Diaspora Ditantang Bangun Industri Digital Tanah Air

Minggu, 05 Agustus 2018 - 10:05 WIB
Diaspora Ditantang Bangun...
Diaspora Ditantang Bangun Industri Digital Tanah Air
A A A
JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudi antara mengajak diaspora Indonesia untuk kembali ke Tanah Air membangun industri digital.

Langkah ini sekaligus untuk mendorong kontribusi anak bangsa dalam membangun Indonesia. Hal tersebut disampaikan Rudiantara dalam acara seminar mengenai diaspora bertema “3 Generasi B3rkolaborasi untuk RI”.

Acara ini di selenggarakan oleh Persatuan Mahasiswa Indonesia Seluruh Amerika Serikat (Permias) di mana menjadi tempat temu dan diskusi antara alumni AS, mahasiswa/i yang sedang berkuliah di AS, dan para pelajar yang akan atau tertarik untuk berkuliah di AS.

Rudiantara mengisahkan pada 2015-2016 ketika bertemu dengan diaspora Indonesia di Amerika Serikat saat berkunjung ke Silicon Valley. Saat itu dia menyatakan agar jangan kembali masuk ke digital Indonesia. Sebab, ungkapnya, saat itu ekosistem digital Indonesia belum baik.

“Pertanyaan mereka (diaspora) selalu ëapakah saya harus kembali ke Indonesia sekarang? Kalau saya kembali jadi apa?í Waktu itu saya katakan, jangan kembali (ke Indonesia) sekarang untuk masuk ke dunia digital. Karena saat itu ekosistemnya belum siap, nanti yang ada frustrasi,” tandas Rudiantara dalam sambutannya di Novotel Hotel, Jakarta, kemarin.

Namun, lanjutnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk kembali ke Indonesia untuk masuk ke industri digital. Sebab, ekosistem digital Tanah Air sudah berkembang pesat. Hal itu terlihat dengan adanya 4 startup unicorn Indonesia serta teknologi Palapa Ring untuk mendukung kecepatan internet yang tinggi.

“Kalau sekarang, saya berani mengatakan, kembalilah ke Indonesia. Saya siapkan ekosistem untuk kembali dalam konteks digital di Indonesia,” pintanya. Rudi menyatakan, dengan bonus demografi, Indonesia memiliki potensi yang besar dalam industri digital.

Mengingat, digital dibangun oleh para generasi muda. Hal terpenting, menurut dia, dalam mengidentifikasi permasalahan di Indonesia diperlukan solusi melalui digitalisasi. “Setiap permasalahan itu kesempatan. Itu ada proses bisnis di dalamnya.

Kalau jadi startup itu mempermudah proses bisnis. Go-Jek mengubah proses bisnis, biasanya ojek mangkal, sekarang kita panggil,” ujarnya. Dalam acara ini juga turut hadir beberapa pembicara yang sempat mengenyam pendidikan di luar negeri.

Di antaranya, Vice Coordinator MNC Business & Education College Jessica Tanoesoedibjo yang berbicara mengenai peningkatan pendidikan di Indonesia pada masa kini dan mendatang.

Selain itu, hadir pula Founder Axioo dan Sweet Escape David Soong yang berbicara tentang strategi untuk menstimulasi inovasi, serta Co-Founder IDN Media William Utomo yang berbicara tentang peran generasi muda dalam diskursus nasional melalui multimedia.

Jessica Tanoesoedibjo mengungkapkan, Indonesia telah lahir menjadi bangsa yang besar di mata dunia. “Indonesia sebagai negara yang majemuk terdiri atas beragam etnis dan budaya membentang dari Sabang sampai Merauke secara historis, bahkan politis bangsa ini disebut-sebut sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia,” ujarnya.

Selain itu, menurut Jessica, Indonesia memiliki bonus demografi yang potensial sebagai “negerinya anak muda” yang kelak akan bertanggung jawab atas keberlangsungan bangsa.

Dengan potensi itu, lanjutnya, generasi muda Indonesia melalui pendidikannya harus bisa ikut mendorong ekspansi kebangsaan, membuka akses seluas-luasnya untuk menjadikan Indonesia sebagai bagian dari bangsa yang tangguh di segala bidang dengan menjadi salah satu kekuatan dunia.

“Adalah dunia pendidikan sebagai akarnya pembangunan bangsa. Dimulai dari langkah strategis dalam pembenahan struktur tata laksana dan budaya yang berkomitmen pada kemajuan. Pemenuhan akses dan mutu pendidikan yang berorientasi global.

Kemudian ditopang pula oleh instrumen dan kebijakan yang bervisi jangka panjang, bertarget menembus persaingan dunia,” tandasnya. Mengingat persaingan global sudah di depan mata, ungkap Jessica, ketika ASEAN Economic Community dimulai, maka pendidikan harus bisa menjawab tantangan itu.

“Siap tidak siap, pendidikan Indonesia harus mampu menjawab tantangan tersebut sebagai produsen tenaga-tenaga ahli, pemikir, dan pelaku kompetisi dari berbagai bidangnya,” ujarnya.
(don)
Berita Terkait
Luar Biasa, Potensi...
Luar Biasa, Potensi Ekonomi Digital RI Tembus USD130 Miliar
Ajang Sinergi Kebijakan...
Ajang Sinergi Kebijakan Digitalisasi, FEKDI 2022 Resmi Dibuka
KTT G20 Beragendakan...
KTT G20 Beragendakan Transformasi Ekonomi Berbasis Digital
Infrastruktur Digital...
Infrastruktur Digital Topang Industri, 3 Perusahaan Ini Jadi Modelnya
Tingkatkan Ekonomi Digital,...
Tingkatkan Ekonomi Digital, Ganjar Serius Dukung Industri Esports
34 Perusahaan Dinilai...
34 Perusahaan Dinilai Telah Menerapkan Industri 4.0
Berita Terkini
KAI Group Angkut 16,3...
KAI Group Angkut 16,3 Juta Penumpang Selama Angkutan Lebaran 2025
1 jam yang lalu
Harga Minyak Ikut Lunglai...
Harga Minyak Ikut Lunglai Terpukul Tarif Resiprokal Trump
2 jam yang lalu
Pascalebaran, Harga...
Pascalebaran, Harga Beras, Bawang, Cabai, hingga Daging Mulai Turun
3 jam yang lalu
Mereda, Harga Emas Antam...
Mereda, Harga Emas Antam Hari Ini Turun ke Rp1.819.000 per Gram
3 jam yang lalu
Diguncang Tarif Trump,...
Diguncang Tarif Trump, Pasar Global Kacau Balau
5 jam yang lalu
Respons Kebijakan Tarif...
Respons Kebijakan Tarif Trump, Kadin: Pintu Negosiasi Masih Terbuka
6 jam yang lalu
Infografis
Iran Luncurkan Kota...
Iran Luncurkan Kota Rudal Bawah Tanah Berisi Ribuan Rudal Presisi
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved