ADB Sebut Pasar Obligasi Indonesia Paling Cepat Berkembang

Rabu, 21 November 2018 - 16:07 WIB
ADB Sebut Pasar Obligasi...
ADB Sebut Pasar Obligasi Indonesia Paling Cepat Berkembang
A A A
MANILA - Risiko jangka pendek terus membayangi pasar obligasi mata uang Asia Tenggara yang bermunculan. Hal ini dikarenakan kenaikan suku bunga AS alias Fed rate yang lebih cepat dari perkiraan, dan meningkatnya ketegangan perdagangan global.

Kondisi pengetatan likuiditas memperburuk risiko dari pertumbuhan cepat utang swasta di kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir. Depresiasi mata uang regional dan arus keluar modal menimbulkan risiko lebih lanjut terhadap stabilitas keuangan kawasan.

Kendati demikian Asian Development Bank (ADB) menyebutkan, pasar obligasi Indonesia merupakan yang paling cepat berkembang di wilayah tersebut pada kuartal ketiga, membukukan 5,9% triwulan 13,9% ekspansi tahunan menjadi USD 185,0 miliar pada peningkatan penjualan obligasi pemerintah.

"Ini mengikuti kuartal kedua yang hangat akibat dari lelang yang gagal karena pasar mencari hasil lebih tinggi. Pasar obligasi pemerintah dalam periode Juli hingga September meningkat 6,2% setiap kuartal dan 13,5% pada tahun menjadi USD157,0 miliar. Pasar obligasi korporasi tumbuh 4,1% pada kuartal dan 16,5% pada tahun ke USD28,0 miliar," ujar Kepala Ekonom ADB, Yasuyuki Sawada dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Lanjut dia menerangkan, imbal hasil obligasi naik selama kuartal ini sejalan dengan kenaikan suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI-7 day repo rate) yang dimaksudkan untuk mempertahankan selera investor. "Pasar obligasi negara sangat sensitif terhadap perkembangan pasar global karena investor asing terdiri dari kelompok investor terbesar dalam obligasi pemerintah," jelasnya.

Dia menambahkan, kekhawatiran tentang pasar negara berkembang sedang menjulang, tetapi pada dasarnya fundamental Asia yang kuat harus menarik investor kembali ke pasar obligasi mata uang lokal di kawasan itu. "Namun demikian, para pembuat kebijakan di kawasan itu harus memantau perkembangan dan menjaga penjagaan terhadap potensi guncangan," terang dia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dapat Angin Segar dari...
Dapat Angin Segar dari China, ADB Ramal Negara Berkembang Asia Mengakhiri 2023 Lebih Cerah
Proyeksi ADB: Perdana...
Proyeksi ADB: Perdana dalam 3 Dekade, Pertumbuhan Asia Bakal Melewati China
BCA Cetak Rekor, Penjualan...
BCA Cetak Rekor, Penjualan Obligasi ORI017 Capai Rp4,5 Triliun
Yuk, Beli Nggak? Penawaran...
Yuk, Beli Nggak? Penawaran Sukuk Ritel SR013 Bank Mandiri Tutup Dua Hari Lagi Lho..
Polytama Propindo Tawarkan...
Polytama Propindo Tawarkan Kupon Obligasi 12%
Obligasi BTN Luber,...
Obligasi BTN Luber, Kelebihan Permintaan Sebanyak 1,8 Kali
Berita Terkini
Raih Predikat Tertinggi...
Raih Predikat Tertinggi IRCA Dua Kali Berturut-turut, GDPS Tegaskan Budaya Kepatuhan
52 menit yang lalu
Acaraki Jamu Festival...
Acaraki Jamu Festival 2026 Dorong Jamu Jadi Penggerak Ekonomi Nasional
1 jam yang lalu
Purbaya Gelontorkan...
Purbaya Gelontorkan Rp11 Triliun Stabilkan Pasar SBN di Pasar Sekunder
1 jam yang lalu
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
5 jam yang lalu
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
5 jam yang lalu
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
5 jam yang lalu
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved