Bagasi Berbayar Dinilai Mencegah Kematian Maskapai Berbiaya Murah

Jum'at, 11 Januari 2019 - 15:52 WIB
Bagasi Berbayar Dinilai...
Bagasi Berbayar Dinilai Mencegah Kematian Maskapai Berbiaya Murah
A A A
JAKARTA - Maskapai berbiaya murah (low cost carrier/LCC) dinilai oleh Pengamat Penerbangan Alvin Lie, bisa mati dan terpuruk apabila tidak menghapus fasilitas bagasi gratis yang selama ini diberikan kepada penumpang. Hal ini menanggapi keputusan Lion Air dan Citilink Indonesia yang menerapkan kebijakan bagasi berbayar.

Menurutnya, maskapai tidak melanggar aturan jika memberlakukan ketentuan tersebut. Sebab hanya maskapai LCC yang diperbolehkan melakukan hal tersebut, sementara maskapai lain wajib menyediakan bagasi gratis.

"Hanya LCC yang boleh bagasi tidak gratis, lainnya harus menyediakan fasilitas bagasi gratis full sservice 20 kg. Sedangkan yang medium maksimum 10-15kg. Kalau LCC memang diperbolehkan semua bagasi nya berbayar. Itu ada di Permenhub 185 tahun 2015. Air Asia kan sudah bertahun-tahun memberlakukan itu untuk penerbangan internasionalnya," katanya saat berbincang dengan SINDOnews di Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Menurutnya, masyarakat salah jika memandang tarif pesawat menjadi naik gila-gilaan dengan kebijakan penghapusan fasilitas bagasi gratis tersebut. Hal ini justru dianggapnya merupakan tarif normal yang memang sudah seharusnya diberlakukan. "Harga tiket bukan gila-gilaan. Harga tiket selama ini kan maskapai banting-bantingan. Nah tarif yang normal ini sekarang ini," imbuh dia.

Jika tak dihapus, tambahnya, maka maskapai tidak akan mampu menutup ongkos operasional mereka. "Ya tapi kalau airlines tidak menaikkan tarifnya, airlines akan mati. Tidak akan menutup ongkos juga. Sekarang mereka kalau tidak menaikkan harganya, dan ini naik pun masih dalam koridor di bawah batas atas. Tidak melanggar batas atas. Kalau mereka tidak menaikkan itu maka mereka mati," terangnya.

Meski terkesan tarif pesawat menjadi naik tajam, namun Alvin memandang bahwa dua maskapai tersebut tetap masuk kategori maskapai LCC. Sebab, tarif pesawat mereka hanya diperbolehkan maksimum 85% dari tarif batas atas.

"Mereka kan tetap di aturan, kalau LCC itu kan maksimum 85% dari tarif batas atas. Maksimum. Dan mereka sudah mentok dan tidak bisa gerak kemana-mana lagi," tandasnya.
(akr)
Berita Terkait
Maskapai Murah Asal...
Maskapai Murah Asal Singapura Siapkan Layanan Digital Kesehatan
Kemenhub Izinkan Maskapai...
Kemenhub Izinkan Maskapai Sesuaikan Tarif Penerbangan
Ini Alasan Mengapa Jendela...
Ini Alasan Mengapa Jendela Pesawat Memiliki Bentuk Oval
Industri Penerbangan...
Industri Penerbangan Tanah Air Diprediksi Pulih Tahun 2022
Kapan Bisnis Penerbangan...
Kapan Bisnis Penerbangan Pulih? Ini Proyeksi Moody's
Negara-Negara di Dunia...
Negara-Negara di Dunia dengan Gaji Pilot Terbesar
Berita Terkini
Ditampar Tarif Impor...
Ditampar Tarif Impor Baru Trump, IHSG Diramal Ambruk Lagi ke 6.150
10 menit yang lalu
Eropa Butuh Rp182,5...
Eropa Butuh Rp182,5 Triliun demi Mengamankan Pasokan 250 Kargo Gas Alam Cair
1 jam yang lalu
Tarif Impor Terbaru...
Tarif Impor Terbaru Trump Hantam Negara-negara Termiskin, Bagaimana Nasibnya
2 jam yang lalu
KAI Group Angkut 16,3...
KAI Group Angkut 16,3 Juta Penumpang Selama Angkutan Lebaran 2025
5 jam yang lalu
Harga Minyak Ikut Lunglai...
Harga Minyak Ikut Lunglai Terpukul Tarif Resiprokal Trump
6 jam yang lalu
Pascalebaran, Harga...
Pascalebaran, Harga Beras, Bawang, Cabai, hingga Daging Mulai Turun
6 jam yang lalu
Infografis
Pilih Tangkap Putin...
Pilih Tangkap Putin daripada Netanyahu, Uni Eropa Dinilai Munafik
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved