanyak USD62 miliar dalam bentuk remitansi terkirim ke negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) pada 2015 dari kegiatan migrasi. Uang puluhan miliar dolar itu bertebaran dari para pekerja migran yang bekerja di luar negeri lalu mentrasfer ke dalam negeri.
(Baca: Migrasi di ASEAN Meroket, Terbanyak Menuju Tiga Negara Ini )
Remitansi menyumbang 10% dari PDB di Filipina, 7% di Vietnam, 5% di Myanmar, dan 3% di Kamboja. Pekerja migran ASEAN yang berketerampilan rendah dan sering tidak memiliki dokumen resmi mencari peluang ekonomi terutama di sektor konstruksi, perkebunan, dan jasa rumah tangga.
"Walaupun pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi tersedia, mereka tidak selalu bisa memanfaatkan keuntungan dari berbagai peluang tersebut," ujar Kepala Ekonom Bank Dunia untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty di Jakarta, Senin (9/10/2017).
Menurutnya, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah mengambil beberapa langkah untuk memfasilitasi mobilitas pekerja. Namun, peraturan hanya mencakup profesi yang memiliki keterampilan tinggi seperti dokter, dokter gigi, perawat, insinyur, arsitek, akuntan, dan tenaga kerja pariwisata atau hanya 5% pekerjaan di kawasan ini.
Dengan pilihan kebijakan yang tepat, negara-negara pengirim dapat memperoleh keuntungan ekonomi dari migrasi dan memberikan perlindungan kepada warga negaranya yang memilih bermigrasi untuk bekerja.
Di negara penerima, jika kebijakan migrasi sesuai kebutuhan ekonomi, pekerja asing dapat mengisi kekurangan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Namun, kebijakan yang tidak cocok dan lembaga yang tidak efektif akan mengakibatkan kawasan ini menghadapi kemungkinan kehilangan peluang untuk menarik keuntungan secara maksimal dari migrasi," kata Sudhir.
(Baca: Migrasi di ASEAN Meroket, Terbanyak Menuju Tiga Negara Ini )
Remitansi menyumbang 10% dari PDB di Filipina, 7% di Vietnam, 5% di Myanmar, dan 3% di Kamboja. Pekerja migran ASEAN yang berketerampilan rendah dan sering tidak memiliki dokumen resmi mencari peluang ekonomi terutama di sektor konstruksi, perkebunan, dan jasa rumah tangga.
"Walaupun pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi tersedia, mereka tidak selalu bisa memanfaatkan keuntungan dari berbagai peluang tersebut," ujar Kepala Ekonom Bank Dunia untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty di Jakarta, Senin (9/10/2017).
Menurutnya, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah mengambil beberapa langkah untuk memfasilitasi mobilitas pekerja. Namun, peraturan hanya mencakup profesi yang memiliki keterampilan tinggi seperti dokter, dokter gigi, perawat, insinyur, arsitek, akuntan, dan tenaga kerja pariwisata atau hanya 5% pekerjaan di kawasan ini.
Dengan pilihan kebijakan yang tepat, negara-negara pengirim dapat memperoleh keuntungan ekonomi dari migrasi dan memberikan perlindungan kepada warga negaranya yang memilih bermigrasi untuk bekerja.
Di negara penerima, jika kebijakan migrasi sesuai kebutuhan ekonomi, pekerja asing dapat mengisi kekurangan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Namun, kebijakan yang tidak cocok dan lembaga yang tidak efektif akan mengakibatkan kawasan ini menghadapi kemungkinan kehilangan peluang untuk menarik keuntungan secara maksimal dari migrasi," kata Sudhir.
(izz)
Lihat Juga :