Dukung Nomadic Tourism, Kemenhub Siapkan Aturan Seaplane

Rabu, 28 Maret 2018 - 03:33 WIB
Dukung Nomadic Tourism,...
Dukung Nomadic Tourism, Kemenhub Siapkan Aturan Seaplane
A A A
JAKARTA - Pengembangan Nomadic Tourism yang digaungkan saat Rakornas Pariwisata I 2018 di Bali, direspons positif Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Peran Kemenhub dibutuhkan karena moda transportasi di Nomadic Tourism berbeda, yaitu seaplane, helicity, dan live on board.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tengah menyiapkan aturan untuk seaplane. Aturan tersebut akan berisi tentang aerodrome (pelabuhan udara) pesawat amphibi atau seaplane. Baik di pantai maupun di sungai. Juga mengenai jenis-jenis pesawat amphibi yang bisa beroperasi. Seaplane diharapkan bisa menjangkau destinasi di daerah-daerah terpencil.

"Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai garis pantai yang sangat panjang baik itu di pulau besar maupun pulau kecil. Selain itu kita juga punya sungai-sungai yang besar dan panjang," ujar Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso.

Menurutnya, jaman dulu, sungai dan laut menjadi sarana transportasi bagi penduduk di pulau-pulau kecil. Namun hambatannya banyak. Seperti ombak di laut yang besar. Atau terjadi pendangkalan di sungai. Akibatnya, kapal tidak bisa berlayar.

"Untuk itu kita siapkan transportasi udara dengan pesawat amphibi ini yang lebih cepat dan sedikit hambatannya," sambungnya. Menurut Agus, penyiapan aerodrome di perairan lebih murah dibandingkan di darat. Selain itu pencarian lokasinya juga relatif lebih mudah.

Karena tidak banyak hambatan geografis dibanding di daratan. Sedangkan di darat membutuhkan lahan datar yang luas. Tentunya harus minim hambatan (obstacle).

"Kita sedang siapkan regulasinya dengan mengacu pada Annex Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Terutama annex 14 tentang aerodromes serta UU no. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan dan Peraturan Menteri Perhubungan no. PM 74 tahun 2013 tentang CASR 139 Aerodromes," ujar Agus dalam keterangan resmi, Selasa (27/3/2018).

Dijelaskannya, peraturan baru ini akan berkaitan tentang tata cara operasional dan jenis-jenis pesawat amphibi yang bisa beroperasi. Peraturan ini juga harus diperhatikan pabrik pembuat pesawat, seperti PT Dirgantara Indonesia. Sebab PT DI berkeinginan melengkapi pesawat N219 dengan perlengkapan amphibi.

"Jadi nanti aturannya lengkap, terkait dengan operasional serta bisnis penerbangannya dan juga terkait dengan industri pesawatnya. Selama ini, kita masih memakai aturan-aturan dan kriteria yang dikembangkan oleh masing-masing produsen pesawat tersebut. Peraturan baru ini nantinya akan menjadi jaminan bagi operator untuk pengoperasian pesawat-pesawat amphibi di Indonesia dengan selamat, aman dan nyaman".

Agus mengharapkan aturan ini terwujud secepatnya. Sehingga, seaplane bisa menjadi transportasi massal di Indonesia. Dan tentunya mendukung Nomadic Tourism.

"Dan diharapkan angkutan amphibi ini bisa lebih menunjang pariwisata. Serta membuka keterisolasian daerah dan pulau-pulau terpencil yang tidak mempunyai bandar udara. Dengan demikian harga tiketnya menjadi lebih murah serta bisa dinikmati lebih banyak masyarakat terutama yang di pedalaman," ujarnya.

Dijelaskan Agus, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara selalu berupaya memberikan pelayanan untuk kepentingan konektivitas transportasi. Tidak hanya udara, tetapi juga antarmoda agar instruksi Presiden Jokowi untuk memperkuat konektivitas makin cepat terealisasi.

Seperti diketahui, Kementerian Pariwisata sedang menyiapkan Nomadic Tourism di 4 destinasi prioritas. Yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika dan Borobudur.

Menurut Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, salah satu sifat pariwisata jenis ini adalah sarana amenitas atau akomodasinya bisa dipindah-pindah. "Tren wisatawan mengalami perubahan. Salah satunya dengan Nomadic Tourism. Di sini, wisatawan selalu berpindah. Dan kita harus mengikuti itu," tuturnya.

Dijelaskan Menpar, dalam Nomadic Tourism, seaplane akan memegang peran penting. Karena, wisatawan bisa menjangkau destinasi di daerah terpencil. "Aksesibilitasnya yang sangat penting adalah seaplane. Sebab, bisa membawa wisatawan dari pulau ke pulau di Indonesia dengan lebih mudah dan cepat. Kita juga mengupayakan Nomadic Tourism siap pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali, Oktober nanti," paparnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Angkutan Laut Dibuka...
Angkutan Laut Dibuka 7 Juni, Kemenhub Minta Antisipasi New Normal
Jalankan Prinsip Pola...
Jalankan Prinsip Pola Kemitraan, Kemenhub Raih Penghargaan dari KPPU
Revitalisasi Terminal,...
Revitalisasi Terminal, Kemenhub Ingin Angkutan Massal Terintegrasi
Hapus Monopoli Jasa...
Hapus Monopoli Jasa Kepelabuhanan, Ditjen Hubla Teken Perjanjian Konsesi dengan PT LIS
UMI Terima Bantuan Mobil...
UMI Terima Bantuan Mobil Operasional dari Kementerian Perhubungan
Segini Gaji CPNS Kementerian...
Segini Gaji CPNS Kementerian Perhubungan 2024 untuk Lulusan SMA, Cek Formasinya Juga
Berita Terkini
IHSG Siang Rebound 2,34%...
IHSG Siang Rebound 2,34% ke Level 5.881 Ditopang Saham Teknologi dan Perbankan
17 menit yang lalu
Ojol Keluhkan Harga...
Ojol Keluhkan Harga Pertamax Rp16.250 Kemahalan: Biasanya Naik Cuma Seribu, Ini 3 Ribu Lebih
37 menit yang lalu
Harga BBM Makin Mahal,...
Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
1 jam yang lalu
Harga Pertamax Rp16.250...
Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Pusing, Pengemudi Ojol dan Warga Teriak
2 jam yang lalu
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
3 jam yang lalu
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
4 jam yang lalu
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved