Ekonom Ini Perkirakan Rupiah Baru Akan Membaik di Kuartal III

Rabu, 22 Mei 2019 - 17:41 WIB
Ekonom Ini Perkirakan...
Ekonom Ini Perkirakan Rupiah Baru Akan Membaik di Kuartal III
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan makin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) akibat gejolak politik dan pengaruh eksternal. Rupiah diprediksi bakal sulit menjaga keseimbangannya saat ini.

Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean mengatakan, rupiah diperkirakan melemah makin dalam bila gejolak politik di dalam negeri makin panas. Tanpa gejolak politik pun, kata dia, rupiah cenderung tertekan pada semester II/2019 ini.

"Rate nilai tukar rupiah terhadap dolar saya prediksi berkisar Rp13.900 sampai Rp14.700 per USD. Itupun kalau tidak ada gejolak politik," kata Adrian di Bandung, Selasa (21/5/2019).

Dia menyebut, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi defisit transaksi berjalan di semester II. Hal itu disebabkan banyaknya perusahaan multinasional yang berkedudukan di Indonesia membagikan dividen. Imbasnya, kebutuhan dolar diprediksi bakal naik.

Namun demikian, kata Adrian, nilai tukar rupiah bakal membaik di akhir triwulan III/2019. Pemerintah diperkirakan bakal mengambil kebijakan penting untuk menekan dolar.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kondisi perekonomian nasional dalam enam bulan ke depan masih akan terus diwarnai volatilitas di pasar finansial. Volatilitas terjadi karena cenderung liarnya pergerakan pasar global di tengah masih rentannya struktur pembiayaan pembangunan di dalam negeri.

Pada saat yang sama, investasi juga diprediksi akan menurun, sehingga pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari kuartal I/2019 menjadi 5%.

"Kami memprediksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini, secara keseluruhan hanya akan berada di kisaran 5%. Belanja konsumsi rumah tangga yang cenderung stabil dan belanja rutin pemerintah yang naik cukup besar kami perkirakan sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Tapi faktor eksternal akan menekan pertumbuhan," katanya.

Dengan kondisi perekonomian yang masih cukup menantang tersebut, lanjut Adrian, pemerintah perlu mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi yang agresif dan struktural agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dolar AS Masih Tangguh,...
Dolar AS Masih Tangguh, Mata Uang Garuda Diprediksi Rapuh
Akhir Pekan, Rupiah...
Akhir Pekan, Rupiah Diprediksi Bergerak Terbatas
Rupiah Hari Ini Diprediksi...
Rupiah Hari Ini Diprediksi Menguat ke Rp14.500-an
Dipicu Sejumlah Sentimen...
Dipicu Sejumlah Sentimen Positif, Rupiah Diramal Perkasa
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat di Angka Rp14.324, Simak Ramalan Besok
Akhir Tahun, Rupiah...
Akhir Tahun, Rupiah Hari Ini Menguat Tipis di Level Rp14.270
Berita Terkini
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
8 jam yang lalu
Laporan Menkop ke Prabowo:...
Laporan Menkop ke Prabowo: 15.845 Koperasi Merah Putih Sudah Berdiri, 19 Ribu Masih Dibangun
9 jam yang lalu
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
11 jam yang lalu
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
13 jam yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
14 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
15 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved