Mata Uang Rupee Tertekan, Ekonomi India Hadapi Masalah

Rabu, 09 Mei 2018 - 15:05 WIB
Mata Uang Rupee Tertekan,...
Mata Uang Rupee Tertekan, Ekonomi India Hadapi Masalah
A A A
NEW DELHI - Ekonomi India tumbuh 7,2% pada tahun 2017 lalu, melonjak dibandingkan tahun 2016 sebesar 6,5%. Tingkat pertumbuhan yang kuat ini, tulis Trading Economics, berkat lonjakan investasi dan konsumsi masyarakat. Namun memasuki tahun 2018 ini, ekonomi India seolah berputar, mengalami stres karena tekanan terhadap mata uang.

Mengutip CNBC, Rabu (9/5/2018), rupee India mengalami tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sejak awal 2018. Pada perdagangan Senin lalu, rupee jatuh ke titik terendah 15 bulan, dengan diperdagangkan di level 67,13 rupee per USD. Mata uang India ini sudah jatuh 5,15% terhadap greenback sepanjang tahun ini.

Bank Australia ANZ dan bank asal Belanda, ING memperkirakan rupee akan terus melemah ke depannya. "Analisa kami, rupee akan terus mengalami masalah karena faktor eksternal dan internal, yang mengekspos rupee menuju kelemahan cukup besar di 2018. Dan ini akan berlanjut," ujar Prakash Sakpal, ekonom Asia di ING.

Tekanan terhadap rupee, kata dia, menandakan adanya masalah pada ekonomi India, negara ekonomi terbesar ketiga di Asia. Penyebab masalah ini, demonetisasi mata uang yang dilakukan mendadak, penerapan pajak barang dan jasa yang belum berhasil, dan memuncaknya utang.

Masalah-masalah tersebut ditambah dengan kenaikan harga minyak baru-baru ini, yang mengancam menambah defisit negara pada saat pengeluaran pemerintah sedang meningkat.

India sendiri merupakan negara pengimpor minyak. Nomura Bank dari Jepang, menilai setiap kenaikan harga minyak USD10 per barel bisa memperburuk neraca transaksi berjalan 0,4% dan fiskal 0,1% dari PDB. Lanjut Nomura, ini bisa mencukur sekitar 15 basis poin dari pertumbuhan ekonomi India tahun ini.

Rupee yang melemah dan harga minyak yang lebih tinggi akan menyebabkan inflasi menjadi lebih cepat. Dapat mendorong Reserve Bank of India menaikkan suku bunga lebih awal dari yang diperkirakan. Dan kata analis, jika ekonomi belum menemukan pijakan yang stabil, hal ini bisa menggagalkan perbaikan ekonomi India.

Dan dengan tingkat suku bunga di Amerika Serikat yang akan meningkat lebih lanjut, India akan kembali menjadi korban. India adalah salah satu korban terbesar selama "Taper Tantrum" pada 2013.

Istilah Taper Tantrum merupakan julukan bagi reaksi pasar atas ucapan dan tindakan Bank Sentral Amerika Serikat. Istilah ini terkenal pada awal 2013, saat Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Ben Bernanke mengurangi pasokan uang beredar ke pasar dari USD85 miliar per bulan menjadi USD55 miliar. Kebijakan yang dilakukan dalam rangka pengetatan kebijakan moneter AS itu memantik reaksi pasar.

Para investor menarik dana-dana investasi portofolio dari negara berkembang untuk dialihkan ke AS. Akibatnya, nilai tukar mata uang negara-negara berkembang anjlok. Sementara kurs dolar AS mengalami penguatan.

Nah, untuk membela rupee, Reserve Bank of India mengatakan pemerintah bakal melakukan kegiatan ekonomi untuk mempercepat pemulihan rupee. Seperti peningkatan belanja modal dan meningkatkan permintaan global.

"Kami optimis rupee dapat menemukan pijakan ketika harga komoditas dan minyak stabil. Dan pertumbuhan ekonomi global yang berkelanjutan bisa mempersempit defisit transaksi berjalan, meningkatkan pendapatan, dan akhirnya memberi pijakan stabil bagi rupee," tulis mereka.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Walau Masuk BRICS, Ini...
Walau Masuk BRICS, Ini Alasan India Enggan Campakkan Dolar AS
BRICS Terpecah Soal...
BRICS Terpecah Soal Dedolarisasi, India Bongkar Fakta Mengejutkan
Rupiah Menguat saat...
Rupiah Menguat saat Banyak Mata Uang Asia Melemah
Tolak Buang Dolar AS,...
Tolak Buang Dolar AS, Apakah India Bakal Meninggalkan BRICS?
India Pilih Rangkul...
India Pilih Rangkul Dolar Daripada Mata Uang BRICS, Ini Alasannya
Dolar AS Kehilangan...
Dolar AS Kehilangan Mahkota, Jatuh ke Titik Terendah dalam 3 Tahun
Berita Terkini
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
1 jam yang lalu
MEKAR Kembangkan Ekosistem...
MEKAR Kembangkan Ekosistem Pembiayaan Produktif
1 jam yang lalu
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Guna Usaha Indonesia Catat Kinerja Unggul Selama 10 Tahun Berturut-turut
2 jam yang lalu
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Finance Catat Kinerja Terbaik Selama Lima Tahun Berturut-turut
2 jam yang lalu
Panda Bond Bakal Dinilai...
Panda Bond Bakal Dinilai Lembaga Rating China, Purbaya Tak Peduli Hasil S&P dan Moody's
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Optimalkan Distribusi BBM di Tengah Lonjakan Permintaan
2 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved