Rupiah Memukul Dolar AS 19 Poin di Akhir Oktober
Selasa, 31 Oktober 2017 - 17:36 WIB
Rupiah Memukul Dolar AS 19 Poin di Akhir Oktober
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan di pasar spot, Selasa (31/10/2017) berakhir cerah. Mata uang NKRI di indeks Bloomberg, menguat 19 poin atau 0,14% menjadi Rp13.563 per USD.
Tanda-tanda penguatan rupiah terlihat sejak awal pembukaan, dengan terapresiasi 20 poin ke level Rp13.562 per USD, dibanding penutupan Senin kemarin di Rp13.582 per USD. Akhir Oktober ini, rupiah diperdagangkan di level Rp13.541-Rp13.580 per USD.
Hasil positif juga terpantau di data Yahoo Finance, dimana rupiah pada Selasa ini menguat 20 poin atau 0,15% menjadi Rp13.560 per USD. Awal perdagangan, rupiah dibuka naik tipis 2 poin di Rp13.578 per USD, dari posisi penutupan Senin di Rp13.580 per USD. Hari ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp13.548-Rp13.580 per USD.
Data SINDOnews yang bersumber dari Limas, rupiah pada Selasa (31/10) ditutup di level Rp13.560 per USD, terapresiasi 8 poin dari pembukaan di angka Rp13.568 per USD.
Menguatnya rupiah seiring pemangkasan pajak perusahaan di AS yang akan diterapkan secara bertahap membuat dolar AS pun lunglai. CNBC, Selasa (31/10) mencatat indeks USD merugi ke level 94,553 terhadap sekeranjang mata uang utama, dimana pada Senin lalu berada di angka 94,7.
Selain isu pemangkasan pajak sebesar 3% setiap tahun mulai tahun 2018, dari posisi saat ini 35%, bursa calon Bos The Fed juga telah menganggu indeks USD. Sebagian besar pasar mengharapkan Presiden AS Donald Trump mengangkat anggota Dewan Gubernur The Fed, Jerome Powell untuk menggantikan Ketua The Fed saat ini Janet Yellen. Kandidat lainnya adalah ekonom Universitas Stanford John Taylor dan mantan anggota Dewan Gubernur The Fed, Kevin Warsh.
Masalah pergantian bos bank sentral AS ini juga menganggu Komite Pasar Terbuka Federal untuk membuat keputusan kenaikan suku bunga. Dolar AS pun diperdagangkan mendatar terhadap yen Jepang di angka 113,11. Sementara USD menguat sedikit terhadap dolar Australia di USD0,7683.
Tanda-tanda penguatan rupiah terlihat sejak awal pembukaan, dengan terapresiasi 20 poin ke level Rp13.562 per USD, dibanding penutupan Senin kemarin di Rp13.582 per USD. Akhir Oktober ini, rupiah diperdagangkan di level Rp13.541-Rp13.580 per USD.
Hasil positif juga terpantau di data Yahoo Finance, dimana rupiah pada Selasa ini menguat 20 poin atau 0,15% menjadi Rp13.560 per USD. Awal perdagangan, rupiah dibuka naik tipis 2 poin di Rp13.578 per USD, dari posisi penutupan Senin di Rp13.580 per USD. Hari ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp13.548-Rp13.580 per USD.
Data SINDOnews yang bersumber dari Limas, rupiah pada Selasa (31/10) ditutup di level Rp13.560 per USD, terapresiasi 8 poin dari pembukaan di angka Rp13.568 per USD.
Menguatnya rupiah seiring pemangkasan pajak perusahaan di AS yang akan diterapkan secara bertahap membuat dolar AS pun lunglai. CNBC, Selasa (31/10) mencatat indeks USD merugi ke level 94,553 terhadap sekeranjang mata uang utama, dimana pada Senin lalu berada di angka 94,7.
Selain isu pemangkasan pajak sebesar 3% setiap tahun mulai tahun 2018, dari posisi saat ini 35%, bursa calon Bos The Fed juga telah menganggu indeks USD. Sebagian besar pasar mengharapkan Presiden AS Donald Trump mengangkat anggota Dewan Gubernur The Fed, Jerome Powell untuk menggantikan Ketua The Fed saat ini Janet Yellen. Kandidat lainnya adalah ekonom Universitas Stanford John Taylor dan mantan anggota Dewan Gubernur The Fed, Kevin Warsh.
Masalah pergantian bos bank sentral AS ini juga menganggu Komite Pasar Terbuka Federal untuk membuat keputusan kenaikan suku bunga. Dolar AS pun diperdagangkan mendatar terhadap yen Jepang di angka 113,11. Sementara USD menguat sedikit terhadap dolar Australia di USD0,7683.
(ven)