Kebijakan Fiskal Mulai Tampakkan Hasil

Rabu, 07 November 2018 - 13:44 WIB
Kebijakan Fiskal Mulai...
Kebijakan Fiskal Mulai Tampakkan Hasil
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah terus berkolaborasi dengan meluncurkan sejumlah kebijakan baru untuk menekan dan mengelola defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD).

Kebijakan ini diperlukan untuk mengendalikan pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS. Kebijakan tersebut dinilai berhasil seiring dengan penguatan mata uang rupiah beberapa hari terakhir.

“Sudah mulai terlihat, namun memang belum bisa dilihat secara maksimal,” kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Jakarta, kemarin. Perbaikan kinerja terhadap neraca perdagangan memang terus digenjot pemerintah.

Sebagaimana diketahui, kondisi defisit pada transaksi berjalan merupakan salah satu penyebab dari melemahnya mata uang rupiah. Menurut Dody, hasil dari penerapan berbagai kebijakan itu kemungkinan baru akan bisa terlihat lebih banyak pada kuar tal IV/2018.

Karena kebijakan tersebut baru di terbitkan sekitar September 2018 lalu, maka hasilnya pun masih relatif belum begitu terasa. Kebijakan pada sejumlah aspek, seperti investasi dan infrastruktur, disebutkan Dody, masih terus berlangsung.

Sedangkan untuk impor barangbarang nonstrategis seperti konsumsi dinilainya sudah relatif lebih rendah. “Angka pertumbuhan impor riil sendiri pada kuartal III/2018 lebih rendah di bandingkan kuartal II/2018.

Jangan langsung kita lihat dampak impornya langsung berkurang. Karena bagaimanapun ada impor untuk capex (capital expenditure) itu yang terus berjalan,” kata Dody.

Selain itu, langkah yang ditempuh BI adalah dalam bentuk menaikkan suku bunga yang bertujuan agar daya tarik aset keuangan Indonesia tetap menarik. BI menargetkan dengan berbagai bauran kebijakan yang dilakukan, tren defisit transaksi berjalan akan me nurun lebih jauh pada akhir 2018, yakni di bawah 3% dari PDB.

Langkah stabilisasi fiskal akan membuat CAD pada 2019 akan turun lagi diperkirakan 2,5% dari PDB. Sementara itu, nilai tukar yang relatif stabil di bawah Rp15.000 atau depresiasi sebesar 10,6%, menurut Dody, karena langkah-langkah dari pemerintah dan BI dalam menekan defisit transaksi berjalan.

“Bank Indonesia akan terus menjaga rupiah tetap berada di fundamentalnya,” katanya. Stabilisasi rupiah akan terus dilakukan, meski tentu dalam beberapa hal, seperti memainkan suku bunga, intervensi, dan nilai tukar itu sendiri didepresikan secara gradual.

“Jika dilihat dari sisi regional rupiah masih stabil,” ujarnya. Pemerintah dalam beberapa bulan terakhir memang telah berkomitmen untuk ikut menjaga defisit transaksi berjalan melalui berbagai kebijakan yang memang sudah dikeluarkan.

Mulai dari mandatori B20 sampai dengan pengendalian ribuan impor barang konsumsi untuk menekan lonjakan impor yang menjadi salah satu biang kerok defisit transaksi berjalan tekor.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, Kamis (1/11) lalu, menegaskan kebijakan tersebut tak serta merta langsung menurunkan defisit transaksi berjalan. Dibutuhkan waktu lebih untuk melihat efektivitas kebijakan pemerintah.

“Kalau lihat momentum defisit transaksi berjalan, tidak mungkin langsung drop. Karena pertumbuhan ekonomi kita sedang meningkat,” kata Sri Mulyani.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menuturkan, dengan mempertimbangkan kon disi neraca perdagangan Januari hingga September yang defisit, maka diperkirakan CAD hingga akhir tahun masih akan defisit.

Dia memprediksi defisit tran saksi berjalan akan melebar di atas 2,5% PDB atau bahkan melewati 3% PDB. “Sampai dengan September CAD kita su dah di kisaran 2,5% dan selama kuartal IV, CAD dipastikan akan bertambah karena defisit neraca perdagangan barang dan jasa serta yang lebih besar neraca pendapatan primer,” ujarnya.

Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM Jameel Ahmad menilai pekan ini secara umum akan sibuk bagi pasar berkembang. Ini bermakna volatilitas rupiah masih mungkin terus berlanjut.

Ada beberapa risiko peristiwa di pasar global berperan penting dalam menentukan arah pasar berkembang. Rapat Federal Reserve dan pemilu paruh waktu mendatang di Amerika Serikat adalah dua peristiwa yang akan dipantau investor dengan sangat cermat.

“Pemilu paruh waktu biasanya tidak dianggap sebagai peristiwa besar di pasar finansial, tapi ketidakpastian yang ber kelanjutan mengenai pemerintahan Trump berarti investor bisa saja lebih reaktif terhadap peristiwa ini,” kata Jameel.

Adapun PDB kuartal III yang mencapai 5,17%, pasar masih memandang bahwa ekonomi Indonesia terancam melambat karena ketegangan perang dagang AS-China yang berkepanjangan. Ini tetap men jadi kekhawatiran besar di pasar berkembang yang sangat bergantung pada perdagangan global. (Kunthi Fahmar Sandy)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Headwind Ekonomi Global...
Headwind Ekonomi Global 2024 Masih Akan Besar, Jaga Fiskal Tetap Sehat Jadi PR
Membaca Arah Baru Fleksibilitas...
Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
Fraksi PAN Berikan Pandangan...
Fraksi PAN Berikan Pandangan Kebijakan Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal RAPBN 2021
Pledoi Industri Rokok...
Pledoi Industri Rokok atas Tekanan Kebijakan Pemerintah
Belanja Perpajakan RI...
Belanja Perpajakan RI Tembus Rp323,5 Triliun di 2022, Berikut Rinciannya
Kebijakan Fiskal atau...
Kebijakan Fiskal atau Moneter ?
Berita Terkini
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
20 menit yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
40 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
1 jam yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
1 jam yang lalu
Kepercayaan Konsumen...
Kepercayaan Konsumen Antarkan KARA Raih Empat Penghargaan IOB Award 2026
1 jam yang lalu
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
1 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved