Wall Street Ditutup Bergelombang Karena Investor Ragu Hasil Kesepakatan Dagang

Kamis, 09 Mei 2019 - 06:30 WIB
Wall Street Ditutup...
Wall Street Ditutup Bergelombang Karena Investor Ragu Hasil Kesepakatan Dagang
A A A
NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup dengan hasil beragam pada Rabu waktu setempat, karena investor ragu dengan hasil kesepakatan perdagangan AS dengan China.

Dalam media sosialnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Wakil Perdana Menteri China Liu He berencana datang ke Washington pada pekan ini untuk mencapai kesepakatan dagang. Hal ini merespon rencana Trump yang akan menaikkan tarif barang-barang China senilai USD200 miliar, dari semula 10% menjadi 25%.

Namun, investor ragu bahwa AS dan China dapat menyelesaikan perselisihan perjanjian dagang sebelum Jumat 10 Mei 2019, dimana AS mengancam menerapkan tarif baru bagi China.

Melansir dari CNBC, Kamis (9/5/2019), keraguan investor ini membuat Wall Street ditutup bergelombang alias fluktuatif. Indeks Dow Jones naik tipis 2,24 poin menjadi 25.967,33. Sementara itu, S&P 500 turun 0,16% menjadi 2.879,42 dan Nasdaq melemah 0,26% ke level 7.943,32.

"Saya katakan masalah (konflik dagang) ini sangat berbahaya. Kita masih menunggu putaran berikutnya. Saya pikir besok adalah saat penting," ujar Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex.

Sementara itu, Chief Investment Officer di Raymond James, Larry Adams, mengatakan ada banyak pengungkit yang bisa ditarik ke dalam perundingan. "Dan saya pikir pada akhirnya kita mendapatkan kesepakatan dagang karena ini sangat penting bagi kedua negara," tukasnya.

Sejauh ini, perundingan dagang AS dan China kerap naik turun. Belakangan pejabat perdagangan China mundur dari kesepakatan karena tidak mencapai kata sepakat soal aspek-aspek utama dari rancangan kesepakatan perdagangan.

Dan jika kesepakatan tidak tercapai, maka ditengarai China akan melakukan langkah balasan. Hal ini bisa berdampak pada pertumbuhan pendapatan perusahaan AS. Sehingga perusahaan harus menambal biaya kenaikan yang berpotensi menghambat pertumbuhan pendapatan mereka.

Dan bila perusahaan mengalihkannya dengan menaikkan harga barang, hal itu akan berdampak terhadap konsumen. Namun, beberapa pelaku pasar mengatakan dampak dari balasan tarif oleh China akan bersifat terbatas.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Di Tengah Kekhwatiran...
Di Tengah Kekhwatiran Pandemi dan Perang Dagang, Wall Street Cetak Rekor
Perang Dagang Guncang...
Perang Dagang Guncang Pasar Global, Begini Gerak IHSG dalam Sepekan
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Bangkit...
Wall Street Bangkit Ditopang Dua Raksasa Teknologi
Ditopang Saham-saham...
Ditopang Saham-saham Bank, Wall Street Dibuka Naik
Berita Terkini
IHSG Sesi Siang Berbalik...
IHSG Sesi Siang Berbalik Meroket 2,69% Tembus Level 6.041
1 jam yang lalu
Tren Industri Olahraga...
Tren Industri Olahraga Jadi Peluang Bisnis Asuransi
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan di Posisi Rp2.655.000 per Gram, Saatnya Beli?
2 jam yang lalu
Tiket Pesawat Kelas...
Tiket Pesawat Kelas Ekonomi Bebas PPN hingga 5 Juli 2026, Ayo Liburan!
3 jam yang lalu
IHSG Dibuka Melemah...
IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.873, Asing Net Sell Rp1,17 Triliun
3 jam yang lalu
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
4 jam yang lalu
Infografis
9 Negara yang Pernah...
9 Negara yang Pernah Bangkrut karena Utang Menggila
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved