Thailand dan Vietnam, Negara Pilihan Pengungsi Perang Dagang

Kamis, 29 November 2018 - 11:06 WIB
Thailand dan Vietnam,...
Thailand dan Vietnam, Negara Pilihan Pengungsi Perang Dagang
A A A
HONG KONG - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China masih berlangsung tanpa tanda-tanda akan terjadinya gencatan. Kini, dampak berlarutnya perseteruan dagang kedua negara itu semakin tampak nyata.

Hasil wawancara yang dilakukan Reuters pada lebih dari selusin eksekutif perusahaan, pengacara perdagangan dan grup pelobi dari berbagai industri menunjukkan adanya aktivitas luar biasa di seluruh Asia beberapa bulan ini.

Para eksekutif sibuk meminta contoh produk, melakukan kunjungan ke kawasan-kawasan industri, menyewa pengacara hingga mengadakan pertemuan antarpetinggi perusahaan.

Fred Perrotta menghabiskan empat tahun membangun jejaring pemasok dari China untuk produk tas punggungnya. Namun, ketika AS mengumumkan pengenaan tarif bagi barang impor asal China, dia mulai mencari pemasok baru dari negara lain.

Proses tersebut kini sudah sangat jauh sehingga sulit dibalikkan, meski misalnya Presiden Donald Trump dan Xi Jinping tiba-tiba mengumumkan gencatan atas perang dagang tersebut pada KTT G20 yang akan datang.

Perusahaan Perrotta, Tortuga, terlanjur masuk ke fenomena yang disebut pakar industri sebagai pergeseran terbesar dalam rantai pasok lintas batas sejak China bergabung ke Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organisation/WTO) di tahun 2001.

Pergeseran tersebut menciptakan kompetisi ketat untuk mengamankan fasilitas baru di negara tetangga dan membangun ulang rantai pasok di luar China.

"Semuanya cemas dan berlarian ke sana kemari," kata Perrotta seperti dilansir Reuters, Kamis (29/11/2018). "Dalam jangka panjang, kami mungkin akan mengalihkan seluruhnya," tambah dia.

Dalam proses tersebut, Vietnam dan Thailand muncul sebagai negara tujuan pilihan, meski kedua negara itu masih menghadapi kekurangan kapasitas, mulai dari tenaga kerja terampil hingga keterbatasan infrastruktur.

Juni lalu, produsen furnitur Hong Kong Man Wah Holdings membeli pabrik di Vietnam senilai USD68 juta dan awal bulan ini menyatakan akan melipattigakan kapasitas pabrik tersebut pada akhir tahun 2019. "Akuisisi ini untuk memitigasi risiko akibat penerapan tarif," ungkap Man Wah dalam sebuah pernyataan.

Sementara, pengembang kawasan industri di Vietnam BW Industrial menyebutkan pihaknya menerima banyak pertanyaan dari luar sejak Oktober lalu. Bahkan, seluruh pabrik yang dimilikinya kini sudah penuh disewa.

"Para manufaktur tersebut berasal dari seluruh dunia, tapi mereka semua punya pabrik di China dan butuh untuk segera melakukan produksi," ujar Manajer Penjualan BW Industrial Chris Truong kepada Reuters.

Di Thailand, SVI Pcl yang menyediakan solusi elektronik dan manufaktur menyebutkan telah memilih empat kesepakatan baru bernilai sekitar USD100 juta dengan konsumen yang memiliki operasi di China.

"Perang dagang ini bagus buat kami," ungkap CEO Pongsak Lothongkam. "kami didekati oleh begitu banyak perusahaan sehingga kami harus membuat prioritas," ujarnya.

Hal senada dialami KCE Electronics yang merupakan produsen papan sirkut (PCB) terbesar di Asia Tenggara yang telah dikontak sejumlah perusahaan AS yang mencari pemasok baru untuk menggantikan pemasok lama dari China.

"Ini peluang bagus buat kami. Sangat banyak konsumen yang telah mengontak kami menanyakan soal produk dan harga," kata CEO KCE Electronics Pitharn Ongkosit.

Stars Microelectronics Pcl, perusahaan manufaktur elektronik Thailand lainnya juga mengklaim telah memperoleh bisnis baru. "Dua-tiga perusahaan akan segera memindahkan basis produksinya ke kami," ungkap CEO Peerapol Wilaiwongstien.

Kendati demikian, prospek makin memburuknya perang dagang AS-China tak melulu positif bagi negara-negara Asia. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2018 di Asia Tenggara, termasuk Taiwan, Jepang dan Korea Selatan melambat, yang sebagian diakibatkan oleh dampak perang dagang.

Ekspor sirkuit elektronik terintegrasi Thailand misalnya, meski naik hingga 4% ke AS tapi merosot hingga 38% ke China. Sementara, indikator sentimen manufaktur Vietnam pada periode yang sama boleh jadi yang tertinggi di Asia, namun masih jauh di bawah puncak tertingginya.

Persoalan infrastruktur, regulasi yang ketat, serta tenaga terampil juga diperkirakan menjadi masalah bagi negara-negara yang ingin mendulang kesempatan dari dampak perang dagang tersebut.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tebar Perang Dagang...
Tebar Perang Dagang dengan China, Militer AS Justru Diprediksi Makin Terpuruk
4 Alasan AS Kecanduan...
4 Alasan AS Kecanduan Berperang, Salah Satunya Menumbangkan Rezim Berkuasa
China Terus Perkuat...
China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
China Tuding AS Jadi...
China Tuding AS Jadi Ancaman Terbesar bagi Keamanan Global, Berikut Dalihnya
Trump Akui AS Memiliki...
Trump Akui AS Memiliki Senjata Rahasia, Apa Itu?
Demi Keamanan Nasional,...
Demi Keamanan Nasional, Staf Kedubes AS di China Dilarang Berkencan dengan Penduduk Lokal
Berita Terkini
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
39 menit yang lalu
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
47 menit yang lalu
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
1 jam yang lalu
BRIN Apresiasi Program...
BRIN Apresiasi Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
2 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved