Bisnis Migas Lepas Pantai Inggris Terancam Mati Pasca Brexit

Selasa, 11 September 2018 - 18:06 WIB
Bisnis Migas Lepas Pantai...
Bisnis Migas Lepas Pantai Inggris Terancam Mati Pasca Brexit
A A A
LONDON - Sektor minyak dan gas (migas) Inggris khususnya lepas pantai terancam harus gulung tikar alias bangkrut, apabila kesepakatan Brexit membuat perusahaan sulit untuk mengakses pekerja terampil yang kebanyakan berasal dari Uni Eropa (UE). Kecemasan terkait kesepakatan Inggris keluar dari UE berimbas ke sektor tenaga kerja, diungkapkan laporan industri terbaru.

Dilansir BBC, Selasa (11/9/2018) peringatan ini muncul dalam laporan ekonomi terbaru di sektor minyak dan gas Inggris. Diungkapkan penundaan dalam mengakses pasar tenaga kerja dari negara-negara Uni Eropa, berpotensi dalam beberapa kasus menyebabkan produksi migas bakal terhenti. Sementara itu, pemerintahan Inggris mengklaim pengusaha dapat melakukan perekrutan dari Eropa hingga 2020.

Di sisi lain, dalam laporan dinyatakan bahwa sekitar 5% pekerja di sektor minyak dan gas Inggris berasal dari negara-negara UE serta lainnya. Angka tersebut naik menjadi 7% untuk tenaga kerja kilang migas lepas pantai. "Sangat penting bahwa aturan baru bisa diberlakukan antara Inggris dan Uni Eropa sehingga memungkinkan pergerakan masyarakat tanpa gesekan," bunyi laporan tersebut.

Salah satu contoh yang terkait dengan kapal tanggap darurat ditempatkan dekat dengan platform, yang membutuhkan insinyur terampil untuk beroperasi. Diterangkan juga apabila timbul kesulitan dalam merekrut tenaga kerja, maka perusahaan harus menutup operasi dan produksi. Maka guna meminimalisir dampak Brexit, sektor migas Inggris menerangkan, sangat penting pemerintah Inggris menjamin akses ke pasar dan tenaga kerja.

Hal itu untuk mempertahankan suara yang kuat di Eropa untuk industri, dan melindungi pasar energi internal. Sementara, Laporan Ekonomi 2018 mengungkapkan bahwa harga minyak pada paruh pertama tahun ini 30% lebih tinggi dari 2017, rata-rata lebih dari USD70 per barel. Hal ini seiring dengan dorongan yang terus berlanjut untuk menurunkan biaya, yang diperkirakan telah menciptakan lebih dari 10 miliar poundsterling.

Tetapi investor menerangkan, "akan terus mendukung pandangan konservatif" karena volatilitas harga minyak yang terus berlanjut. "Industri dalam kondisi gawat dengan kemerosotan paling tajam sepanjang sejarah. Namun, langkah-langkah yang telah diambil oleh industri, pemerintah dan regulator telah memberikan hasil nyata," ujar Kepala Eksekutif Deirdre Michie

"Meskipun perbaikan terlihat dalam beberapa tahun terakhir, kami tetap berada di persimpangan jalan. Aktivitas pengeboran rendah, ditambah dengan tekanan rantai pasokan, mengancam kemampuan industri untuk secara efektif melayani peningkatan aktivitas dan memaksimalkan pemulihan ekonomi," paparnya.

Lebih lanjut Ia menegaskan, akan terus mendorong peningkatan aktivitas sambil terus mencari dan menerapkan cara kerja yang lebih efisien yang mendukung kesehatan perusahaan rantai pasokan dan di sisi lain menjaga biaya tetap terkendali. Laporan itu mengatakan biaya produksi minyak telah berkurang separuh sejak puncaknya dan sekarang rata-rata sekitar USD15 per barel.

Seorang juru bicara Departemen Bisnis, Energi, dan Strategi Industri mengatakan: "Industri minyak dan gas sangat penting bagi ekonomi dan keamanan energi Inggris. Itulah sebabnya kami menyediakan paket dukungan senilai 2,3 miliar poundsterling.

"Warga Uni Eropa memberikan kontribusi besar pada industri minyak dan gas dan kami memberikan kepastian kepada industri bahwa para pengusaha akan bebas untuk terus merekrut dari Eropa hingga 2020."
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menanti Gebrakan Ekonomi...
Menanti Gebrakan Ekonomi PM Inggris Rishi Sunak
Keuangan Inggris Terburuk...
Keuangan Inggris Terburuk Sejak 1945, Menkeu Baru Rachel Reeves Salahkan Pendahulunya
Ekonomi Inggris di Ambang...
Ekonomi Inggris di Ambang Kolaps, Krisis 1976 Bakal Terulang?
Inggris Masih Resesi,...
Inggris Masih Resesi, Ekonominya Minus 9,6 Persen pada Kuartal III
5 Fakta Resesi Ekonomi...
5 Fakta Resesi Ekonomi Inggris dan Apa Saja Dampaknya
Ekonomi Inggris Jatuh...
Ekonomi Inggris Jatuh ke Dalam Resesi pada Akhir 2023
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
36 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
1 jam yang lalu
BUMN Mulai Pangkas Anak...
BUMN Mulai Pangkas Anak Usaha, dari Pupuk Indonesia sampai PLN
1 jam yang lalu
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
2 jam yang lalu
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
2 jam yang lalu
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
3 jam yang lalu
Infografis
5 Bandara Paling Sepi...
5 Bandara Paling Sepi di Indonesia, Bandara Purbalingga Mati Suri
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved