Rupiah Berakhir Turun Tajam Jadi Rp14.420/USD, Yuan China Memburuk

Senin, 13 Mei 2019 - 17:32 WIB
Rupiah Berakhir Turun...
Rupiah Berakhir Turun Tajam Jadi Rp14.420/USD, Yuan China Memburuk
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan, Senin (13/5/2019) turun tajam hingga menyentuh kisaran level Rp14.420/USD untuk menjadi yang terburuk sepanjang tahun ini. Kejatuhan kurs rupiah mengiringi Yuan China yang juga terkapar ke posisi terendah dalam tahun 2019.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah ambruk sangat dalam menjadi Rp14.420/USD atau melemah sangat dalam dari sebelumnya Rp14.320/USD. Pergerakan harian rupiah pada perdagangan hari ini berada pada kisaran Rp14.320 hingga Rp14.435/USD.

Posisi rupiah melihat data Bloomberg, pada perdagangan spot exchange juga merosot ke level Rp14.423/USD dibandingkan sesi penutupan akhir pekan kemarin Rp14.326/USD. Rupiah hari ini bergerak di antara Rp14.335-Rp14.441/USD.

Berdasarkan data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah terkapar untuk berada pada level Rp14.425/USD. Kondisi tersebut memperlihatkan rupiah masih tak berdaya di zona merah ketika menghadapi dolar AS usai sebelumnya jatuh ke posisi Rp14.370/USD.

Menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tertahan pada tren pelemahan menjadi Rp14.362/USD untuk melengkapai raihan negatif mata uang Garuda. Posisi ini memperlihatkan rupiah masih loyo usai Jumat kemarin, tertekan hingga Rp14.347/USD.

Di sisi lain seperti dilansir Reuters, Yuan China mencatatkan penurunan harian terburuk dalam sembilan bulan pada hari Senin, karena negosiasi perdagangan antara AS dan China berakhir setelah Presiden Donald Trump menaikkan tarif atas produk-produk China.

Pergerakan mata uang dalam menanggapi perang dagang yang terus memanas, Yuan pada awal pekan turun 0,8% menjadi 6,9040 atau merupakan yang terlemah sejak 27 Desember.

Beberapa analis memperkirakan, kemungkinan tembus 7 per dolar dalam beberapa bulan mendatang, level terakhir yang terlihat selama krisis keuangan global. China mungkin akan menggunakan cadangan mata uangnya yang besar untuk menghentikan penurunan yang dapat memicu spekulasi dan arus keluar modal yang besar.

Investor juga lebih melirik Yen Jepang yang dinilai sebagai investasi alam di masa gejolak perdagangan, mengingat status Jepang sebagai kreditor terbesar dunia dengan banyak aset di luar negeri. Yen terpantau lebih tinggi 0,25% pada posisi 109,700 atau mendekati level terbaiknya tiga bulan pada pekan lalu di kisaran level 109,470.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Balik Arah, Rupiah Menguat...
Balik Arah, Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.251 Sore Ini
Rupiah Tertekan Meski...
Rupiah Tertekan Meski Indeks Dolar AS Melemah
Nilai Tukar Rupiah Melemah...
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Rp15.036
Rupiah Punya Peluang...
Rupiah Punya Peluang Saat Penguatan Dollar AS Tertahan di Tengah Sikap Wait and See
Rupiah Tengah Pekan...
Rupiah Tengah Pekan Dibuka Loyo ke Rp14.853/USD Iringi Kejatuhan Pounds
Berita Terkini
Elnusa Petrofin dan...
Elnusa Petrofin dan Pertamina Patra Niaga Perkuat Distribusi Avtur Bali-Nusra
31 menit yang lalu
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Hak Dasar Investor di Pasar Modal
42 menit yang lalu
Asabri Gandeng 119 RS...
Asabri Gandeng 119 RS TNI Perluas Akses Jaminan Sosial Prajurit
44 menit yang lalu
Kelompok Studi Mahasiswa...
Kelompok Studi Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta Antusias Ikuti Edukasi Pasar Modal dari MNC Sekuritas
45 menit yang lalu
Rupiah Hari Ini Kurang...
Rupiah Hari Ini Kurang Bertenaga di Posisi Rp17.762 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
1 jam yang lalu
Raih 3 Sertifikasi ISO,...
Raih 3 Sertifikasi ISO, Wavin Tegaskan Standar Global untuk Kualitas, Keberlanjutan, dan K3
1 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved