Sandi: Terpuruknya Rupiah Karena Lemahnya Fundamental Ekonomi

Jum'at, 07 September 2018 - 21:33 WIB
Sandi: Terpuruknya Rupiah...
Sandi: Terpuruknya Rupiah Karena Lemahnya Fundamental Ekonomi
A A A
JAKARTA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dianggap karena lemahnya fundamental ekonomi nasional. Hal tersebut merupakan sikap Koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno usai menggelar pertemuan sejak sore tadi.

"Kami amat prihatin dengan melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan yang tentunya memberatkan perekonomian nasional, khususnya rakyat kecil," ujar bakal calon Wakil Presiden Sandiaga Uno dalam konferensi pers di Rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/9/2018) malam.

Sebab, kata dia, cepat atau lambat rakyat kecil harus menanggung kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, termasuk harga kebutuhan makanan sehari-hari rakyat kecil, seperti tahu dan tempe. "Melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan itu karena lemahnya fundamental ekonomi kita," kata mantan wakil gubernur DKI Jakarta ini.

Dia melanjutkan, defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan melebar. Selain itu, sambung Sandi, sektor manufakturing yang menurun dan pertumbuhan sektor manufakturing yang di bawah pertumbuhan ekonomi.

"Sektor manufakturing yang pernah mencapai hampir 30% dari PDB pada tahun 1997, sekarang tinggal 19% dari PDB. Hal ini tentu mengganggu ketersediaan lapangan kerja dan ekspor kita," kata Sandiaga.

Selain itu, kata dia, melemahnya fundamental ekonomi karena selama ini terjadi suatu kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi. Antara lain, kata dia, tidak berhasilnya pemerintah dalam mendayagunakan kekuatan ekonomi rakyat.

"Sehingga kebutuhan pangan semakin tergantung pada impor seperti beras, gula, garam, bawang putih, dan lain-lain," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah perlu lebih waspada dan mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi keadaan yang dihadapi. Antara lain, mendayagunakan ekonomi nasional untuk mengurangi impor pangan dan impor barang konsumsi yang tidak urgent, bersifat pemborosan, dan barang mewah yang ikut mendorong kenaikan harga-harga bahan pokok.

Kemudian, mengurangi secara signifikan pengeluaran pengeluaran APBN dan APBD yang bersifat konsumtif, seremonial, dan yang tidak mendorong penciptaan lapangan kerja. "Semoga Allah SWT akan senantiasa memberi taufik dan hidayahnya serta meridhoi kehidupan berbangsa dan bernegara kita," pungkasnya.

Dalam konferensi pers itu hadir Prabowo Subianto, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. Kemudian, elite Partai Gerindra, Ahmad Muzani, Fadli Zon, dan Fuad Bawazier serta Ketua DPP PAN Yandri Susanto.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pengamat Ekonomi : Pelemahan...
Pengamat Ekonomi : Pelemahan Rupiah Tak Bisa Jadi Satu-satunya Indikator Ekonomi Indonesia
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
Rupiah Terlindas Dolar...
Rupiah Terlindas Dolar AS, Pasar Pesimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2024 Capai 5,7%
Jika Rupiah Tembus Rp20...
Jika Rupiah Tembus Rp20 Ribu, Akademisi Proyeksikan Ekonomi RI Hanya Tumbuh 3%
Kesinambungan Melemahnya...
Kesinambungan Melemahnya Rupiah: Kolonisasi Sistem dan Mental
Rupiah Amblas Saat Ekonomi...
Rupiah Amblas Saat Ekonomi Negeri Paman Sam Pulih
Berita Terkini
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
3 menit yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
20 menit yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
52 menit yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
1 jam yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
1 jam yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
1 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved