Sri Mulyani Pastikan Negara Tidak Sedang dalam Krisis Utang

Jum'at, 23 Maret 2018 - 18:52 WIB
Sri Mulyani Pastikan...
Sri Mulyani Pastikan Negara Tidak Sedang dalam Krisis Utang
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memastikan bahwa saat ini Indonesia tidak sedang dalam krisis utang yang mengkhawatirkan. Hal ini dikatakan menanggapi kritikan sejumlah pihak mengenai beban utang pemerintah yang mencapai Rp4.000 triliun.

(Baca Juga: RI Masih Terjajah meski Porsi Utang IMF dan ADB Makin Kecil )

Dia mengatakan, kritikan yang dilontarkan oleh beberapa ekonom dan politisi mengenai beban utang pemerintah Indonesia menjadi sorotan publik dan masyarakat. Menurutnya, pernyataan dari para elit politik dan ekonom tersebut telah memunculkan kesimpulan di masyarakat bahwa Indonesia saat ini tengah dalam krisis akibat utang.

"Isu ini dibuat dan diperdebatkan seolah-olah Indonesia sudah dalam kondisi krisis utang sehingga masyarakat melalui media sosial juga ikut terpengaruh dan sibuk membicarakannya," katanya dalam keterangan resmi yang diterima SINDOnews di Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Mantan Menko bidang Perekonomian ini menyatakan, perhatian elit politik, ekonom dan masyarakat terhadap utang sejatinya sangat berguna bagi Menteri Keuangan selaku pengelola keuangan negara untuk terus menjaga kewaspadaan. Hal ini agar apa yang dikhawatirkan yaitu terjadinya krisis utang tidak menjadi kenyataan.

Kendati demikian, wanita yang akrab disapa Ani ini menilai, pemerintah dan para elit tersebut perlu mendudukkan masalah secara benar agar masyarakat dan elit politik tidak terjangkit histeria dan kekhawatiran berlebihan, dan menyebabkan kondisi masyarakat menjadi tidak produktif.

"Kecuali kalau memang tujuan mereka yang selalu menyoroti masalah utang adalah untuk membuat masyarakat resah, ketakutan dan menjadi panik, serta untuk kepentingan politik tertentu. Upaya politik destruktif seperti ini sungguh tidak sesuai dengan semangat demokrasi yang baik dan membangun," sindirnya.

Masih menurut Ani, masalah utang perlu didudukkan dalam konteks seluruh kebijakan ekonomi dan keuangan negara. Karena, utang adalah salah satu instrumen kebijakan dalam pengelolaan keuangan negara dan perekonomian. "Utang bukan merupakan tujuan dan bukan pula satu-satunya instrumen kebijakan dalam mengelola perekonomian," tegas dia.

Dalam konteks keuangan negara dan neraca keuangan pemerintah, terangnya, banyak komponen lain selain utang yang harus juga diperhatikan agar masalah dilihat dengan lengkap dan proporsional. Misalnya, sisi aset yang merupakan akumulasi hasil dari hasil belanja pemerintah pada masa-masa sebelumnya.

Berdasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), nilai aset tahun 2016 adalah sebesar Rp5.456,88 triliun. Nilai ini masih belum termasuk nilai hasil revaluasi yang saat ini masih dalam proses pelaksanaan untuk menunjukkan nilai aktual dari berbagai aset negara mulai dari tanah, gedung, jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit dan lainnya.

Sementara, hasil revaluasi aset tahun 2017 terhadap sekitar 40% aset negara menunjukkan bahwa nilai aktual aset negara telah meningkat sangat signifikan sebesar 239% dari Rp781 triliun menjadi Rp2.648 triliun, atau kenaikan sebesar Rp1.867 triliun. Nilai ini masih akan diaudit oleh BPK untuk tahun laporan 2017.

"Kenaikan kekayaan negara tersebut harus dilihat sebagai pelengkap dalam melihat masalah utang. Karena kekayaan negara merupakan pemupukan aset setiap tahun termasuk yang berasal dari utang," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sri Mulyani: Semua Punya...
Sri Mulyani: Semua Punya Utang, Negara Islam Juga
Utang Luar Negeri RI...
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp5.940 T, Stafsus Sri Mulyani: Negara Akan Mampu Membayar
April 2020, Utang Pemerintah...
April 2020, Utang Pemerintah Capai Rp5.172 Triliun
RI Peringkat Ketujuh...
RI Peringkat Ketujuh Negara Pengutang Terbesar, Kemenkeu: Masih di Zona Aman
Duh! Pemerintah Tambah...
Duh! Pemerintah Tambah Sempoyongan Nanggung Beban Utang
Duh, Beban Utang Pemerintah...
Duh, Beban Utang Pemerintah Sudah Sangat Mengkhawatirkan!
Berita Terkini
IHSG Siang Rebound 2,34%...
IHSG Siang Rebound 2,34% ke Level 5.881 Ditopang Saham Teknologi dan Perbankan
1 jam yang lalu
Ojol Keluhkan Harga...
Ojol Keluhkan Harga Pertamax Rp16.250 Kemahalan: Biasanya Naik Cuma Seribu, Ini 3 Ribu Lebih
1 jam yang lalu
Harga BBM Makin Mahal,...
Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
2 jam yang lalu
Harga Pertamax Rp16.250...
Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Pusing, Pengemudi Ojol dan Warga Teriak
3 jam yang lalu
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
4 jam yang lalu
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
5 jam yang lalu
Infografis
27 Negara Ini Terdeteksi...
27 Negara Ini Terdeteksi Radar dalam Jangkauan Rudal Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved