IPB Sambut Program Kementan Ciptakan 1 Juta Petani Milenial

Sabtu, 12 Januari 2019 - 22:22 WIB
IPB Sambut Program Kementan...
IPB Sambut Program Kementan Ciptakan 1 Juta Petani Milenial
A A A
BOGOR - Program Kementerian Pertanian (Kementan) mencetak 1 juta petani milenial mendapat sambutan positif dari mahasiswa dan alumni IPB yang tergabung dalam Kopi Warung Pemula. Hal ini terungkap dalam diskusi yang digelar Kopi Warung Pemula dengan mengangkat tema "Buka kacamata kuda: Bertani jangan sendiri, Bertani butuh sinergi" di Bogor.

Hadir Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas Direktorat Jenderal Hortikultura, Rico Simanjuntak, Kepala Sub Bagian Komunikasi dan Pemberitaan Media Cetak Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Abiyadun, petani muda alumni IPB, Reza Ali Akbar serta mahasiswa dan alumni muda IPB, Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, Amril Rangkuti.

Dalam diskusi tersebut, Rico Simanjuntak memaparkan tentang capaian pemerintah, khususnya Kementan dalam menciptakan petani milenial. Bahkan, Kementan menargetkan untuk mencetak 1 juta petani milenial.

"Kementan akan ciptakan 1 juta petani milenial di tahun 2019 ini, dan saat ini sudah mencapai 400 ribu petani milenial. Kementan juga memberikan bantuan hingga 423.195 ribu lebih alat dan mesin pertanian yang diberikan selama 4 tahun, atau naik 1.526%," ungkap Rico, Sabtu (12/1/2019).

Rico mengajak generasi muda agar selalu terlibat aktif dalam memajukan sektor pertanian di Indonesia. Pasalnya, kebijaka Pemerintah melalui Kementan mengarah pada pertanian modern atau pertanian 4.0.

"Generasi milenial ini kan sangat aktif dan mengerti teknologi, inovasi dan adopsi teknologi akan cepat terlaksana jika diambil alih oleh mereka, di tangan petani muda milenial menggerakkan roda perekonomian bangsa," tutur Rico.

Target yang dituju oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam hal ini Rico menjelaskan bahwa bukan hanya swasembada pangan, namun Indonesia juga bisa menjadi lumbung pangan dunia. Ia optimis untuk bisa mewujudkan cita-cita luhur dan belum pernah ada yang menerapkan ini.

"Kemajuan teknologi bergerak sangat pesat, adopsi teknologi dapat dilakukan oleh mereka yang melek teknologi. Dengan sumber daya alam yang melimpah, dan sumber daya manusia utamanya generasi muda, kita dapat menjadi energi besar untuk mewujudkan hal ini," ungkapnya.

Saat ini, era kolaborasi atau sinergi. Seperti tema diskusi ini, bertani jangan sendiri. Pemerintah sangat mendukung generasi muda untuk terlibat memajukan pertanian nasional.

Petani muda yang sedang menggeliatkan berbagai bidang usahanya sekaligus alumni Fakultas Pertanian IPB, Reza Ali Akbar memantik diskusi dengan menyinggung mengenai bagaimana bertani di era Revolusi Industri 4.0 seperti yang sedang berlangsung sekarang ini.

"Data hasil sensus pertanian 2013, ada sekitar 10 juta petani yang beralih profesi. Sedangkan regenerasi petani terasa jalan di tempat. Apakah ada sebuah peluang bagi generasi pemuda petani kendalanya," pantik Reza.

Pertanyaan ini pun disambut oleh para pemateri dengan membeberkan fakta di lapangan yang merupakan hasil kebijakan dan program dari Kementan. "Pertama, melalui program perluasan areal tanam baru yakni jagung di lahan tidur banyak pemuda tani yang turut bergerak. Kalau dulu petani jagung hanya berusia tua".

Ia melanjutkan bahwa yang kedua ialah program peningkatan produksi dan ekspor hortikultura. Program ini berhasil menarik minat generasi muda untuk menjadi petani sekaligus pelaku usaha, karena tidak hanya difasilitasi dari bantuan produksi, pendapingan, tetapi juga dipermudahnya dalam pengurusan izin ekspor, serta mendapatkan suntikan dana dari berbagi investor dalam maupun luar negeri.

"Jadi dulu kalau mengurus izin ekspor itu sangat sulit, bahkan butuh waktu 2 hingga 3 bulan, itu pun tidak ada kejelasan yang pasti. Tetapi, hari ini melalui kebijakan Menteri Amran, hanya butuh waktu 3 jam saja, melalui online single submission (pendaftaran terpadu satu pintu berbasis daring)," jelasnya.

Ketiga, Kementan membangun sistem tata niaga pertanian yang baru berbasis online dan dikelola oleh pemuda milenial, seperti salah satunya ialah pasar lelang cabai yang telah berkembang di berbagai daerah, misalnya Yogyakarta, bahkan sudah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

"Keempat, mendorong pengelolaan lahan berbasis korporasi. Mulai dari hulu hingga ke hilir, petani diberikan akses sehingga bertani saat ini tidak lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan keseharian saja, tetapi menjadikan petani sebagai pelaku usaha," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Duta Petani Milenial...
Duta Petani Milenial Jadi Magnet Generasi Milenial
Kementan Prioritaskan...
Kementan Prioritaskan Bangun Generasi Muda Pertanian
Kostratani Dirindukan...
Kostratani Dirindukan Petani Cirebon
Kementan Dorong Generasi...
Kementan Dorong Generasi Milenial Terjun di Bidang Pertanian
Kementan Dorong dan...
Kementan Dorong dan Tingkatkan Minat Generasi Milenial Tekuni Pertanian
Pemkab Malang Dukung...
Pemkab Malang Dukung Kementan Bangun Generasi Muda Pertanian
Berita Terkini
Obat Generik Bebas Tarif...
Obat Generik Bebas Tarif 2 Tahun, Lalu Melonjak Jadi 200%
1 jam yang lalu
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
1 jam yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
2 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
2 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
4 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
4 jam yang lalu
Infografis
Kaleidoskop 2025: 6...
Kaleidoskop 2025: 6 Program Utama Pemerintahan Prabowo-Gibran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved