Dow Jones Lompat 251 Poin, Rekor Penutupan Tertinggi Sejak Januari

Jum'at, 21 September 2018 - 07:35 WIB
Dow Jones Lompat 251...
Dow Jones Lompat 251 Poin, Rekor Penutupan Tertinggi Sejak Januari
A A A
NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis setempat, meski kekhawatiran perdagangan masih melanda antara AS dengan China.

Namun, kalangan investor Amerika menyatakan ketegangan perdagangan kedua negara hanya "Pertempuran Dagang" bukan perang dagang yang bersifat global yang selama ini digembar-gemborkan oleh media. Sehingga pasar mulai terbiasa soal kabar ketegangan perdagangan dan bukan sesuatu hal mengkhawatirkan.

Mengutip CNBC, Jumat (21/9/2018), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melonjak 251,22 poin menjadi 26.656,98, berkat kenaikan saham Boeing sebesar 0,6% dan saham Caterpillar menguat 2,1%. Ini merupakan rekor penutupan tertinggi sejak Januari 2018.

Indeks S&P 500 juga meningkat 0,8% menjadi 2.930,75, yang merupakan level tertinggi sepanjang masa. Kenaikan S&P 500 didorong oleh menguatnya saham konsumer dan teknologi. Presiden AS Donald Trump langsung memberi ucapan selamat lewat twitternya. "S&P 500 HITS ALL-TIME HIGH. Congratulations USA!".

Nasdaq bertambah 1% menjadi 8.028,23, karena saham Amazon naik 1%, dimana mereka meluncurkan perangkat baru yang disambut positif oleh Alexa. Nasdaq juga mendapat tenaga dari Apple yang sahamnya ditutup naik 0,8%.

"Saya pikir pasar mulai menjauh dari ketakutan perang dagang global. Karena ketegangan perdagangan hanya dengan China," kata Brent Schutte, kepala strategi investasi di Northwestern Mutual Wealth Management. "Sebelumnya banyak negara menganggap terjebak dalam perang dagang. Tetapi sekarang dampaknya hanya satu (China)," sambungnya.

Ketegangan perdagangan kedua negara ekonomi besar dunia memasuki tahap baru pada pekan ini. Pada Senin lalu, Pemerintah AS mengumumkan akan menaikkan tarif impor produk China senilai USD200 miliar, dari semula 10% menjadi 25% pada akhir tahun. Sehari berselang, China membalas akan menargetkan 5.000 produk Amerika senilai USD60 miliar dengan tarif masuk 25%. Selain itu, China juga "merengek" kepada WTO untuk memberi sanksi kepada AS.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
6 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
7 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
7 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
8 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
8 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
8 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Tingkat...
10 Negara dengan Tingkat Pendidikan Tertinggi di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved