Shutdown Pemerintah AS Rugikan Perekonomian Capai Rp154,7 Triliun

Selasa, 29 Januari 2019 - 14:01 WIB
Shutdown Pemerintah...
Shutdown Pemerintah AS Rugikan Perekonomian Capai Rp154,7 Triliun
A A A
WASHINGTON - Shutdown atau penutupan sebagian pemerintah federal Amerika Serikat (AS) seperti dilaporkan Kantor Anggaran Kongres (CBO) telah menimbulkan kerugian secara keseluruhan sekitar USD11 miliar atau setara Rp154,7 triliun terhadap perekonomian Paman Sam -julukan AS-. Bahkan kondisi tersebut bisa berdampak memangkas 0,02% pertumbuhan AS di 2019.

Seperti dilansir BBC, namun CBO mengutarakan kerugian tersebut berangsur bisa pulih saat pekerja federal kembali bekerja, namun USD3 miliar atau Rp42,2 triliun hilang secara permanen. Diterangkan penyebabnya di antaranya akibat hilangnya produksi yang dihasilkan oleh pekerja federal, penundaan belanja pemerintah, hingga kurangnya permintaan.

Sementara tarif perdagangan baru apabila benar digulirkan pemerintahan Trump bisa mengerus pertumbuhan ekonomi 0,1% pada tahun 2019, karena biaya yang lebih tinggi mendorong konsumsi dan investasi yang lebih rendah. Agen federal CBO yang bertugas menganalisis ekonomi dan anggaran untuk Kongres, merilis perkiraan bersamaan dengan prospek yang lebih luas yang disiapkannya setiap tahun.

CBO mengatakan bahwa sebelum penutupan pemerintah federal, diperkirakan ekonomi AS tumbuh sekitar 2,3% pada 2019, atau melambat dari 2018 karena dorongan dari pengeluaran federal dan pemotongan pajak 2017 mulai memudar. Pertumbuhan juga diyakini terus melambat lebih lanjut di tahun-tahun berikutnya, ke tingkat tahunan rata-rata 1,7% hingga 2023.

Detail Shutdown Pemerintah AS


Penutupan sebagian pemerintah federal menjadi yang terpanjang dalam sejarah AS, dipicu oleh ketidaksepakatan atas permintaan Presiden Donald Trump kepada Kongres untuk menyediakan anggaran USD5,7 miliar dalam upaya membangun tembok di sepanjang perbatasan Meksiko. Hal tersebut tercantum dalam rancangan undang-undang pendanaan baru.

Perselisihan itu memaksa sekitar 800.000 pekerja federal untuk sementara waktu harus bekerja tanpa digaji serta mendorong pengurangan pada sebagian besar departemen utama, termasuk Departemen Luar Negeri, Departemen Keuangan, hingga Departemen Keamanan Dalam Negeri. Presiden AS Donald Trump mengakhiri kebuntuan pada hari Jumat, ketika Ia setuju untuk mendukung kesepakatan sementara pemerintah akan mendanai hingga 15 Februari.

Namun, sejak itu diragukan kesepakatan mengenai keamanan perbatasan akan tercapai sebelum pendanaan berakhir. Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow juga mendesak kembali terhadap laporan CBO, yang mengatakan bahwa agensi itu terlalu pesimistis. "Saya di sini bukan untuk menyudutkan CBO," katanya pada konferensi pers, Senin. Tetapi, Ia menambahkan, "mereka memiliki sudut pandang yang berbeda."

Disfungsi Pendanaan

CBO juga mengutarakan pengeluaran AS sudah menjadi masalah, karena pemerintah membelanjakan lebih banyak dari yang seharusnya. Masalah ini diperkirakan akan meningkat di tahun-tahun mendatang, sebagian karena pemotongan pajak yang disetujui pada 2017. Pada tahun 2019 saja, defisit AS diperkirakan sekitar USD900 miliar atau 4,2% dari total output AS.

Ditambah sepanjang periode dari 2020-2029, defisit diperkirakan rata-rata USD1,2 triliun atau sekitar 4,4% dari PDB setiap tahun. Selama 50 tahun terakhir, defisit tahunan mencapai sekitar 2,9% dari PDB, kata CBO. Kecuali perubahan kebijakan utama, CBO meramalkan karena kekurangan pendanaan di tahun 2029 akan mendorong utang pemerintah AS ke level tertinggi sejak setelah Perang Dunia II.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ancaman Perang Dingin...
Ancaman Perang Dingin AS-China Lebih Besar Ketimbang Virus
China Menyerah? Xi Jinping...
China Menyerah? Xi Jinping Sebut Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang Melawan AS
Apakah Trump 2.0 Bikin...
Apakah Trump 2.0 Bikin Perang Dagang Memanas? China Cari Win-win Solusi
China Membalas Tarif...
China Membalas Tarif Impor AS, Mulai Berlaku 10 Februari 2025
Trump Tepis Ancaman...
Trump Tepis Ancaman Resesi: Ekonomi AS dalam Masa Transisi di Tengah Perang Dagang
Sri Mulyani: Perang...
Sri Mulyani: Perang Dagang AS-China Bisa Berdampak ke Pemulihan Ekonomi
Berita Terkini
Vasanta Kembangkan Hunian...
Vasanta Kembangkan Hunian Suburban Berkonsep Alam
8 menit yang lalu
PWN 2026 Resmi Digelar...
PWN 2026 Resmi Digelar di JICC, Diikuti 15 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
25 menit yang lalu
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
48 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Dorong Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengelolaan Eceng Gondok
2 jam yang lalu
Said Iqbal Blak-blakan...
Said Iqbal Blak-blakan 2.500 Buruh Pabrik Terancam PHK
2 jam yang lalu
BPDP dan AKPY Latih...
BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved