Wall Street Mixed Saat Indeks S&P Lebih Rendah Terseret Sektor Industri

Jum'at, 26 April 2019 - 07:49 WIB
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Indeks S&P Lebih Rendah Terseret Sektor Industri
A A A
NEW YORK - Wall Street berakhir mixed alias variatif pada perdagangan, Kamis kemarin waktu setempat ketika indeks S&P 500 lebih rendah terseret saham sektor industri yang tenggelam cukup dalam. Selain itu kekhawatiran tentang perlambatan global tidak mempengaruhi pertumbuhan Facebook dan Microsoft.

Sektor industri jatuh 1,99% dengan menyeret United Parcel Service Inc dan Raytheon Co setelah melaporkan hasil yang mengecewakan. FedEx Corp juga merosot setelah keuntungan UPS tertekan. Sedangkan saham Amazon.com Inc naik 1,7% setelah pasar ditutup, perusahaan melaporkan keuntungan kuartal pertama yang di atas perkiraan, meskipun perkiraan pendapatan kuartal kedua sebagian besar di bawah ekspektasi.

Selanjutnya saham Intel Corp jatuh 7% usai produsen chip itu diprediksi mengalami penyusutan dalam pendapatan di kuartal pertama tahun ini. Tapi saham acebook Inc dan Microsoft Corp keduanya melonjak, dengan lesatan masing-masing sebesar 5,8% dan 3,3%, pasca melaporkan hasil yang lebih baik dari yang diharapkan.

"Sentimen berfluktuasi sebagai akibat dari perpaduan antara laporan penghasilan dan data. Kita akan terus melihat fluktuasi karena kita cenderung terus melihat pesan yang bercampur," kata Kristina Hooper, kepala ahli strategi pasar global di Invesco, New York. Dia juga mengutip klaim pengangguran AS yang tinggi dan penyusutan ekonomi Korea Selatan yang tak terduga.

S&P 500 telah menguat mencapai 17% sepanjang tahun ini, untuk mencetak rebound dari kemerosotan pada akhir 2018. Harapan berasal dari kesepakatan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China ditambah Federal Reserve alias Bank Sentral AS bakal menghentikan kenaikan suku bunga dan beberapa lebih baik dari laporan laba yang diharapkan.

Indeks mengakhiri perdagangan menjelang akhir pekan dengan 0,5% di bawah rekor tertinggi akhir September. Pasar telah berjuang untuk istirahat di atas tingkatan tersebut saat sebagaian besar investor menunggu katalis yang lebih positif untuk mulai bergerak

Dow Jones Industrial Average tercatat turun 134,97 poin atau 0,51% menjadi 26.462,08 sedangkan indeks S&P 500 kehilangan mencapai sebesar 1,08 poin yang setara dengan 0,04% untuk menyentuh level 2.926,17. Sementara komposit NASDAQ Composite mendapatkan sedikit dorongan hingga16,67 poin atau 0,21% untuk berakhir positif ke posisi 8.118,68.

Data refinitiv menunjukkan bahwa Wall Street saat ini mengharapkan pendapatan kuartal pertama indeks S&P 500 berada pada tingkatan yang sama dengan kuartal tahun-lalu. Keuntungan pada perusahaan media sosial Facebook mengangkat indeks layanan komunikasi 1%, menjadikannya dorongan terbesar kedua di antara 11 sektor utama S&P utama.

Saham sektor kesehatan juga meningkat sebesar 1,1%. Tapi 3M jatuh hampir 13% dalam satu hari untuk menjadi persentase penurunan terbesar dalam lebih dari tiga dekade. Pada perdagangan saham AS kemarin, 6,64 miliar diperdagangkan, sejalan dengan rata-rata 6,64 miliar dalam 20 sesi terakhir.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Bangkit...
Wall Street Bangkit Ditopang Dua Raksasa Teknologi
Ditopang Saham-saham...
Ditopang Saham-saham Bank, Wall Street Dibuka Naik
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Berita Terkini
BUMN Mulai Pangkas Anak...
BUMN Mulai Pangkas Anak Usaha, dari Pupuk Indonesia sampai PLN
13 menit yang lalu
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
36 menit yang lalu
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
1 jam yang lalu
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
2 jam yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
2 jam yang lalu
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
11 jam yang lalu
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved