Inggris dan Korsel Teken Perjanjian Perdagangan Bebas pasca-Brexit

Senin, 10 Juni 2019 - 14:21 WIB
Inggris dan Korsel Teken...
Inggris dan Korsel Teken Perjanjian Perdagangan Bebas pasca-Brexit
A A A
SEOUL - Inggris dan Korea Selatan (Korsel) pada prinsipnya telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas (FTA) sebagai upaya mempertahankan aturan dagang yang telah ada pasca-Brexit. Sekretaris Perdagangan Internasional Liam Fox menandatangani perjanjian tersebut dengan mitranya dari Korea Selatan Yoo Myung-hee di Seoul.

Kesepakatan awal itu menandai kesepakatan perdagangan pasca-Brexit pertama yang telah dijamin Inggris di Asia. Perjanjian ini sejalan dengan ketentuan FTA Korea-UE (Uni Eropa) yang sudah ada.

Hal itu bakal mencakup ekspor Korea Selatan termasuk mobil dan suku cadang otomotif. Sebagai informasi, Korea Selatan mengekspor sebagian besar mobil dan kapal ke Inggris, sementara itu mereka mengimpor minyak mentah dan juga mobil.

Perjanjian tersebut dirancang untuk memberikan stabilitas saat Brexit berakhir tanpa kesepakatan, dengan Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada tanggal 31 Oktober, mendatang dengan atau tanpa kesepakatan.

"Kesepakatan ini menjadi penting karena meredakan ketidakpastian yang dipicu oleh Brexit, di tengah kondisi yang menantang untuk ekspor saat meningkatnya perselisihan perdagangan antara Washington dan Beijing," kata Yoo.

Kedua negara bertujuan untuk meratifikasi kesepakatan pada akhir Oktober, dan mengimplementasikannya di bulan November. Korea Selatan sebagai ekonomi terbesar keempat di Asia merupakan pemimpin global dalam industri elektronik, baja dan otomotif.

Ekspor Negeri Gingseng -julukan Korsel- ke Inggris mencapai USD6,36 miliar tahun lalu. Catatan itu membuat Inggris menjadi mitra dagang terbesar kedua Korea Selatan di antara anggota UE, dan mitra dagang terbesar ke-18 negara Asia.

Tawaran Negosiasi

Inggris sendiri sedang berusaha untuk mencapai kesepakatan dengan mitra dagangnya ketika dibayangi batas waktu negosiasi Brexit. Sebagai anggota UE, Inggris adalah bagian dari 40 kesepakatan perdagangan yang dimiliki UE dengan negara lain.

Jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan, maka bakal mengganggu sekitar 11% dari total perdagangan Inggris. Prioritas bagi pemerintah Inggri adalah meminta negara-negara ini untuk mengulang kesepakatan perdagangan mereka dengan Inggris. Sejauh ini Inggris telah menyetujui kesepakatan "berkesinambungan" dengan 12 negara dan wilayah, termasuk Israel, Norwegia dan Islandia, Swiss hingga Chili.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Resesi Korsel Justru...
Resesi Korsel Justru Untungkan Indonesia, Kok Bisa?
Dipicu Lonjakan Ekspor,...
Dipicu Lonjakan Ekspor, Korsel Pulih dari Resesi Ekonomi
Bungkam Korea Selatan...
Bungkam Korea Selatan 2-0, Yordania Melenggang ke Final Piala Asia 2023
Susul Singapura, Korea...
Susul Singapura, Korea Selatan Masuk Jurang Resesi
Nuansa Khas Korea Selatan...
Nuansa Khas Korea Selatan di Pusat Perbelanjaan
Mendunia, tapi Drakor...
Mendunia, tapi Drakor dan Kpop Tak Mampu Selamatkan Ekonomi Korsel
Berita Terkini
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
6 menit yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
40 menit yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
1 jam yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
1 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
2 jam yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
3 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved