Cara KAI Selesaikan Masalah Lahan Saat Bangun Jalur Kereta Bandara
Selasa, 26 Desember 2017 - 17:02 WIB
Cara KAI Selesaikan Masalah Lahan Saat Bangun Jalur Kereta Bandara
A
A
A
JAKARTA - Cara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam menyelesaikan masalah lahan saat membangun jalur Kereta Api (KA) Bandara Soekarno-Hatta patut ditiru oleh Kementerian atau Lembaga (K/L) lain. Pasalnya seperti diketahui masalah pembebasan tanah selalu menjadi persoalan pelik di Tanah Air, saat membangun proyek-proyek infrastruktur.
(Baca Juga: Tarif Kereta Api Bandara Diminta Fleksibel )
Pakar Transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menerangkan, salah satunya adalah KA Bandara yang awalnya ditarget 2014, namun molor hingga tiga tahun. Namun, menurutnya PT KAI mengambil inisiatif dengan memberi kesempatan bekerja bagi keluarga yang lahannya terkena pembebasan lahan untuk bekerja di PT KAI.
"Jadi, selain dapat ganti lahan juga ada kesempatan bekerja di PT KAI. Bisa jadi model ini menjadi cara baru untuk menarik simpati pemilik lahan untuk melepas tanahnya. Tapi setelah lahan terjual, masih bisa bekerja di perusahaan yang membeli lahan mereka. Model ini dapat diterapkan untuk proyek-proyek pemerintah yang lain. Menjaga keseimbangan, mengurangi kecemburuan sosial," terang Djoko melalui pesan singkat di Jakarta, Selasa (26/12/2017).
Sementara terkait dengan jalur Kereta Bandara Soekarno-Hatta yang telah siap beroperasi, dan memakai sebagian jalur KRL Jabodetabek diyakini karena berdasarkan perhitungan lebih irit dan cepat terbangun. Beberapa pilihan sempat mencuat terkait jalur KA Bandara Soetta tersebut dimana salah satunya yakni melewati Kawasan Pluit terus masuk Kota Jakarta, tanpa ada stasiun untuk berhenti.
"Namun untuk membangun jalur ini butuh biaya yang tidak sedikit dan APBN tidak sanggup memenuhinya. Kemudian ditawarkan pada swasta, hingga kini belum ada yang berminat," tandasnya.
(Baca Juga: Tarif Kereta Api Bandara Diminta Fleksibel )
Pakar Transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menerangkan, salah satunya adalah KA Bandara yang awalnya ditarget 2014, namun molor hingga tiga tahun. Namun, menurutnya PT KAI mengambil inisiatif dengan memberi kesempatan bekerja bagi keluarga yang lahannya terkena pembebasan lahan untuk bekerja di PT KAI.
"Jadi, selain dapat ganti lahan juga ada kesempatan bekerja di PT KAI. Bisa jadi model ini menjadi cara baru untuk menarik simpati pemilik lahan untuk melepas tanahnya. Tapi setelah lahan terjual, masih bisa bekerja di perusahaan yang membeli lahan mereka. Model ini dapat diterapkan untuk proyek-proyek pemerintah yang lain. Menjaga keseimbangan, mengurangi kecemburuan sosial," terang Djoko melalui pesan singkat di Jakarta, Selasa (26/12/2017).
Sementara terkait dengan jalur Kereta Bandara Soekarno-Hatta yang telah siap beroperasi, dan memakai sebagian jalur KRL Jabodetabek diyakini karena berdasarkan perhitungan lebih irit dan cepat terbangun. Beberapa pilihan sempat mencuat terkait jalur KA Bandara Soetta tersebut dimana salah satunya yakni melewati Kawasan Pluit terus masuk Kota Jakarta, tanpa ada stasiun untuk berhenti.
"Namun untuk membangun jalur ini butuh biaya yang tidak sedikit dan APBN tidak sanggup memenuhinya. Kemudian ditawarkan pada swasta, hingga kini belum ada yang berminat," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :