Stunting Bisa Rugikan Negara 3% PDB per Tahun

Sabtu, 31 Maret 2018 - 13:37 WIB
Stunting Bisa Rugikan...
Stunting Bisa Rugikan Negara 3% PDB per Tahun
A A A
JAKARTA - Pemerintah memberikan perhatian serius terhadap masalah stunting (kurang gizi kronis). Sebab, stunting bisa berdampak buruk pada perekonomian. Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, persoalan stunting dapat memberikan dampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Potensi kerugian akibat stunting bisa mencapai 2-3% dari produk domestik bruto (PDB) per tahun.

"Kalau PDB dihitung Rp10.000 triliun saja, potensi kerugian hingga Rp200-300 triliun. Padahal yang saya tahu sekarang PDB kita Rp13.000 triliun. Sebaliknya, kalau kita bisa menurunkan stunting, itu angkanya enggak tanggung-tanggung, akan membawa keuntungan ekonomi 48 kali lipat dari investasi yang dikeluarkan," tandas Bambang di Jakarta, Jumat (30/3/2018).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, daerah dengan status darurat stunting di antaranya ada di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Barat dengan angka mencapai 40%. Sementara daerah hijau stunting ada di Bali dan Gorontalo. WHO mencatat, batas toleransi stunting maksimal 20% atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Sementara di Indonesia tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita adalah menderita stunting (35,6%). Selain itu, juga 18,5% balita berkategori sangat pendek dan 17,1% kategori pendek. Dari data ini, WHO menyimpulkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk.

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes) Eko Putro Sandjojo mengatakan, stunting tidak hanya berdampak pada perekonomian. Namun, juga menentukan Indonesia bisa menjadi negara maju atau tidak. "Setelah 72 tahun Indonesia merdeka, kita semua tahu bahwa Indonesia menjadi negara dengan GPD USD1 triliun. Diperkirakan pada 2030 nanti jika kita bisa pertahankan stabilitas sosial, politik, dan pertumbuhan ekonomi, maka GDP kita akan tembus USD2,5 triliun yang menempatkan pada kekuatan ekonomi nomor 9. Pada 2050 nanti, kita akan capai USD7,2 triliun. Pertumbuhan ekonomi itu hanya bisa dicapai kalau kita punya stabilitas sosial yang baik," katanya.

Menurut Eko, penanganan stunting ini perlu karena stunting bukan hanya membuat orang tidak bisa tumbuh tinggi dengan normal, juga berpengaruh pada pertumbuhan otak. Akan banyak masyarakat yang tidak bisa sekolah dan kalau pun memaksakan, maka butuh perjuangan yang berat. Stunting pun akan berdampak pada kondisi kesehatan sehingga menyebabkan biaya hidup yang mahal pada masa tuanya nanti.

Eko menjelaskan, tidak semua daerah yang kaya tidak ada kasus stunting. Contohnya beberapa kabupaten di Yogyakarta yang berstatus lumbung pangan pun, angka stunting-nya cukup tinggi. Stunting juga terjadi karena infrastruktur dasar di desa tidak memadai bagi warga untuk hidup sehat. "Seperti ketiadaan sarana air bersih, MCK, akses ke posyandu juga susah. Lalu ada juga masalah kemiskinan," katanya.

Karena itu, selama tiga tahun ini, katanya, dana desa tidak hanya untuk membangun infrastruktur yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi saja. Namun, juga untuk membangun infrastruktur dasar guna meningkatkan kualitas hidup manusia. Misalnya saja pembangunan MCK sebanyak 108.000 unit. Meski jumlah ideal MCK seharusnya ada 5 juta unit. Selanjutnya, 30.000 sarana air bersih serta posyandu dan polindes sebanyak 5.000 unit.

Pembangunan infrastruktur dasar ini dampaknya sangat masif. Sebab, dari tiga tahun pengucuran dana desa menurut BPS, angka kemiskinan di desa turun 4,5% atau turun 10 juta orang miskin di desa. Sementara angka stunting dalam tiga tahun turun 10%. Selain itu, dengan adanya produk unggulan kawasan perdesaan (prukades), juga bisa menurunkan angka kemiskinan di desa.

Dia menjelaskan, dengan adanya prukades itu, kepala daerah bisa memetakan potensi daerahnya. Pemerintah pun mempertemukan potensi tersebut dengan 19 kementerian/lembaga lain, sebab mereka pun memiliki program khusus membangun desa. Selain juga mengundang dunia usaha dan perbankan untuk membantu permodalan.
(amm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Berantas Kemiskinan,...
Berantas Kemiskinan, Cak Imin: Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional Mutlak Dibutuhkan
LKPJ Jatim 2019: Angka...
LKPJ Jatim 2019: Angka Kemiskinan Turun, Pertumbuhan Ekonomi Lampaui Nasional
Ramalan Bank Dunia Masih...
Ramalan Bank Dunia Masih Jauh, Laju Kemiskinan Indonesia Disebut Terkendali
Cara PNM Ikut Andil...
Cara PNM Ikut Andil dalam Penanganan Kemiskinan Ekstrem
Tahun Lalu Pemerintah...
Tahun Lalu Pemerintah Sukses Selamatkan Lima Juta Orang Jatuh Miskin
Angka Kemiskinan Indonesia...
Angka Kemiskinan Indonesia Turun, Ekonom Ragukan Data BPS
Berita Terkini
Obat Generik Bebas Tarif...
Obat Generik Bebas Tarif 2 Tahun, Lalu Melonjak Jadi 200%
1 jam yang lalu
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
1 jam yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
2 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
2 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
3 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
4 jam yang lalu
Infografis
Tahapan Penerimaan Sekolah...
Tahapan Penerimaan Sekolah Kedinasan 2026, Lulus Bisa Jadi Calon PNS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved