Panen Setiap Hari, Pemkab Karawang Heran Beras Langka
Jum'at, 19 Januari 2018 - 12:12 WIB
Panen Setiap Hari, Pemkab Karawang Heran Beras Langka
A
A
A
KARAWANG - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Hanafi mengaku setiap hari kota yang berjuluk lumbung padi selalu mengalami panen padi di sejumlah kecamatan. Karena itu, pihaknya mengaku heran jika kemudian terjadi kelangkaan beras yang menimbulkan kenaikan harga beras.
Pada tahun lalu produksi beras Di Karawang mencapai 1,2 juta ton per tahun dari target produksi 1,3 juta ton. "Setiap hari terjadi panen disejumlah titik Di Karawang dengan jumlah bervariatif. Kalau kita rata ratakan setiap bulan kita panen 6.000 ton," kata dia di Karawang, Jumat (19/1/2018).
Menurutnya, dengan tingginya hasil panen tersebut cukup untuk kebutuhan konsumsi di Karawang, belum lagi jika sudah penen raya stok melimpah. Kenaikan harga beras ini memang menguntungkan sebagian petani dari harga Rp4.700 gabah kering giling per kg sekarang mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000 per kg, namun ada juga petani yang mengalami gagal panen.
Hanafi mengungkapkan, Dinas Pertanian mencatat dalam sebulan ini sudah ada 400 hektare sawah petani yang gagal panen akibat hama. Data tersebut berdasarkan klaim asuransi dari petani yang sawahnya diasuransikan.
"Itu yang terdata diasuransi, belum yang tidak masuk asuransi lebih banyak Lagi. Jumlahnya bisa lebih banyak tiga kali lipat dari yang terdaftar diasuransi," katanya.
Kenaikan harga beras juga mendongkrak harga gabah ditingkat petani. Seperti di Desa Ciranggon Kecamatan Majalaya melonjak hingga Rp6.000 per kg pada panen kali ini.
Hanya saja, mahalnya harga gabah tersebut tidak bisa dinikmati seluruh petani, lantaran sebagian besar areal pertanam di lokasi tersebut gagal panen akibat serangan hama wereng cokelat.
Wawan, petani setempat mengatakan, harga Rp6.000 merupakan tertinggi selama ini, karena panen sebelumnya harga hanya mencapai Rp5.000 itu pun untuk kualitas terbagus.
"Sayangnya hanya beberapa petani saja yang menikmati harga gabah tinggi. Karena, kebanyakan gagal panen akibat wereng," kata Wawan.
Dia juga mengungkapkan, areal persawahan di Ciranggon masih terbilang cukup baik, karena masih bisa menghasilkan 5 ton dalam satu hektare, ketimbang di wilayah Pasir Konci Sarijaya yang lokasinya lebih ke dalam.
"Kalau di Pasir Konci Sarijaya kerusakannya menyeluruh. Bahkan para petani tidak memanennya tapi langsung dibajak untuk memulai tanam padi kembali," ungkapnya.
Pada tahun lalu produksi beras Di Karawang mencapai 1,2 juta ton per tahun dari target produksi 1,3 juta ton. "Setiap hari terjadi panen disejumlah titik Di Karawang dengan jumlah bervariatif. Kalau kita rata ratakan setiap bulan kita panen 6.000 ton," kata dia di Karawang, Jumat (19/1/2018).
Menurutnya, dengan tingginya hasil panen tersebut cukup untuk kebutuhan konsumsi di Karawang, belum lagi jika sudah penen raya stok melimpah. Kenaikan harga beras ini memang menguntungkan sebagian petani dari harga Rp4.700 gabah kering giling per kg sekarang mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000 per kg, namun ada juga petani yang mengalami gagal panen.
Hanafi mengungkapkan, Dinas Pertanian mencatat dalam sebulan ini sudah ada 400 hektare sawah petani yang gagal panen akibat hama. Data tersebut berdasarkan klaim asuransi dari petani yang sawahnya diasuransikan.
"Itu yang terdata diasuransi, belum yang tidak masuk asuransi lebih banyak Lagi. Jumlahnya bisa lebih banyak tiga kali lipat dari yang terdaftar diasuransi," katanya.
Kenaikan harga beras juga mendongkrak harga gabah ditingkat petani. Seperti di Desa Ciranggon Kecamatan Majalaya melonjak hingga Rp6.000 per kg pada panen kali ini.
Hanya saja, mahalnya harga gabah tersebut tidak bisa dinikmati seluruh petani, lantaran sebagian besar areal pertanam di lokasi tersebut gagal panen akibat serangan hama wereng cokelat.
Wawan, petani setempat mengatakan, harga Rp6.000 merupakan tertinggi selama ini, karena panen sebelumnya harga hanya mencapai Rp5.000 itu pun untuk kualitas terbagus.
"Sayangnya hanya beberapa petani saja yang menikmati harga gabah tinggi. Karena, kebanyakan gagal panen akibat wereng," kata Wawan.
Dia juga mengungkapkan, areal persawahan di Ciranggon masih terbilang cukup baik, karena masih bisa menghasilkan 5 ton dalam satu hektare, ketimbang di wilayah Pasir Konci Sarijaya yang lokasinya lebih ke dalam.
"Kalau di Pasir Konci Sarijaya kerusakannya menyeluruh. Bahkan para petani tidak memanennya tapi langsung dibajak untuk memulai tanam padi kembali," ungkapnya.
(izz)
Lihat Juga :