Revitalisasi Pabrik Setengah Hati Dinilai Bikin Impor Gula Membengkak

Rabu, 16 Januari 2019 - 16:43 WIB
Revitalisasi Pabrik...
Revitalisasi Pabrik Setengah Hati Dinilai Bikin Impor Gula Membengkak
A A A
JAKARTA - Ketergantungan Indonesia akan impor gula diyakini bakal terus berlanjut, pasalnya kebutuhan yang terus bertumbuh tak dapat dipenuhi oleh industri gula dalam negeri. Alasannya mesin-mesin pabrik gula berumur ratusan tahun (100-187 tahun) masih mendominasi hingga 59,7% dan perubahan peruntukan lahan pertanian masih menjadi kendala.

Pabrik gula tua yang rata-rata didapati pada pabrik gula BUMN membuat produksi gula tidak hanya menjadi terbatas. Karena tak efisien, harga gula dari pabrik-pabrik tua tersebut menjadi tiga hingga empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan gula impor sehingga tidak laku di pasar. Kalangan dewan dan ekonom mengkritik langkah pemerintah yang tak kunjung melakukan revitalisasi industri gula secara komprehensif.

“Yang tua itu kan pabrik-pabrik gula BUMN. Revitalisasi pabrik juga kelihatan setengah hati. Cuma revitalisasi di bagian apa, terus di bagian apa. Harusnya revitalisasi menyeluruh,” ujar Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir kepada wartawan.

Untuk diketahui, harga gula lokal sampai November 2018 lalu sebesar tiga kali lipat dibandingkan dengan harga gula dunia. Harga gula lokal mencapai Rp12.163 per kg, sementara rata-rata harga gula mentah dunia hanya Rp4.000.

Soal revitalisasi menyeluruh ini pun, Revrisond berpandangan, sulit terjadi. Pasalnya, investor akan cenderung ragu melihat produksi tebu nasional yang dipandang tidak akan mencukupi kebutuhan pabrik gula sendiri. “Selama ini kan lahan tebu itu masih bercampur-campur. Jarang yang lahan tebu doang tanpa ditanami apa-apa lagi,” imbuhnya.

Namun, perluasan lahan pun menjadi sulit dilakukan, apabila melihat dari kecenderungan abainya terhadap masalah produksi tebu nasional ini. “Perhatian Kementerian Pertanian masih minim ya soal gula ini,” keluh pengamat ekonomi ini lagi.

Dilihat dari Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Tebu 2015-2017, lahan perkebunan tebu dalam periode 2008-2017 tak banyak mengalami perubahan. Pada periode tersebut, luas rata-rata mencapai 454.782 hektare, dengan luasan tertinggi pada 2014 yakni 478.108 hektare dan luasan terendah pada 2009 seluas 441.440 hektare. Dari luasan tersebut, rata-rata produksi pada periode yang sama adalah 246 juta ton.

Diakui oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah terkait peningkatan produksi gula nasional. Anggota DPR pun menyesalkan pemerintah terkesan lamban dalam hal revitalisasi ini.

Anggota Komisi VI Inas N Zubir, berdasarkan kunjungan yang dilakukannya di beberapa pabrik gula milik BUMN, rendahnya produksi gula nasional lantaran pabrik yang sudah berusia tua. Dari kunjungan itu, Inas menyatakan, pabrik gula berplat merah sudah tak dapat direvitalisasi lagi. “Pabrik gula itu harus dibongkar dan dibangun ulang dengan mesin yang modern. Karena sudah terlampau tua,” kata Inas, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Inas melanjutkan, tak hanya umur pabrik gula yang menjadi masalah minimnya produksi gula dalam negeri. Menurutnya, sejauh ini, pemerintah tak mampu menjaga kestabilan produksi tebu para petani.

“Banyak lahan tebu berubah menjadi area bisnis bahkan perumahan. Ini adalah dampak dari otonomi daerah. Pemerintah Daerah senaknya saja merubah lahan pertanian tebu menjadi fungsi lain,” tambahnya.

Hal serupa diungkapkan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijana. Azam menuturkan, pemerintah melalui Menteri BUMN perlu melakukan revitalisasi seluruh pabrik gula berplat merah. “Pemerintah masih perlu melakukan revitalisasi. Apalagi, untuk merevitaliasi pabrik gula ini tidak susah. Teknologi yang dibutuhkan tidak terlalu canggih,” tutur Azam.

Sambung dia berpandangan, pemerintah perlu menggenjot jumlah produksi gula dalam negeri. Sebab, produksi gula ini bisa membantu keuangan negara. Indonesia disebut sebagai importir gula terbesar di dunia. Berdasarkan data lembaga penyedia data Statista, pada 2017/2018, Indonesia mengimpor gula sejumlah 4,45 metrik ton. Volume impor ini turun setelah sempat menyentuh angka 4,6 juta ton pada 2016, melonjak dari tahun sebelumnya sebesar 3,4 juta ton.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun menyebutkan nilai impor tertinggi pada 2016, yakni mencapai USD2,09 miliar, melonjak dari 2015 sebesar USD1,25 miliar. Di 2017 dan 2018, nilai impor sedikit menyusut menjadi USD2,07 miliar dan USD1,79 miliar.

Sebelumnya, pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, yang mengkritik pemerintah soal tingginya impor gula juga menyebutkan kondisi pabrik yang telah tua menjadi salah satu penyebab terjadinya impor. Menurutnya, dari 45 pabrik yang dimiliki oleh PTPN dan RNI, sebanyak 78% di antaranya berumur lebih dari 100 tahun sehingga tak lagi efisien.

Selain itu, kapasitas yang dimiliki masing-masing pabrik pun terbatas, yakni sebagian besar memiliki kapasitas di bawah 4.000 ton. Masalah ketersediaan lahan tebu juga menjadi faktor terbatasnya produksi
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Hati-hati, Tuntut Impor...
Hati-hati, Tuntut Impor Raw Sugar Berdalih Kepentingan Petani dan UKM
Dugaan Beking di Balik...
Dugaan Beking di Balik Penimbuhan Ribuan Ton Gula Harus Diusut
India Resmi Larang Ekspor...
India Resmi Larang Ekspor Gula hingga September 2026, Awas Kenaikan Harga
Pengalihan Impor Gula...
Pengalihan Impor Gula Industri ke BUMN Dinilai Bukan Solusi, Awas Makin Mahal!
Biang Masalah Ekosistem...
Biang Masalah Ekosistem Gula Nasional, DPR Minta Pemerintah Stop Impor Rafinasi
Produksi Masih Kurang,...
Produksi Masih Kurang, Belum Saatnya Naikkan Kualitas Gula
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
3 jam yang lalu
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
4 jam yang lalu
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
4 jam yang lalu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
4 jam yang lalu
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
4 jam yang lalu
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
5 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Pria...
10 Negara dengan Pria Tertampan di Dunia, Siap Bikin Jatuh Hati!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved