BI Revisi Target Defisit Transaksi Berjalan di Tengah Gejolak Global

Kamis, 16 Mei 2019 - 16:29 WIB
BI Revisi Target Defisit...
BI Revisi Target Defisit Transaksi Berjalan di Tengah Gejolak Global
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) merevisi target defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tahun ini dari awalnya 2,5% PDB menjadi 2,5%-3% PDB. Hal ini didasari kondisi perlambatan ekonomi global hingga perang dagang yang membayangi pelemahan sisi perdagangan dan finansial ekonomi Indonesia.

"Jadi kenapa revisi karena kita melihat faktor eksternal dan internal yang mana kita ingin menjaga fundamental ekonomi Indonesia dan mengurangi resiko," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Lebih lanjut, Ia juga menegaskan pemerintah dan seluruh pihak telah berupaya maksimal dengan menempuh berbagai langkah dalam mengendalikan CAD. "Namun lambatnya ekonomi global membuat perkiraan terkini CAD di tahun 2019 berada pada kisaran 2,5-3% PDB. Sebelumnya memang kami upayakan dan perkirakan ke arah 2.5% dari PDB," jelasnya.

Meski begitu, BI menerangkan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga disertai fungsi intermediasi yang berjalan baik dan risiko kredit yang terkendali. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Maret 2019 tetap tinggi yakni 23,3% dan disertai rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yakni 2,5% (gross) atau 1,2% (net).

Dari fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit pada Maret 2019 tercatat 11,5% (yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan kredit Februari 2019 sebesar 12,1% (yoy). Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Maret 2019 sebesar 7,2%, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Februari 2019 sebesar 6,6%. Likuiditas perbankan terjaga, antara lain tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 21,1% pada Maret 2019.

Sementara itu, kinerja korporasi go public tetap baik ditopang kemampuan membayar yang terjaga. Ke depan, Bank Indonesia memandang terbuka ruang untuk mendorong pertumbuhan kredit tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan. Siklus kredit yang masih berada di bawah level optimum dan terdapatnya potensi peningkatan kredit memungkinkan berlanjutnya kebijakan makroprudensial akomodatif.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Bank Indonesia Optimis...
Bank Indonesia Optimis Defisit Transaksi Berjalan di Bawah 2%
Ini Faktor Bikin Defisit...
Ini Faktor Bikin Defisit Transaksi Berjalan 1,4% dari PDB
Impor Turun, Defisit...
Impor Turun, Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I/2020 di Bawah 1,5%
Defisit Transaksi Berjalan...
Defisit Transaksi Berjalan Tembus USD2,2 M di Kuartal I-2024
BI Proyeksi Defisit...
BI Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan 2020 Capai 1,5%
BI: Neraca Pembayaran...
BI: Neraca Pembayaran RI Minus 0,4 Miliar Dolar AS
Berita Terkini
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
2 jam yang lalu
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
2 jam yang lalu
BKI dan ASDP Perkuat...
BKI dan ASDP Perkuat Sinergi Keselamatan Kerja Melalui Audit SMK3
3 jam yang lalu
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
3 jam yang lalu
DPR Ingatkan Potensi...
DPR Ingatkan Potensi Moral Hazard Penambahan Layer Rokok Ilegal
3 jam yang lalu
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
3 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved