Enam Strategi Kementerian Pertanian dalam Regenerasi Petani

Selasa, 28 November 2017 - 23:44 WIB
Enam Strategi Kementerian...
Enam Strategi Kementerian Pertanian dalam Regenerasi Petani
A A A
JAKARTA - Dalam mengoptimalkan program pembangunan pertanian, Sumber Daya Manusia mempunyai peranan penting dalam menyusun perencanaan pembangunan pertanian secara efektif dan efisien.

"Faktor kekuatan Sumber Daya Manusia atau ketenagakerjaan sangat penting dalam menggerakkan roda pembangunan nasional Indonesia," tegas Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi dalam orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-63 Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Sumatra Barat, dalam keterangan resmi yang diterima SINDOnews di Jakarta, Selasa (28/11/2017).

BPS merilis bahwa angkatan tenaga kerja menurut umur dari tahun 2008 sampai dengan 2017 mengalami peningkatan. Tahun 2017, angkatan kerja usia 30-44 tahun mendominasi dengan jumlah 45,8 juta jiwa, disusul usia 45-59 tahun sejumlah 33,3 juta jiwa.

Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja pertanian cenderung menurun tajam dan jumlahnya cukup signifikan yaitu 33,51%, disusul perdagangan (22,54%), jasa (16,54%), dan sektor industri (13,12%).

Dihadapan civitas akademika dan undangan lainnya, Agung memaparkan bahwa generasi muda saat ini lebih tertarik ke sektor industri dan jasa karena beberapa faktor. Pertama, penghasilan tenaga kerja di sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor industri dan jasa. Kedua, lebih menjanjikan jenjang karir yang lebih pasti. Ketiga, petani tidak ingin generasi penerusnya menjadi petani.

Keempat, banyaknya konversi lahan yang menunjukkan usaha pertanian tidak ekonomis. Kelima, tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan agribisnis, termasuk dari sisi kemampuan manajerial.

"Untuk mengatasi kurangnya minat generasi muda terjun di sektor pertanian, Kementerian Pertanian memiliki enam strategi agar terjadi regenerasi petani," jelas Agung.

Pertama, transformasi pendidikan tinggi vokasi pertanian. Enam STPP (Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian) yang semula program studinya hanya penyuluhan (pertanian, perkebunan, dan peternakan), ditambah harus berorientasi agribisnis hortikultura, agribisnis perkebunan, dan mekanisasi pertanian.

"Dengan demikian, ke depan akan bertambah generasi muda yang disiapkan untuk menjadi petani sekaligus pelaku usaha pertanian," tegas Agung.

Kedua, inisiasi program penumbuhan wirausahawan muda pertanian bekerja sama dengan 16 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Ketiga, pelibatan mahasiswa/alumni/pemuda tani untuk mengintensifkan pendampingan dan pengawalan program Kementerian Pertanian. Keempat, penumbuhan kelompok usaha bersama (KUB) yang difokuskan bidang pertanian bagi pemuda tani.

Kelima, pelatihan dan magang bagi pemuda tani dalam bidang pertanian, dan Keenam, optimalisasi penyuluh untuk mendorong dan menumbuhkembangkan pemuda tani.

Menurut Agung, perguruan tinggi pertanian Indonesia telah berperan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia dan memberikan sumbangan nyata mendukung perkembangan pertanian dan perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Dalam konteks ini, Agung mengatakan bahwa, Perguruan Tinggi dalam pembangunan pertanian dan perdesaan memiliki peran krusial dalam menghasilkan lulusan yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

"Untuk dapat menjalankan peran tersebut, Perguruan Tinggi harus memiliki daya respons yang tinggi terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga dapat memecahkan masalah-masalah kuantitatif maupun kualitatif," kata Agung yang mendorong agar PTN mendirikan Program Studi Diversifikasi Pangan dan gizi untuk akselerasi program diversifikasi pangan.

Dalam hal ini, kata Agung, Perguruan Tinggi dituntut mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan baik technical, soft skills, maupun emotional dan spiritual skills, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman yang senantiasa berubah.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementan Dorong Generasi...
Kementan Dorong Generasi Milenial Terjun di Bidang Pertanian
Pengembangan Food Estate...
Pengembangan Food Estate Demi Jadikan Provinsi Kalteng Lumbung Pangan
Petani Parigi Moutong...
Petani Parigi Moutong Dimotivasi untuk Budidaya Jagung di Lahan Perkebunan Kelapa
Kabupaten Poso Dukung...
Kabupaten Poso Dukung Percepatan Tanam Melalui Sekolah Lapang
Jadikan Sektor Pertanian...
Jadikan Sektor Pertanian Sebagai Penyelamat Krisis
Kalau Bukan Penyuluh...
Kalau Bukan Penyuluh Siapa Lagi yang Bisa Menghubungkan Mentan dan Petani
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
2 jam yang lalu
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
3 jam yang lalu
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
3 jam yang lalu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
3 jam yang lalu
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
3 jam yang lalu
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
4 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved