Tenggat Makin Dekat, AS-China Kebut Perundingan Dagang

Minggu, 24 Februari 2019 - 08:30 WIB
Tenggat Makin Dekat,...
Tenggat Makin Dekat, AS-China Kebut Perundingan Dagang
A A A
WASHINGTON - Para negosiator Amerika Serikat (AS)-China dalam lima hari berturut-turut hingga kemarin terus melakukan pertemuan untuk menyusun kesepakatan sebelum tenggat waktu 1 Maret untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan mengakhiri perang dagang antara kedua negara.

Putaran keempat negosiasi antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut diperpanjang hingga akhir pekan setelah kedua belah pihak melaporkan kemajuan dan menyempitnya perbedaan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Jumat (22/2) lalu bahwa ada peluang yang sangat baik kesepakatan akan tercapai. Trump juga mengindikasikan bahwa ia cenderung untuk memperpanjang batas waktu tarif 1 Maret dan bertemu langsung dengan Presiden China Xi Jinping.

Perpanjangan tenggat waktu berarti menunda kenaikan tarif yang direncanakan menjadi 25% dari 10% atas impor China ke AS senilai USD200 miliar. Hal itu diyakini akan mencegah memburuknya perang dagang yang telah mengganggu perdagangan senilai ratusan miliar dolar barang, memperlambat pertumbuhan ekonomi global, dan mengguncang pasar.

Trump dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan tentang masalah mata uang, meski tidak memberikan rincian. Tak hanya itu, untuk mengurangi defisit perdagangan, China juga telah berkomitmen untuk membeli 10 juta metrik ton kedelai tambahan dari AS.

Seperti dilaporkan Reuters, kedua pihak sedang menyusun nota kesepahaman tentang pencurian cyber, hak kekayaan intelektual, layanan, pertanian dan hambatan non-tarif untuk perdagangan, termasuk subsidi. Namun, Trump menegaskan tidak menyukai nota kesepahaman karena dia menginginkan kesepakatan jangka panjang.

Sebuah sumber industri yang menjelaskan, dalam pembicaraan kedua belah pihak telah mempersempit perbedaan pada hak kekayaan intelektual, akses pasar dan defisit perdagangan AS yang hampir USD400 miliar dengan China. Tetapi perbedaan yang lebih besar tetap pada perubahan perlakuan China terhadap perusahaan milik negara, subsidi, transfer teknologi paksa dan pencurian cyber.

Amerika Serikat menginginkan mekanisme yang kuat untuk memastikan komitmen reformasi China ditindaklanjuti. Sementara, Beijing masih bersikeras pada apa yang disebutnya sebagai proses yang adil dan obyektif.

Trump mengatakan keputusan terbesar dapat dicapai jika ia bertemu dengan Xi, kemungkinan di Florida bulan depan. Orang nomor satu di Amerika itu menambahkan bahwa pertemuan mereka dapat saja menghasilkan sesuatu yang melebihi persoalan perdagangan.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tebar Perang Dagang...
Tebar Perang Dagang dengan China, Militer AS Justru Diprediksi Makin Terpuruk
China Menyerah? Xi Jinping...
China Menyerah? Xi Jinping Sebut Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang Melawan AS
4 Alasan AS Kecanduan...
4 Alasan AS Kecanduan Berperang, Salah Satunya Menumbangkan Rezim Berkuasa
China Terus Perkuat...
China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
China Tuding AS Jadi...
China Tuding AS Jadi Ancaman Terbesar bagi Keamanan Global, Berikut Dalihnya
Trump Akui AS Memiliki...
Trump Akui AS Memiliki Senjata Rahasia, Apa Itu?
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
2 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
2 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
3 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
3 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
4 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
4 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved