Pengusaha dan DPR Dukung Mendag Lobi China Cabut Pembatasan Impor

Sabtu, 20 Juli 2019 - 06:38 WIB
Pengusaha dan DPR Dukung...
Pengusaha dan DPR Dukung Mendag Lobi China Cabut Pembatasan Impor
A A A
JAKARTA - Pemerintah melalui Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, memulai serangkaian langkah untuk melobi China, dalam upaya mendongkrak ekspor nasional. Enggar yang langsung pergi ke China menawarkan komoditas minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), buah-buahan dan sarang burung walet. Langkah Mendag itu pun mendapat apresiasi dari kalangan asosiasi pengusaha dan DPR.

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, mengatakan langkah Mendag Enggartiasto sangat penting untuk meningkatkan ekspor nasional.

"Kita sangat mendukung upaya yang dilakukan Menteri Perdagangan membuka pangsa pasar ekspor ke China. Sebab negara Tirai Bambu itu memiliki populasi mencapai 1,2 miliar, pangsa pasar yang punya prospek besar," kata Sarman kepada wartawan, Jumat (19/7/2019).

Lebih lanjut Sarman menilai, strategi pendekatan B to B (bisnis dengan bisnis) dan G to G (pemerintah dengan pemerintah) harus dilakukan, karena China juga memiliki kebijakan yang membatasi impor.

Selama ini, lanjutnya, Indonesia merasa bahwa transaksi perdagangan antara Indonesia dan China tidak seimbang. Artinya jauh lebih besar impor barang dari China daripada ekspor komoditi kita.

"Sudah saatnya kita lebih proaktif mencari peluang baru di China dengan produk-produk yang mereka sangat butuhkan dari Indonesia," kata Sarman.

Di kesempatan lain, Ketua Dewan Pertimbangan sosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, mengutarakan langkah Mendag sudah tepat dengan melobi China langsung. Menurutnya, Perdana Menteri China pernah berjanji akan membeli CPO lebih banyak dari Indonesia.

"Positif sekali karena menagih janji. Sekarang mungkin menteri kita datang menagih," kata Sofjan.

Namun, Sofjan melihat kendala dalam kelapa sawit karena harga yang ditawarkan Indonesia lebih mahal. Kendati demikian, Sofjan meminta pemerintah untuk terus berjualan agar produk-produk Indonesia bisa dibeli.

Kemudian untuk sarang burung walet, kata Sofjan, Indonesia semakin baik dalam kualitas dan mutu. Namun, saat ini tinggal mempercepat masalah internal agar ekspor sarang burung walet segera ada peningkatan.

"Biasanya sarang burung walet itu, Indonesia biasanya ekspor melalui Malaysia. Sangkar burung dari sini kita bisa ekspor langsung. Dulu ada kendala. Urusan kita tidak memberikan kualitas yang baik. Tetapi dulu sudah diselesaikan oleh Menteri Perdagangan," katanya.

"Sekarang mungkin ditagih lagi juga karena kebutuhan mereka akan burung walet banyak sekali. China banyak impor sarang burung walet," imbuhnya. Dia pun optimis pemerintah bisa mendapat USD 1 miliar dalam satu tahun dengan menggejot ekspor tiga komoditas tersebut.

Sedangkan pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, juga menilai keberangkatan Mendag untuk melobi langsung China memang diperlukan.

Namun demikian, ia berharap secara konsisten wakil-wakil Indonesia, baik duta besar, maupun atase-atase perdagangan secara konsisten melakukan mata-mata pasar. Heri juga mengatakan, demi memperbaiki neraca perdagangan dengan China, bisa saja Indonesia lebih selektif terhadap impor.

"Kita bisa kecilkan impor, secara bijaksana atau tidak serampangan. Produk-produk yang sebenarnya bisa kita bikin dan lebih efisien maka tidak perlu kita impor dari China," jelasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Abdul Aziz, menambahkan Mendag memang perlu upaya maksimal dan kreatif untuk memperbaiki neraca perdagangan. Perdagangan dengan China harusnya ditempatkan dalam konteks itu.

"Saya berharap Kementerian Perdagangan juga lebih gencar membuka pasar pasar yang baru. Intinya produk unggulan Indonesia, berbasis kekayaan alam, kita masih punya hasil tambang mineral nonlogam, batu kapur, zeolit, dan sebagainya," katanya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pemulihan Ekonomi, Sumedang...
Pemulihan Ekonomi, Sumedang dan DKI Jakarta Kerjasama Perdagangan
Bermitra dengan JICA,...
Bermitra dengan JICA, Kadin DKI Wujudkan Investasi dan Perdagangan dengan Jepang
Sama-sama Kontraksi,...
Sama-sama Kontraksi, Indonesia-Filipina Cari Jalan Keluar Bareng
Kemendag dan KBRI Canberra...
Kemendag dan KBRI Canberra Dorong Kerja Sama Perdagangan Bilateral
IA-Cepa Berlaku, Mendag...
IA-Cepa Berlaku, Mendag Pastikan Bea Masuk Dihapus
Andi Anzhar Resmi Jadi...
Andi Anzhar Resmi Jadi Calon Ketum Kadin Jakarta
Berita Terkini
Menguak di Balik Lawatan...
Menguak di Balik Lawatan Prabowo 1,5 Tahun, Seskab Teddy: BRICS hingga Investasi Rp2.430 Triliun
4 jam yang lalu
IHSG Awal Juni Diprediksi...
IHSG Awal Juni Diprediksi Rawan Koreksi, Investor Cermati Data Inflasi hingga Aturan DHE SDA
6 jam yang lalu
Menuju Debat Ketiga,...
Menuju Debat Ketiga, Hashtag SjafrieSAfiekalla Menggema di X
6 jam yang lalu
Paxel Sediakan Lounge...
Paxel Sediakan Lounge Logistik untuk Jastip di PRJ 2026
8 jam yang lalu
Pengusaha Respons Ekspor...
Pengusaha Respons Ekspor Sawit-Batu Bara lewat PT DSI: Minta Bertahap dan Kepastian Hukum
9 jam yang lalu
Kondisi Fiskal dan Moneter...
Kondisi Fiskal dan Moneter RI Disentil PDIP: Utang Harus Dibayar dengan Utang
11 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved