Dukung Ketahanan Energi, Kontribusi Produksi NOC Harus Digenjot

Kamis, 29 Maret 2018 - 18:09 WIB
Dukung Ketahanan Energi,...
Dukung Ketahanan Energi, Kontribusi Produksi NOC Harus Digenjot
A A A
JAKARTA - Melihat perkembangan industri minyak dunia, pemerintah terus mendorong agar PT Pertamina (Persero) menjadi semakin kuat dari sisi hulu. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengemukakan, saat ini kontribusi produksi minyak Pertamina sebagai National Oil Company (NOC) terhadap nasional, belum sebesar NOC negara lain.

"Produksi NOC di dunia umumnya lebih dari 50% dibanding produksi total nasional. Misalnya, Petronas itu kontribusi produksinya di atas 80% dari produksi nasional Brazil. Saudi Aramco sekitar 99%, Petronas sekitar 58%. Sementara kontribusi produksi minyak Pertamina terhadap nasional baru sekitar 20%. Itulah salah satu alasan Pertamina harus lebih diperkuat, karena ketahanan energi itu dimulai dari supply," ujar Arcandra Tahar di Jakarta (29/3/2018).

Menurutnya, sisi hilir Pertamina juga memainkan peranan yang tak kalah penting dalam mendukung keuangan korporat, terutama saat harga minyak rendah. Namun ketika harga minyak tinggi, peran sisi hulu menjadi lebih dominan.

"Perusahaan migas kelas dunia itu selalu berpijak dengan dua kaki, upstream dan downstream. Sewaktu harga minyak tinggi, upstream berjaya. Sebaliknya saat harga minyak turun, downstream yang berjaya. Ini masalah risiko, aksi korporasi yang membalance antara risiko masa depan terhadap harga minyak," katanya.

Dalam membangun atau merevitalisasi kilang dalam rangka memitigasi risiko harga tersebut. Dengan kilang, terang dia biaya produksi BBM menjadi lebih efisien dibandingkan impor. Arcandra menjelaskan bahwa kebutuhan BBM Indonesia sekitar 1,7 juta barel per hari (bph) dan produksi dari kilang nasional sekitar 800 ribu per hari. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan BBM (minyak olahan) nasional masih diperlukan impor sekitar 900 ribu bph.

"Spread (perbedaan) antara impor BBM dengan produksi dari kilang ini mencapai 5%. Kalau dihitung dari harga BBM RON 92 di kisaran USD72-74 per barel, maka spread-nya sekitar USD3,5 per barel. Sehari kira-kira USD 3 juta, atau sekitar USD 1 miliar setahun efisiensinya," paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sumbang 30% Produksi...
Sumbang 30% Produksi Nasional, Blok Cepu jadi Produsen Minyak Terbesar di Indonesia
Hemat Devisa USD14 M...
Hemat Devisa USD14 M per Tahun, RI Uber Target Produksi Minyak 1 Juta BOPD
Pemerintah Pesimistis...
Pemerintah Pesimistis Target 1 Juta Barel Minyak Tercapai di 2030
Implementasi Manajemen...
Implementasi Manajemen Energi Tahun 2023 Hemat 10,42 Juta Setara Barel Minyak
Dukung Pengembangan...
Dukung Pengembangan EBT, Produsen Panel Surya Genjot Produksi
Target 1 Juta Barel...
Target 1 Juta Barel Minyak di 2030 Dinilai Tak Realistis, Begini Jawaban Kementerian ESDM
Berita Terkini
Laba Bank Mandiri Naik...
Laba Bank Mandiri Naik 25% Jadi Rp28,5 Triliun di Semester I-2026
9 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Lifting Perdana BBM B50, dari Kilang Kasim dan Plaju
36 menit yang lalu
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah ke 6.315, 309 Saham Berakhir di Zona Merah
57 menit yang lalu
AREA Indonesia Siap...
AREA Indonesia Siap Perkuat Kolaborasi Dukung Program 3 Juta Rumah
1 jam yang lalu
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
1 jam yang lalu
Mahasiswa Universitas...
Mahasiswa Universitas Paramadina Pelajari Investasi Syariah Bersama MNC Sekuritas
1 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Asia Diam-diam...
5 Negara Asia Diam-diam Dukung Israel, Salah Satunya Mayoritas Muslim
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved