Industri Manufaktur Diyakini Akan Jadi Ujung Tombak Ekonomi
Selasa, 07 Agustus 2018 - 21:01 WIB
Industri Manufaktur Diyakini Akan Jadi Ujung Tombak Ekonomi
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan bahwa industri pengolahan nonmigas menunjukkan kinerja yang positif pada kuartal II/2018. Pada periode tersebut industri pengolahan nonmigas tumbuh 4,41%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar 3,93%.
Tak hanya itu, sektor manufaktur juga konsisten menjadi kontributor terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yang tercatat di angka 19,83% pada kuartal II/2018.
"Tentu sekarang kita harus melihat ke depan, bahwa sektor manufaktur menjadi salah satu ujung tombak perekonomian Indonesia karena kontribusinya mencapai 18-20%. Jadi, pertumbuhan ekonomi kita tergantung dari sektor manufaktur," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya, Selasa (7/8/2018).
Adapun sektor-sektor yang menjadi penopang pertumbuhan industri pengolahan nonmigas di kuartal kedua tahun ini antara lain adalah industri karet, barang dari karet dan plastik yang tumbuh sebesar 11,85%, diikuti industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 11,38%.
Selanjutnya, pertumbuhan industri makanan dan minuman yang tembus 8,67% serta industri tekstil dan pakaian jadi yang mencapai 6,39%. Kinerja dari sektor-sektor manufaktur tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Airlangga menilai, momentum Lebaran dan Pilkada pada tahun ini berdampak positif terhadap naiknya permintaan domestik sehingga terjadi pula peningkatan produksi di sejumlah sektor manufaktur, seperti industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil, industri alas kaki, serta industri percetakan. "Apalagi tahun depan ada pemilu, demand produknya akan lebih banyak lagi," ujarnya.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang menunjukkan peningkatan pada kuartal II/2018 sebesar 4,36% secara year-on-year (yoy). Sementara itu, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada periode kuartal II/2018 juga mengalami kenaikan 4,93% (yoy).
Sedangkan, hasil survei Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari Nikkei juga menunjukkan, indeks PMI pada Juli 2018 naik menjadi 50,5 dibanding Juni 2018 yang mencapai 50,3. Indeks PMI di atas 50 menunjukkan industri mampu ekspansi.
"Kenaikan PMI ini sangat positif, membuktikan bahwa industri manufaktur kita sedang bergeliat. Makanya, kami harus jaga dan terus dorong agar lebih produktif dan berdaya saing," tutur Airlangga.
Nikkei juga menyatakan bahwa hingga Juli, jumlah bisnis baru di Indonesia naik selama enam bulan berturut-turut. Selain itu, tingkat ketenagakerjaan di sektor manufaktur Indonesia juga naik selama dua bulan berturut-turut.
Menperin optimistis, pertumbuhan industri manufaktur nasional akan lebih meningkat pada kuartal III atau semester II tahun ini. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif di dalam negeri agar perusahaan-perusahaan bisa lebih agresif dan ekspansif sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Tidak hanya itu, berdasarkan laporan UNIDO, Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dari 15 negara yang industri manufakturnya memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia mampu menyumbangkan hingga mencapai 22% setelah Korea Selatan (29%), China (27%), dan Jerman (23%).
Tak hanya itu, sektor manufaktur juga konsisten menjadi kontributor terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yang tercatat di angka 19,83% pada kuartal II/2018.
"Tentu sekarang kita harus melihat ke depan, bahwa sektor manufaktur menjadi salah satu ujung tombak perekonomian Indonesia karena kontribusinya mencapai 18-20%. Jadi, pertumbuhan ekonomi kita tergantung dari sektor manufaktur," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya, Selasa (7/8/2018).
Adapun sektor-sektor yang menjadi penopang pertumbuhan industri pengolahan nonmigas di kuartal kedua tahun ini antara lain adalah industri karet, barang dari karet dan plastik yang tumbuh sebesar 11,85%, diikuti industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 11,38%.
Selanjutnya, pertumbuhan industri makanan dan minuman yang tembus 8,67% serta industri tekstil dan pakaian jadi yang mencapai 6,39%. Kinerja dari sektor-sektor manufaktur tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Airlangga menilai, momentum Lebaran dan Pilkada pada tahun ini berdampak positif terhadap naiknya permintaan domestik sehingga terjadi pula peningkatan produksi di sejumlah sektor manufaktur, seperti industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil, industri alas kaki, serta industri percetakan. "Apalagi tahun depan ada pemilu, demand produknya akan lebih banyak lagi," ujarnya.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang menunjukkan peningkatan pada kuartal II/2018 sebesar 4,36% secara year-on-year (yoy). Sementara itu, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada periode kuartal II/2018 juga mengalami kenaikan 4,93% (yoy).
Sedangkan, hasil survei Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari Nikkei juga menunjukkan, indeks PMI pada Juli 2018 naik menjadi 50,5 dibanding Juni 2018 yang mencapai 50,3. Indeks PMI di atas 50 menunjukkan industri mampu ekspansi.
"Kenaikan PMI ini sangat positif, membuktikan bahwa industri manufaktur kita sedang bergeliat. Makanya, kami harus jaga dan terus dorong agar lebih produktif dan berdaya saing," tutur Airlangga.
Nikkei juga menyatakan bahwa hingga Juli, jumlah bisnis baru di Indonesia naik selama enam bulan berturut-turut. Selain itu, tingkat ketenagakerjaan di sektor manufaktur Indonesia juga naik selama dua bulan berturut-turut.
Menperin optimistis, pertumbuhan industri manufaktur nasional akan lebih meningkat pada kuartal III atau semester II tahun ini. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif di dalam negeri agar perusahaan-perusahaan bisa lebih agresif dan ekspansif sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Tidak hanya itu, berdasarkan laporan UNIDO, Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia dari 15 negara yang industri manufakturnya memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia mampu menyumbangkan hingga mencapai 22% setelah Korea Selatan (29%), China (27%), dan Jerman (23%).
(fjo)
Lihat Juga :