Perang Dagang, Batas Waktu Negosiasi AS-China Kemungkinan Diperpanjang

Rabu, 13 Februari 2019 - 11:59 WIB
Perang Dagang, Batas...
Perang Dagang, Batas Waktu Negosiasi AS-China Kemungkinan Diperpanjang
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, dirinya bisa memperpanjang batas waktu negosiasi perdagangan antara AS dan China yang seharusnya dipatok 1 Maret, mendatang demi mencapai kesepakatan. Namun dengan syarat pembicaraan lanjutan pekan ini membuahkan kemajuan yang baik.

Para pejabat perdagangan China dan AS sedang menggelar pembicaraan tingkat tinggi pekan ini, dengan tujuan untuk menghentikan perang dagang yang mengancam pertumbuhan ekonomi global. Pejabat AS sebelumnya mengatakan 1 Maret adalah tenggat waktu yang sulit untuk mencapai kesepakatan, dalam upaya menghindari perang tarif lanjutan.

Seperti diketahui kedua ekonomi terbesar dunia tersebut telah saling memberlakukan bea masuk atas produk satu sama lain senilai miliaran dolar. Dilansir BBC, Rabu (13/2/2019) pembicaraan babak baru dimula pekan ini di Beijing.

Diskusi tinggi tinggi itu, dipimpin oleh Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Wakil Perdana Menteri China Liu He, kembali akan dimulai pada hari Kamis karena kedua belah pihak bergegas untuk membuat kemajuan sebelum batas waktu 1 Maret.

"Jika kita mendekati kesepakatan, di mana kita pikir dapat membuat kesepakatan dan itu akan selesai. Saya bisa melihat diri saya membiarkan mundur untuk sementara waktu. Tapi secara umum, saya tidak cenderung akan melakukan itu," kata Trump mengacu pada batas waktu 1 Maret.

AS sendiri telah mengenakan tarif terhadap produk-produk asal China senilai USD250 miliar dan China membalasnya lewat penerapan bea atas produk-produk AS senilai USD110 miliar. Pada bulan Desember, kedua negara sepakat untuk gencatan perang dagang dan kemudian menghentikan pengenaan tarif baru selama 90 hari untuk memungkinkan terjadinya perundingan.

Kubu Paman Sam -julukan AS- telah mengutarakan akan menaikkan tarif tarif impor China senilai USD200 miliar dari 10% menjadi 25% jika kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan pada 1 Maret 2019, mendatang. Trump juga mengancam tarif lebih lanjut untuk produk-produk China senilai USD267miliar.

Washington mendesak Beijing untuk membuat perubahan pada kebijakan ekonominya, yang menurutnya secara tidak adil menguntungkan perusahaan domestik melalui subsidi dan dukungan lainnya. AS juga menuding pemerintah Beijing mendukung pencurian teknologi sebagai bagian dari strategi membuat pengaruh yang lebih luas.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ancaman Perang Dingin...
Ancaman Perang Dingin AS-China Lebih Besar Ketimbang Virus
China Menyerah? Xi Jinping...
China Menyerah? Xi Jinping Sebut Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang Melawan AS
Apakah Trump 2.0 Bikin...
Apakah Trump 2.0 Bikin Perang Dagang Memanas? China Cari Win-win Solusi
Bangun Ekonomi Konsumen...
Bangun Ekonomi Konsumen Skala Besar, China Buka Pasar Bagi Perusahaan Semua Negara
China Membalas Tarif...
China Membalas Tarif Impor AS, Mulai Berlaku 10 Februari 2025
Perusahaan China Makin...
Perusahaan China Makin Banyak Masuk Daftar Hitam AS
Berita Terkini
Gaduh Pengangkatan Komisaris...
Gaduh Pengangkatan Komisaris BUMN, Qodari: Penting untuk Kawal Agenda Negara
58 menit yang lalu
Vietnam dan Filipina...
Vietnam dan Filipina Bersaing Jadi Raja ASEAN, Mengapa Indonesia Tertinggal?
4 jam yang lalu
Guru Besar IPB: Klaim...
Guru Besar IPB: Klaim Kerugian Rp600 Triliun Akibat Under Invoicing Sawit Harus Diaudit Secara Independen
4 jam yang lalu
Komut Pertamina Salurkan...
Komut Pertamina Salurkan Seragam Sekolah bagi 200 Anak Prasejahtera di Banyuwangi
5 jam yang lalu
Jababeka Infrastruktur...
Jababeka Infrastruktur Raih 6 Penghargaan TJSLP/CSR Awards 2026 dari Pemkab Bekasi
5 jam yang lalu
IHSG Lesu dalam Sepekan,...
IHSG Lesu dalam Sepekan, Cermati Saham-saham yang Cuan dan Boncos
6 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved