Membangun Industri Kapal Nasional Bisa Atasi Gejolak Rupiah

Kamis, 06 September 2018 - 16:38 WIB
Membangun Industri Kapal...
Membangun Industri Kapal Nasional Bisa Atasi Gejolak Rupiah
A A A
JAKARTA - Menyikapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), kalangan usaha industri galangan kapal Indonesia berharap pemerintah tetap fokus dan konsisten membangun industri galangan kapal di dalam negeri. Sebagai industri maritim, galangan kapal dinilai perlu didorong sebagai industri unggulan.

Ketua Umum Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Eddy Kurniawan Logam mengatakan, saat ini kemudahan justru diberikan untuk impor kapal secara utuh melalui pembebasan bea masuk dan PPN.

"Bukankah kalau impornya tinggi apalagi impor utuh justru semakin memberatkan nilai tukar rupiah kita terhadap dolar? Sebaliknya untuk membangun kapal di dalam negeri, industri galangan masih dibebani PPN, bea masuk serta larangan terbatas untuk komponen tertentu. Ini belum lagi ditambah dengan suku bunga pinjaman yang hampir tiga kali lipat dibanding negara seperti Tiongkok," ujar dia di Jakarta, (6/9/2018).

Dia mengakui pembangunan kapal-kapal di dalam negeri masih membutuhkan komponen impor 65% hingga 70%. Namun begitu, jika produksi kapal-kapal dalam negeri tersebut bisa diekspor ke berbagai negara, Indonesia bisa berbalik menjadi penghasil devisa.

"Saya optimistis, kalau fokus, industri komponen kapal secara perlahan juga akan ikut lahir. Sehingga kita yang bercita-cita sebagai negara industri berbasis ekspor bisa ke arah sana," ungkapnya.

Saat ini impor kapal sulit dihindari, sebab negara-negara seperti Korea, Jepang dan China menawarkan harga yang sangat menarik ditunjang dengan skema pembayaran yang mudah. "Perbankan mereka memberikan pembiayaan dengan suku bunga rendah yang ditunjang dengan insentif bagi kapal-kapal yang diekspor," pungkasnya.

Saat ini, Indonesia telah menjadi pasar industri maritim bagi negara-negara lain sejak 2006 silam. Tercatat hampir 10.000 unit kapal utuh masuk dengan perkiraan nilai rupiah mencapai Rp100 triliun.

"Kapal utuh impor yang masuk ini, tentu bayarnya bukan menggunakan rupiah, namun dolar. Ini yang harus menjadi perhatian. Apalagi, biasanya pengangkutan sektor sumber daya alam kita seperti batu bara, dan hasil alam lainnya cenderung bergairah di saat nilai rupiah kita rontok," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dukung Pelaku Industri...
Dukung Pelaku Industri Perkapalan, Menko Airlangga Tinjau Langsung Produksi KRI Teluk Palu
Jadi Bos Baru PT PAL,...
Jadi Bos Baru PT PAL, Ini Rekam Jejak Kaharuddin di Industri Perkapalan
PT DPL Berhasil Docking...
PT DPL Berhasil Docking Kapal yang ke Seribu
Miris! Pemerintah Impor...
Miris! Pemerintah Impor Kapal di Saat Usaha Galangan Lokal Sepi Proyek
Industri Galangan Kapal...
Industri Galangan Kapal Terus Menggeliat Jawab Keraguan Presiden
Purbaya Sentil Impor...
Purbaya Sentil Impor Kapal Bekas: Orang Kita Jago, Cuma Tak Dikasih Kesempatan
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
9 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
9 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
10 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
10 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
10 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
11 jam yang lalu
Infografis
Melawan Houthi, Kapal...
Melawan Houthi, Kapal Induk Eisenhower AS Bisa Kehabisan Tenaga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved