Penuhi Janji Kampanye, Duterte Ingin Hapus Sistem Kerja Kontrak

Kamis, 05 April 2018 - 16:38 WIB
Penuhi Janji Kampanye,...
Penuhi Janji Kampanye, Duterte Ingin Hapus Sistem Kerja Kontrak
A A A
MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte ingin memenuhi salah satu janji kampanyenya: mengakhiri praktik kerja kontrak. Mengutip dari Nikkei Asian Review, Kamis (5/4/2018), Duterte menyerukan kepada perusahaan-perusahaan besar di Filipina agar mengangkat karyawan kontrak menjadi pegawai tetap.

Departemen Tenaga Kerja Filipina pada Rabu kemarin, memerintahkan Jollibee Foods, perusahaan restoran cepat saji terbesar di Filipina, untuk menempatkan 6.500 karyawan dalam daftar gaji regular. Departemen juga meminta Jollibee mengembalikan uang 15,4 juta peso (USD295.500) dari "pungutan yang dikumpulkan secara ilegal," dari lebih 400 karyawan. Jollibee menyatakan bakal mengajukan banding atas perintah tersebut.

Departemen juga akan memeriksa praktik tenaga kerja di perusahaan makanan cepat saji lainnya, seperti KFC dan McDonald’s, yang dijalankan oleh unit Alliance Global Holdings.

Pada Januari lalu, Duterte menyerukan kepada PLDT (Philippine Long Distance Telephone Company), perusahaan telepon terbesar di negara itu, untuk mengangkat sekitar 8.000 karyawan menjadi tetap. PLDT menjawab akan mempertimbangkan keputusan tersebut.

Duterte yang menang telak dalam Pemilihan Presiden pada Mei 2016, telah berjanji untuk mengakhiri sistem kerja kontrak. Duterte mengatakan sistem kerja kontrak membuat banyak pekerja menjadi tidak terlindungi. “Sistem kerja kontrak harus dihentikan. Ini adalah ketidakadilan yang dilakukan terhadap rakyat Filipina. Aku tidak akan membiarkan itu jika terpilih sebagai presiden,” ujarnya dalam debat Pilpres.

Saat ini, sekitar 1,3 juta pekerja di Filipina merupakan karyawan kontrak, di mana mereka tidak memiliki jaminan atau manfaat jika perusahaan memutuskan kontrak kerjanya. Adapun kebiasaan perusahaan di Filipina mempekerjakan agen ketenagakerjaan sebagai pihak ketiga untuk menekan biaya pegawai.

Untuk memenuhi janji kampanye, Departemen Tenaga Kerja Filipina mengatakan bakal mengajukan perubahan undang-undang kepada Kongres. Hanya saja, masalah ini kerap dibenturkan antara menarik investasi dengan meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Terkait hal tersebut, Duterte meminta adanya jalan keluar antara serikat buruh dengan perusahaan. Duterte sendiri pada Februari lalu mengatakan kepada media lokal, "Jangan menyulitkan mereka (perusahaan) dalam menjalankan bisnis, karena itu adalah uang mereka".
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Filipina Cabut Larangan...
Filipina Cabut Larangan Pengiriman Tenaga Kerja ke Arab Saudi
Pulihkan Ekonomi, Sektor...
Pulihkan Ekonomi, Sektor Pariwisata Jadi Perhatian
Ekonomi Hijau Bisa Serap...
Ekonomi Hijau Bisa Serap 2,2 Juta Tenaga Kerja hingga 2060
Menaker: Mari Lindungi...
Menaker: Mari Lindungi PRT, Kontribusi ke Keluarga dan Ekonomi Tidak Sedikit
RUU Cipta Kerja Bisa...
RUU Cipta Kerja Bisa Menjadi Terobosan Pemulihan Ekonomi
Harapan RUU Ciptaker...
Harapan RUU Ciptaker Jadi Solusi Pemulihan Ekonomi, Opini Positif Terlihat
Berita Terkini
Pupuk Kaltim Perkuat...
Pupuk Kaltim Perkuat Green and Smart Port, Dukung Daya Saing Industri dan Logistik
10 menit yang lalu
Prabowo Merasa Berutang...
Prabowo Merasa Berutang ke Warga Maluku saat Resmikan LNG Abadi Masela: Janji Dibayar
18 menit yang lalu
Kirim Uang ke Luar Negeri...
Kirim Uang ke Luar Negeri Lebih Hemat: Pakai BRImo dan Nikmati Cashback Rp50.000
26 menit yang lalu
5 Negara Pengirim Modal...
5 Negara Pengirim Modal Terbesar ke Indonesia, Ini Rajanya dalam 10 Tahun Terakhir
42 menit yang lalu
Era Coretax Didorong...
Era Coretax Didorong Jadi Momentum Reformasi Pemotongan Pajak Penghasilan
1 jam yang lalu
IHSG Terus Berlari ke...
IHSG Terus Berlari ke Level 6.108 hingga Akhir Sesi, Transaksi Bursa Cetak Rp13,2 Triliun
1 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved