Soal Keluhan Monopoli, Pengamat Minta Peternak Ayam Berkoordinasi

Selasa, 12 Maret 2019 - 20:59 WIB
Soal Keluhan Monopoli,...
Soal Keluhan Monopoli, Pengamat Minta Peternak Ayam Berkoordinasi
A A A
JAKARTA - Tudingan sekelompok peternak ayam mandiri ke Kementerian Pertanian (Kementan) yang mengaku kesulitan biaya produksi dan adanya monopoli pakan oleh perusahaan besar dinilai salah sasaran. Hal ini disampaikan oleh pengamat kebijakan publik Digipol Strategic Indonesia Nurfahmi BP yang menurutnya, hal itu dapat diartikan usahanya tanpa koordinasi dan sinergi dengan Kementerian.

"Begini, kalau peternak mandiri itu kan berarti mereka 'main sendiri' semuanya. Soal harga, produksi, pakannya, tanpa kerja sama pembinaan Kementan," ujar Nurfahmi di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Sehingga, Nurfahmi mengatakan, segala risiko usaha ternaknya menjadi tanggung jawab pribadi peternak mandiri. Berbeda dengan peternak ayam yang selama ini di bawah naungan Kementan. Kelompok peternak binaan itu akan memperoleh insentif dari Kementan seperti asuransi.

Sambung dia menjelaskan, biasanya kelompok peternak ayam binaan tersebut akan mendapat tanggungan dari pemerintah jika produksinya rendah. Selain itu, juga ada acuan ketetapan standarisasi harga ayam kepada kelompok peternak binaan. Termasuk juga cost produksi peternakan ayam, seperti pakan, bibit, lokasi pemotongannya maupun pemeriksaan kesehatan ternaknya.

Mengenai tuduhan monopoli perusahaan besar soal pakan ternak, Nurfahmi mengungkapkan tidak beralasan. Pasalnya, Kementan telah mengordinasikan agar peternak ayam membeli hasil panen jagung petani sebab telah diatur batas ambang harganya.

"Perusahaan besar itu kan cari untung. Terus peternak mandiri beli (bahan ternak) ke mereka. Tentu saja acuan harganya kan bukan ikut standar ketetapan pemerintah," kata Nurfahmi.

Sebelumnya, sekelompok peternak ayam mandiri didampingi LSM melaporkan Kementan ke Komisi Ombudsman sebab dinilai tak mengontrol biaya produksi dan cara kerja perusahaan penyedian pakan ternak. Kelompok peternak ayam mandiri dan LSM itu menganggap akibat lemahnya pengawasan Kementan membuat biaya produksi mereka melambun dan harga jual anjlok.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jelang Purna Tugas,...
Jelang Purna Tugas, Puluhan Polisi Kembangkan Minat Berternak
Wow BEEF Membangun Pusat...
Wow BEEF Membangun Pusat Peternakan Terintegrasi di Subang Kapasitas 28.000 Ton
Indonesia – Denmark...
Indonesia – Denmark Resmikan Kemitraan Strategis untuk Penguatan Genetika Ternak
Bulukumba Optimalkan...
Bulukumba Optimalkan Potensi Sektor Peternakan Lewat Kampung Sapi
Telur Tetas Asal Klaten...
Telur Tetas Asal Klaten Terbang ke Vietnam, Sektor Perunggasan Tumbuh Positif
Warga Pagenggang Lebak...
Warga Pagenggang Lebak Apresiasi Peternakan Sistem Close House
Berita Terkini
Kilau Emas Kembali Lagi...
Kilau Emas Kembali Lagi usai Menguat Rp8 Ribu, Buyback Naik Rp16.000 per Gram
28 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Sumbagut: Antrean BBM di SPBU Mulai Terurai
49 menit yang lalu
Hutan Gundul, Cadangan...
Hutan Gundul, Cadangan Devisa Menguap! Mantan Menkeu Bongkar Patgulipat Ekspor Tambang
1 jam yang lalu
Dari Medan hingga Jakarta,...
Dari Medan hingga Jakarta, Keseruan Nobar Piala Dunia 2026 Bersama BRI Satukan Kita!
2 jam yang lalu
Jaga Pasokan BBM di...
Jaga Pasokan BBM di Sumut: Pertamina Tindak Mobil Tangki Nakal, Terminal dan SPBU Siaga 24 Jam
4 jam yang lalu
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos dalam Sepekan saat IHSG Melejit 4,42 Persen
4 jam yang lalu
Infografis
Rakyat Swiss Minta Pembelian...
Rakyat Swiss Minta Pembelian 36 Jet Tempur F-35 AS Dibatalkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved