Rupiah Dibuka Variatif, Dolar Terempas Data Inflasi AS
Kamis, 12 Oktober 2017 - 10:51 WIB
Rupiah Dibuka Variatif, Dolar Terempas Data Inflasi AS
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) di pasar uang, pada Kamis (12/10/2017) sangat variatif. Indeks Bloomberg mencatat rupiah dibuka menguat 17 poin atau 0,13% di Rp13.513 per USD, dibanding Rabu lalu yang berakhir di Rp13.530 per USD.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada Kamis ini melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.513 per USD, dibanding posisi kemarin di angka Rp13.511 per USD.
Data SINDOnews yang bersumber dari Limas, mata uang NKRI pada hari ini dibuka di level Rp13.514 per USD, terdepresiasi 2 poin ketimbang Rabu lalu yang ditutup di Rp13.512 per USD.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah hari ini ditetapkan sebesar Rp13.521 per USD atau bearish 12 poin dari Rabu lalu di angka Rp13.509 per USD.
Minimnya sentimen positif dalam negeri dan variatifnya kondisi global membuat rupiah hari ini belum bisa berlari. Mengutip dari Reuters, USD pada Kamis ini mencapai titik terendah dua minggu terhadap enam mata uang saingan utama. Indeks USD merosot ke level 92,839, level terendah sejak 26 September 2017.
Lemahnya USD karena beberapa menit menjelang pertemuan terakhir The Fed, menyarankan beberapa bankir tentang kekhawatiran atas inflasi yang terus menerus rendah. Kepala Perdagangan Asia Pasifik di Oanda, Stephen Innes mengatakan risalah The Fed menunjukkan dewan tersebut masih terbelah mengenai rencana kenaikan suku bunga karena inflasi yang masih rendah.
Maka itu, Negeri Paman Sam akan memantau data harga produsen dan data konsumen yang akan dirilis Kamis waktu AS, untuk menjadi fokus berikutnya. Kondisi melemahnya indeks USD membuat dolar tergelincir 0,1% terhadap yen menjadi 112,38 yen.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada Kamis ini melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.513 per USD, dibanding posisi kemarin di angka Rp13.511 per USD.
Data SINDOnews yang bersumber dari Limas, mata uang NKRI pada hari ini dibuka di level Rp13.514 per USD, terdepresiasi 2 poin ketimbang Rabu lalu yang ditutup di Rp13.512 per USD.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah hari ini ditetapkan sebesar Rp13.521 per USD atau bearish 12 poin dari Rabu lalu di angka Rp13.509 per USD.
Minimnya sentimen positif dalam negeri dan variatifnya kondisi global membuat rupiah hari ini belum bisa berlari. Mengutip dari Reuters, USD pada Kamis ini mencapai titik terendah dua minggu terhadap enam mata uang saingan utama. Indeks USD merosot ke level 92,839, level terendah sejak 26 September 2017.
Lemahnya USD karena beberapa menit menjelang pertemuan terakhir The Fed, menyarankan beberapa bankir tentang kekhawatiran atas inflasi yang terus menerus rendah. Kepala Perdagangan Asia Pasifik di Oanda, Stephen Innes mengatakan risalah The Fed menunjukkan dewan tersebut masih terbelah mengenai rencana kenaikan suku bunga karena inflasi yang masih rendah.
Maka itu, Negeri Paman Sam akan memantau data harga produsen dan data konsumen yang akan dirilis Kamis waktu AS, untuk menjadi fokus berikutnya. Kondisi melemahnya indeks USD membuat dolar tergelincir 0,1% terhadap yen menjadi 112,38 yen.
(ven)