Putus Pipa Bawah Laut Pertamina Kemungkinan karena Jangkar

Selasa, 17 April 2018 - 16:28 WIB
Putus Pipa Bawah Laut...
Putus Pipa Bawah Laut Pertamina Kemungkinan karena Jangkar
A A A
JAKARTA - Putusnya pipa bawah laut kilang Pertamina di Teluk Balikpapan hingga membuat tumpahan minyak, diperkirakan yang menjadi penyebab yakni jangkar kapal. Direktur Eksekutif The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menerangkan, hal itu bisa dilihat dari beberapa fakta yang terungkap, termasuk melihat sepesifikasi kapal berbendera Panama Ever Judger yang terbakar.

“Kondisi pipa Pertamina sangat kuat, sehingga tidak mungkin akan patah tanpa energi yang sangat besar. Salah satu kemungkinan terbesar adalah karena tertarik jangkar kapal Ever Judger,” kata Siswanto di Jakarta, Selasa (17/4/2018)

Jangkar yang dimiliki kapal berbendera Panama tersebut, menurut Siswanto memang cukup besar. Dengan panjang sekitar 230 meter dan berat GT44060, dia menduga bahwa kapal memiliki dua jangkar di kiri dan kanan lambung. Dan masing-masing berat jangkar, lanjutnya, bisa mencapai 5-7 ton. “Jangkar seberat itu sangat mungkin memutuskan pipa Pertamina,” jelasnya.

Siswanto menambahkan, dalam keadaan statis, posisi jangkar bisa saja tidak menancap seperti anak panah. Perbedaan manuver peletakkan jangkar memang bisa berbeda, tergantung kapten kapal setelah memperhatikan arahan peta laut.

Jangkar yang berada dalam posisi melandai itulah, terang dia, sangat mungkin dimainkan arus. Ditambah menurutnya jika arus semakin kuat, bukan tidak mungkin menggeser posisi jangkar yang besar tadi. “Jangankan jangkar, kapal saja bisa tergeser oleh arus. Jadi, meski kelihatannya tenang, namun kekuatan arus bawah memang luar biasa,” lanjut dia.

Mengenai pelanggaran buang jangkar di lokasi kejadian, ujar Siswanto memang bisa saja terjadi. Pasalnya, meski otoritas pelabuhan sudah memberikan peringatan, namun kapten yang ‘nakal’ mungkin mengabaikan hal itu. Apalagi, posisi syahbandar sebagai otoritas berada di darat sedangkan kapten berada pada kapal.

Seharusnya, sambung Siswanto, yang bisa menjembatani antara keduanya adalah pandu. Dalam hal ini, seorang pandu ikut naik ke kapal dan memberi arahan kepada kapten. Hanya saja, dalam kasus kapal Ever Judger, tidak diketahui apakah pandu ikut naik ke kapal atau tidak.

“Inilah yang harus diinvestigasi lebih dalam. Mengapa sampai kapal tersebut diduga melanggar rambu-rambu dan membuang jangkar. Karena kalau tidak ada pandu, maka 100 persen navigasi berada di tangan kapten,” lanjut Siswanto.

Sementara itu, guru besar Universitas Indonesia (UI) Profesor Budyatna mendesak pihak berwenang untuk segera menuntaskan investigasi. Dengan demikian bisa diketahui, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas putusnya pipa Pertamina.

“Apalagi kalau benar bahwa semua itu disebabkan pelanggaran kapal berbendera Panama, kita tidak boleh kecolongan lagi seperti kasus serupa di Raja Ampat. Ketika itu, kapal sudah menghilang padahal terumbu karang kita hancur,” kata Budyatna.

Dalam konteks itu pula, Budyatna juga mendesak Pemerintah untuk segera bertindak. Jika benar dugaan bahwa kasus ini disebabkan pelanggaran kapal asing, harusnya, Pemerintah segera mengajukan gugatan melalui peradilan internasional. Langkah hukum ini sangat penting, agar tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari.

“Pemerintah jangan lemah. Kita kan punya banyak pakar hukum internasional. Kita tidak bisa membiarkan, mereka harus bertanggung jawab. Ini menyangkut kedaulatan negara kita,” lanjut dia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Operasi Pertamina Dipastikan...
Operasi Pertamina Dipastikan Aman, Fenomena di Teluk Bima Bukan Akibat Tumpahan Minyak
Terkait Kasus Tumpahan...
Terkait Kasus Tumpahan Minyak di Perairan Timor, Pemerintah Siapkan 2 Langkah Hukum
Tak Punya Ongkos Dedik...
Tak Punya Ongkos Dedik Seberangi Teluk Balikpapan Gunakan Galon
Tumpahan Minyak Kapal...
Tumpahan Minyak Kapal Tanker Menghitamkan Laut dan Pantai Singapura
Kasus Montara Mangkrak...
Kasus Montara Mangkrak 13 Tahun, Luhut: Terus Terang Saya Kesal, tapi Sudahlah
Shell Harus Bayar Ganti...
Shell Harus Bayar Ganti Rugi Lebih dari USD111 Juta untuk Tumpahan Minyak 50 Tahun Lalu
Berita Terkini
Rupiah Ambruk Tembus...
Rupiah Ambruk Tembus Rp17.900, IHSG Tiba-tiba Anjlok 2,35%
1 jam yang lalu
Gaya Hidup Miliarder,...
Gaya Hidup Miliarder, Begini Cara Keluarga Trump Membelanjakan Hartanya
2 jam yang lalu
Desa BRILiaN Ketapanrame,...
Desa BRILiaN Ketapanrame, Bukti Pemberdayaan Berbasis Potensi Lokal Mampu Ciptakan Ekonomi Desa yang Maju dan Berkelanjutan
2 jam yang lalu
HUT ke-14, JustMarkets...
HUT ke-14, JustMarkets Bagi-bagi Emas Batangan dan Total Hadiah USD50.000+
4 jam yang lalu
10 Rute Penerbangan...
10 Rute Penerbangan Internasional Tersibuk di Dunia, Jakarta-Singapura Masuk Daftar
4 jam yang lalu
PT IIM Buktikan Konsistensi...
PT IIM Buktikan Konsistensi Kinerja Historis dan Dampak Sosial di Tengah Volatilitas Pasar
14 jam yang lalu
Infografis
15 Perang yang Melibatkan...
15 Perang yang Melibatkan Tentara AS, Pernah Kalah karena 60.000 Pasukan Tewas Sia-sia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved