Butuh Pekerja UE, Ritel Inggris Berpotensi Melambat Pasca Brexit

Senin, 09 Oktober 2017 - 18:59 WIB
Butuh Pekerja UE, Ritel...
Butuh Pekerja UE, Ritel Inggris Berpotensi Melambat Pasca Brexit
A A A
LONDON - Harga akan mengalami kenaikan dan pengiriman berpotensi melambat kecuali sektor ritel mempertahankan akses ke pekerja Uni Eropa (UE) pasca Brexit alias keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa seperti diperingatkan oleh organisasi perdagangan. Konsorsium ritel menyampaikan bahwa warga negara UE berkontribusi 6% dari total tenaga kerja industri sebesar 170.000.

Seperti dilansir BBC, Senin (9/10/2017) menurut survei angkatan kerja tahunan mayoritas pekerja UED terkonsentrasi di bagian gudang dan distribusi. Disampaikan lebih dari setengah dari peritel Inggris mengaku karyawan mereka yang berasal dari UE khawatir tentang hak mereka untuk tetap tinggal di Inggris. Sementara beberapa perusahaan ritel sudah melepas beberapa staf mereka dari Eropa.

Departemen Perdagangan Inggris mengutarakan, berakhirnya pergerakan bebas bagi warga negara Uni Eropa dapat menyebabkan biaya yang lebih tinggi untuk pebisnis dan juga konsumen. Diyakini bahwa sektor ritel harus menjaga akses ke pekerja yang berasal dari Eropa tanpa perlu izin setelah Inggris keluar dari Eropa.

Kepala Eksekutif BRC Helen Dickinson mengatakan keputusan Brexit telah menciptakan ketidakpastian untuk bisnis maupun pekerja EU mereka. "Hal ini tidak benar bahwa 16 bulan setelah referendum, orang-orang ini masih tidak memiliki keamanan yang mereka perlukan untuk melanjutkan kehidupan mereka," ungkapnya.

"Dan dari data jelas bahwa kecuali jika kita memiliki struktur yang tepat untuk mendukung peritel, merekrut dan mempertahankan pekerja, konsumen akan segera mulai untuk melihat dan merasakan dampak ketika mereka berbelanja," sambung dia.

Sekretaris Jenderal Union of Shop, Distributive and Allied Workers (USDAW) John Hannett mengatakan, sektor ini akan terus membutuhkan pekerja dari UE untuk datang dan bekerja pada sektor ritel, distribusi dan manufaktur. "Kita perlu debat, didasarkan pada fakta-fakta dan bukti, apa yang dibutuhkan sektor ritel setelah Brexit," terangnya.

"Setelah kita meninggalkan Uni Eropa, kita akan memiliki sistem imigrasi yang bekerja untuk kepentingan terbaik bagi Inggris. Penting untuk melihat perkembangan hal ini dan melihat dari berbagai sisi bisnis," ucap seorang juru bicara pemerintah.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menanti Gebrakan Ekonomi...
Menanti Gebrakan Ekonomi PM Inggris Rishi Sunak
Keuangan Inggris Terburuk...
Keuangan Inggris Terburuk Sejak 1945, Menkeu Baru Rachel Reeves Salahkan Pendahulunya
Ekonomi Inggris di Ambang...
Ekonomi Inggris di Ambang Kolaps, Krisis 1976 Bakal Terulang?
Inggris Masih Resesi,...
Inggris Masih Resesi, Ekonominya Minus 9,6 Persen pada Kuartal III
5 Fakta Resesi Ekonomi...
5 Fakta Resesi Ekonomi Inggris dan Apa Saja Dampaknya
Ekonomi Inggris Jatuh...
Ekonomi Inggris Jatuh ke Dalam Resesi pada Akhir 2023
Berita Terkini
Pakar Ungkap Kalkulasi...
Pakar Ungkap Kalkulasi Soal Alasan Harga Pertamax Belum Turun
1 jam yang lalu
Peneliti: Manfaat Ekonomi...
Peneliti: Manfaat Ekonomi Digital Lebih Banyak Dinikmati sebagai Konsumsi
2 jam yang lalu
Dulu Rakyatnya Ngungsi...
Dulu Rakyatnya Ngungsi ke RI, Kini Vietnam Naik Kelas Lampaui Indonesia
4 jam yang lalu
Tarif Listrik Tidak...
Tarif Listrik Tidak Naik hingga September 2026, Dirut PLN Bicara soal Pasokan
6 jam yang lalu
Cadangan Energi AS Ternyata...
Cadangan Energi AS Ternyata Keropos: Stok Minyak Dikuras Habis, Stok Terendah Sejak 1983!
9 jam yang lalu
Sistem Payment Gateway...
Sistem Payment Gateway Revolusioner untuk UMKM & Startup Dirilis, Jaminan Uptime 99,95%
17 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved